Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Itu Aki


__ADS_3

"Sofia, kamu tahu tidak di mana rumahnya?" Tanya Raina pada putri sulungnya. Sofia menggeleng.


"Maafkan Sofia, Ma. Sofia tidak tahu kalau hari ini anak dokter Safa diperbolehkan pulang," ucap Sofia tidak enak pada ibunya.


"Tidak apa-apa, ya sudah mama pulang ya." Sofia mengangguk.


*


*


*


"Mama dari mana?" Tanya Julian yang melihat istrinya baru turun dari mobil.


"Oh ini mau ngantar makanan buat calon cucuku tapi ternyata dia sudah pulang. Aku tidak jadi bertemu dengannya." Ada kesedihan di wajah Raina.


"Papa bukannya papa tahu ya rumah Safa?" Tanya Raina.


"Papa sudah lupa," elaknya.


"Mama nggak percaya papa sudah sepikun itu?" Ledek sang istri pada suaminya.


"Mama." Julian tidak terima pada perkataan istrinya.


"Habisnya papa bohong banget. Bukannya papa yang sering menyombongkan diri kalau ingatan papa itu masih kuat. Kenapa tiba-tiba jadi pelupa? Apa papa terkena demensia atau alzheimer? Papa ayo mama antar ke rumah sakit agar diperiksa oleh dokter," godanya pada sang suami.


"Hentikan, Ma." Julian sedikit kesal dengan istrinya.


"Kalau begitu ayo antarkan mama ke rumah Safa. Mungkin Zidan masih di sana saat ini," desak Raina.


"Baiklah, baiklah." Terpaksa Julian menuruti permintaan istrinya. Raina menahan senyum karena berhasil membujuk suaminya.


Sesampainya di rumah Safa, Julian dan istrinya turun dari mobil. "Bener ini Pa rumahnya?" Tanya Raina memastikan.


"Mama masuk saja untuk memastikan!" Perintah Julian pada sang istri.

__ADS_1


Lalu tanpa ragu Raina menekan bel gerbang rumahnya. Setelah itu Tarjo membukakan pintu. "Cari siapa?" Tanya Tarjo dengan sopan.


"Apa betul ini rumah dokter Safa?" Tanya Raina pada laki-laki itu.


"Betul. Ada keperluan apa mencari majikan saya?" Tanya Tarjo kemudian.


"Saya calon mertuanya, bolehkan saya masuk?" Julian membulatkan mata ketika mendengar istrinya dengan mudah mengakui dirinya sebagai calon mertua dari janda yang dia benci.


"Mama," tegur Julian.


"Apa sih, Pa? Kalau papa mau pulang, pulang saja tidak apa-apa nanti mama bareng sama Zidan. Tuh mobilnya masih ada di sana." Usir Raina secara halus. Terus terang dia tidak mau membuat suasana tegang di rumah Safa.


"Mama ngusir papa?" Kesal Julian. Sudah diantar malah diusir.


"Mama takut papa bikin keributan di rumah calon menantu mama," sebutnya dengan mudah.


"Tidak papa akan ikut masuk," tegas Julian.


Raina menahan tawa. "Baiklah tapi janji tidak ada keributan." Raina memperingatkan suaminya.


Zidan mendengar suara mobil yang baru datang dari luar rumah. "Sepertinya ada yang datang? Apa kamu janjian bertemu dengan seseorang di sini?" Tanya Zidan pada kekasihnya.


"Tidak mas, coba aku lihat dulu ke depan," balas Safa.


Setelah itu Safa membuka pintu dan dia terkejut ketika kedua orang tua Zidan berdiri di hadapannya.


Raina tersenyum ke arah calon menantunya. "Assalamualaikum," sapanya pada pemilik rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Safa dengan gugup.


"Boleh mama masuk?" Tanya Raina ketika Safa hanya mematung di ambang pintu.


"Oh iya silakan masuk."


Setelah itu Zidan terkejut ketika melihat kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah kekasihnya. "Kalian kenapa bisa ada di sini?" Tanya Zidan.

__ADS_1


"Mama ingin menjenguk calon cucu mama yang katanya sedang sakit," jawabnya.


"Lalu apa yang papa lakukan di sini? Apakah papa juga ingin menjenguk calon cucu papa seperti mama?" Tanya Zidan pada ayahnya.


"Papa hanya mengantar mama," jawabnya dengan ekspresi wajah datar.


"Mengantar saja? Kenapa tidak langsung pulang?" Ledek Zidan.


Safa yang melihat ketegangan di antara Zidan dan ayahnya memilih melerai. "Mas Zidan ajak mereka duduk, sementara aku buatkan minuman dulu," kata Safa.


"Tidak usah repot-repot nak. Mama boleh lihat anak kamu?"


"Sebentar, saya panggilkan dulu." Safa pun berlalu ke kamarnya.


"Sayang, di bawah ada orang tuanya papa ingin ketemu dengan Willa. Apa Willa mau menemui mereka?" Tanya Safa pada anaknya.


"Mau," jawabnya singkat lalu Safa menggandeng Willa turun bersamanya.


Raina tersenyum lebar ketika melihat anak kecil yang menggemaskan itu. "Apa kabar sayang?" Tanya Raina.


"Baik, Oma."


"Anak pintar," puji Raina lalu mengelus rambut panjang Willa.


"Oma buatkan kue yang lucu-lucu untuk.... Siapa namamu, Oma lupa," tanya Raina pada anak kecil itu.


"Namanya Willa, Ma." Zidan mewakili Willa menjawab pertanyaan ibunya.


"Mama tanya sama dia bukan sama kamu." Safa menahan tawa ketika melihat kekasihnya diomeli sang ibu.


"Willa, mau salim tidak sama kakek?" Tanya Raina.


Willa menggeleng. Semua orang mengira dia menolak mencium tangan Julian. "Itu aki bukan kakek," kata Willa


Semua orang tertawa mendengar Willa memanggil Julian dengan sebutan aki. Sedangkan Julian sendiri tidak terima Willa menyebutnya aki.

__ADS_1


__ADS_2