
Mobil Zidan memasuki halaman rumah Safa. Zidan menoleh ke belakang ternyata Willa sudah tertidur pulas. "Sepertinya dia kecapean." Safa menganggukkan kepala menanggapi ucapan kekasihnya.
"Terima kasih sudah mengantar aku pulang sampai ke rumah." Zidan mengangguk sambil mengulas senyum.
"Aku harap kamu tidak marah karena aku tidak bilang terlebih dahulu ketika ingin mengajakmu ke rumahku."
"Tidak apa aku hanya sedikit canggung pada keluargamu tapi lain kali kamu bilang dulu agar aku lebih siap."
"Biar aku saja yang gendong nanti kamu keberatan," kata Zidan.
Safa turun lebih dulu kemudian diikuti Zidan sambil menggendong Willa.
"Tidurkan saja dia di kamarnya."
"Kamu mau minum teh atau langsung pulang?" tanya Safa pada kekasihnya.
"Sebaiknya aku langsung pulang saja, bahaya jika aku terus berada di sini. Aku takut aku tidak bisa mengontrol diriku jika dekat-dekat dengan kamu," goda Zidan sehingga membuat wajah Safa bersemu merah.
"Aku pulang dulu," pamit Zidan.
Safa mengantar sampai ke depan pintu. "Hati-hati di jalan."
Zidan baru pertama kali mendengar Safa mengkhawatirkannya. Hatinya senang karena akhirnya Safa mau membalas cintanya. Zidan mengulum senyum.
Setelah itu Zidan masuk ke dalam mobil. Tak lupa dia melambaikan tangan ke arah Safa sambil menjalankan mobilnya. Safa membalas lambaian tangan Zidan. Laki-laki itu ingin sekali berjingkrak karena kegirangan.
"Yes, akhirnya dia membalas cintaku," ucapnya ketika berada dalam mobil. Saking senangnya dia bersiul dan berdendang.
Sebelum pulang ke rumah Zidan mampir ke sebuah toko perhiasan. Dia ingin membelikan sesuatu yang berharga untuk kekasihnya.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Sapa pelayan toko perhiasan tersebut dengan ramah.
"Saya ingin mencari sebuah kalung untuk kekasih saya," jawab Zidan.
"Baik tolong tunggu sebentar akan kami ambilkan koleksi terbaru kami."
Tak lama kemudian pelayan toko itu menunjukkan berbagai model kalung untuk Zidan.
"Saya pilih yang ini." Zidan menunjuk sebuah kalung yang simpel dengan bandul bentuk love dan mutiara di tengahnya.
Zidan menyerahkan kartu kredit tanpa limit yang ia miliki kepada pelayan toko perhiasan tersebut. "Akan kami bungkus. Mohon tunggu sebentar."
Setelah membeli perhiasan yang ingin diberikan kepada Safa, Zidan kembali ke rumah.
*
*
*
__ADS_1
"Zidan," panggil sang ibu ketika putranya itu tidak menyapa dirinya.
Zidan menoleh. "Maaf, Ma." Zidan meraih tangan ibunya.
"Dari mana aja?" Tanya Raina sambil mengintip sesuatu yang dibawa anaknya.
"Habis beli ini," Zidan menunjukkan sebuah paper bag pada ibunya.
"Cie... Hadiah buat dokter Safa ya?" Ledek Sofia yang melihat adiknya memegang sebuah paper bag merk perhiasan terkenal.
"Iya, dong. Zidan belum pernah kasih hadiah pada Safa. Mama mau lihat?"
"Apa boleh?" tanya Raina.
"Tentu saja," Zidan antusias menunjukkan perhiasan yang dia beli.
"Wah cantik sekali. Cocok buat dokter Safa," puji Sofia ketika melihat perhiasan itu.
"Aku harap dia menyukainya," kata Zidan.
"Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini?" Tanya Julian.
"Ah tidak ada apa-apa, Yah," Zidan menyembunyikan paper bag itu di belakang punggungnya.
"Apa itu Zidan?" Tanya Julian.
Zidan tidak menjawab pertanyaan ayahnya. "Zidan naik dulu, Ma." Dia berlari melewati tangga.
Zidan menyimpan paper bag itu di atas meja yang ada di kamarnya. Setelah itu dia mengambil ponselnya. Ia mengirim sebuah pesan ke nomor Safa.
Safa : Belum, kenapa?
Zidan : Sepertinya aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini?
Safa : Kenapa?
Zidan : Ingat terus sama kamu.
Safa mengulas senyum ketika membaca pesan dari Zidan. "Gombal."
Mereka pun berbalas pesan hingga Safa ketiduran. Zidan baru berhenti ketika Safa tak membalas pesannya lagi. Pasangan yang lucu bukan? hehehe
Keesokan harinya Safa bangun kesiangan. Dia mengerjapkan matanya ketika sinar matahari masuk ke dalam kamarnya.
Yang pertama kali dilihat adalah jam dinding. "Mati aku," umpatnya sambil berdiri meski nyawanya belum terkumpul sempurna saat melihat jam menunjukkan yang pukul setengah tujuh pagi.
Safa mencari-cari anaknya dia berlari menuruni tangga sambil memanggil nama Willa. Rupanya Willa tengah berada di depan rumah bersama Zidan.
Safa sangat malu karena dia masih memakai piyama ketika Zidan datang. Safa menyisir rambutnya dengan jari lalu mendekat ke arah Zidan.
"Kamu pagi sekali datangnya?" Tanya Safa malu-malu.
__ADS_1
"Ini hampir jam 07.00 tapi kamu belum siap-siap."
"Ah iya aku bangun kesiangan kalau gitu aku mandi dulu." Safa meninggalkan Zidan tapi ketika dia berada di dalam rumah Safa lupa kalau bila juga belum mandi.
Ketika dia ambil keluar dari pintu rumahnya terlihat Zidan sedang menggendong Willa. "Biar aku yang mandikan," kata Zidan sambil berlalu.
"Kamu kan sudah rapi, biar aku saja," tolak Safa yang merasa tidak enak.
Zidan mengulas senyum. "Tidak apa, Aku ingin belajar menjadi calon ayah yang baik untuk Willa."
Zidan dan Willa selesai lebih dulu kemudian Safa menuruni tangga. Zidan terperangah ketika melihat kecantikan Safa. Air liurnya hampir saja menetes. Sedangkan Safa merasa malu ketika mendapatkan tatapan dari Zidan.
"Ayo berangkat." Suara Safa membuyarkan lamunan Zidan. Zidan mengangguk. Lalu Willa berjalan di antara Zidan dan Safa.
"Dokter Safa itu calon suaminya ya?" Tegur ibu-ibu yang lewat di depan rumahnya ketika ia melihat Willa menggandeng tangan Zidan dan Safa secara bersamaan.
Safa hanya mengulas senyum ketika menanggapi omongan tetangganya itu. "Maaf Bu Retno kami berangkat dulu, saya sudah kesiangan," pamitnya.
Safa memasang sabuk pengamannya.
"Kalian sudah siap?" Tanya Zidan pada Safa dan anaknya. Mereka mengangguk dengan kompak.
"Bisakah kamu menolong aku membantu mencarikan sopir dan asisten rumah tangga untukku. Aku tidak sempat mencari pegawai baru untuk aku pekerjakan karena kesibukanku. Ah tapi kamu juga sibuk tapi bisakah kamu membantuku? Aku tidak memaksa kalau kamu tidak bisa." Safa sedikit gugup.
"Tentu saja bisa, aku memiliki banyak anak buah yang bisa aku perintah. Mereka akan mengerjakan apa yang aku suruh kamu tenang saja. Aku akan mencarikan sopir dan asisten rumah tangga untukmu. Padahal sebenarnya aku lebih suka kalau mengantar jemput kamu seperti ini."
"Tapi aku tidak mau merepotkanmu terus-menerus."
"Kenapa harus keberatan jika yang diantar adalah calon istri dan anakku sendiri."
Blush
Seketika jantung Safa berdebar kencang mendengar pengakuan Zidan. Zidan selalu bisa membuat hati Safa meleleh karena perhatian dan omongannya.
"Kalau boleh aku ingin menikah secepatnya denganmu," batin Safa yang tak ingin kehilangan laki-laki sebaiknya Zidan.
"Tentu saja boleh," jawab Zidan tiba-tiba.
Ucapan Zidan membuat Safa terkejut. Dia seolah bisa membaca pikirannya. Safa jadi bergidik ngeri.
Setelah mengantarkan Willa ke sekolahnya, Zidan lanjut ke rumah sakit tempat Safa bekerja. Sebelum Safa turun Zidan memberikan sebuah paper bag yang berisi perhiasan untuk Safa. "Ini untuk kamu."
"Ini kan..."
"Apa boleh aku memakaikannya di lehermu?"
Safa mengangguk lalu dia menyibak rambutnya. Zidan bisa mencium harum rambut Safa. Dia ingin sekali memeluk dan mencium wanita itu.
"Cantik seperti yang pakai," puji Zidan. Safa tersenyum malu-malu.
Safa mengucapkan terima kasih pada Zidan setelah itu Safa turun dari mobil.
__ADS_1
Kalian yang penasaran sama lanjutannya bisa nunggu dulu ya, sambil nunggu mampir ya ke sini