
"Ehem." Suara deheman itu membuat Zidan dan Safa menoleh.
"Kalian lagi ngapain?" Tanya David yang memergoki mereka saat akan berciuman.
Safa menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya sedangkan Zidan tampak tenang.
"Eh, kamu baru pulang. Ayo masuk kita makan siang sama-sama." Safa menggandeng tangan David dan menyeretnya ke dalam. Zidan mengikuti dari belakang.
Willa melompat minta digendong. Zidan menangkapnya dengan cekatan. "Papa," panggil Willa.
"Cih, belum resmi," cibir David.
"Sebentar lagi," sanggah Zidan. "Willa mau kan tinggal serumah sama papa?" Tanya Zidan pada anak kecil yang sedang digendongnya itu. Willa mengangguk cepat.
"Kapan, Pa?" Tanya Willa polos.
"Nanti setelah papa nikahin bunda," jawab Zidan dengan percaya diri. Wajah Safa merah mendengar omongan Zidan pada anaknya.
"Lamaran resminya belum." Lagi-lagi David menunjukkan rasa tak sukanya pada Zidan.
"David," Safa menegur sang adik agar lebih sopan pada calon kakak iparnya.
"Kak, jangan mau dikadalin laki-laki seperti dia. Dia itu penuh bujuk rayu."
Safa menarik tangan David dan membawanya menjauh dari Zidan. "Kamu sadar nggak sih sama omongan kamu. Bisa nggak sih difilter dulu kalau ngomong? Ada Willa."
David memegang kedua bahu Safa. "Aku hanya tidak ingin kakak gagal lagi dalam berumah tangga," ucapnya protektif.
"Lalu sampai kapan kakak menjanda? Harus dengan siapa lagi kakak menikah?" Tanya Safa pada David.
"Aku akan carikan laki-laki buat kakak."
"Baik untukmu belum tentu baik bagiku," tolak Safa.
Bahu David meluruh. "Kakak aku peduli sama kakak."
"Aku tahu. Tapi caramu ini salah dengan tidak membiarkan kakak memilih pasangan hidup kakak sendiri. Bukankah aku yang akan menjalani kehidupanku? Kakak hargai kebaikan kamu tapi ini pilihan kakak."
__ADS_1
David terdiam sejenak. "Baiklah, aku terima keputusan kakak. Tapi kalau sampai dia menyakiti kakak, aku tidak akan segan untuk menghabisinya," ancam David.
"Hush, hati-hati kalau ngomong. Sudah ayo kita makan bersama," ajak Safa.
"Aku akan cari tahu tentang kamu agar kamu bisa menerimaku sebagai kakak ipar," batin Zidan saat menatap David.
Begitu juga dengan David saat menatap Zidan. "Awas saja kalau aku menemukan kamu bersama cewek lain, akan kupastikan kamu tidak bisa menemui kakakku selamanya," ucapnya dalam hati.
*
*
*
Willy datang ke rumah sakit untuk mengantar barang Willa yang ketinggalan.
"Dokter Selly," panggilnya saat melihat sahabat mantan istrinya itu berjalan sendirian.
"Ada apa?" Tanya Selly.
"Oh dia sudah pulang. Hari ini memang jadwal prakteknya sudah selesai lebih awal. Apa yang anda pegang itu?" Tanya Dokter Selly.
"Ini barang Willa. Saya berniat menitipkan pada ibunya. Tapi kalau dia sudah pulang ya sudah besok saja," jawab Willy.
"Kenapa tidak langsung ke rumahnya saja?" Tanya Selly.
"Tidak, David pasti tidak akan mengizinkanku mendekati kakaknya lagi. Lagi pula saat ini pasti Zidan ada di rumah Safa."
Tampak kesedihan di wajah Willy. Selly bisa merasakannya. "Ya sudah saya permisi," pamit Selly. Namun, ketika dia baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba hak sepatunya patah. Hampir saja wanita yang rambutnya dikuncir kuda itu terjatuh. Beruntung Willy menangkap tubuh Selly yang terhuyung ke samping.
"Terima kasih." Selly merasa canggung begitu pula dengan Willy. Dia bangun lalu berjalan cepat meninggalkan Willy. Sedangkan Willy menuju ke parkiran mobil.
Willy memegang jantungnya yang berdebar saat tak sengaja memegang tangan Dokter Selly. "Ada apa denganku?" Tanyanya pada diri sendiri.
Dia mencoba mengabaikan perasaannya. Lalu Willy menjalankan mesin mobil meninggalkan area rumah sakit.
*
__ADS_1
*
*
"Kak aku mau bicara," kata David pada Safa.
"Willa main dulu ya di kamar," perintah Safa pada putrinya. Willa mengangguk patuh.
"Bicaralah!" Perintah Safa pada David.
"Apa aku boleh tahu kapan kakak mengenal Zidan?" Tanya David penasaran. Sejujurnya kakaknya itu tipe wanita yang sulit untuk didekati. Namun, setelah dia melihat kemesraan antara Safa dan Zidan dia jadi penasaran.
"Saat itu dia mengalami kecelakaan karena menghindari Willa yang sedang menyeberang sembarangan. Awalnya aku tidak tahu identitasnya."
"Kok bisa? Apa dia buronan atau apa?" Sela David. Safa menjadi kesal.
"Dengerin dulu!"
"Dia mengalami amnesia setelah kecelakaan. Polisi tidak bisa menemukan KTP atau ponselnya karena pada saat itu mobilnya sampai terbakar. Lukanya sangat parah bahkan wajahnya sampai rusak. Lalu aku mengoperasi wajahnya karena aku merasa bertanggung jawab sebagai wali anakku."
David tercengang ketika mendengar kisah pertemuannya dengan Zidan. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya hingga kalian bisa pacaran?"
Safa memutar kembali ingatannya. "Aku menampungnya setelah dia keluar dari rumah sakit dan kupekerjakan sebagai sopir Willa saat itu. Terus terang semenjak dia tinggal di sini pekerjaanku mengurus Willa lebih ringan. Willa sangat menurut padanya padahal terhadap ayahnya saja dia suka membangkang."
"Kapan ingatannya kembali?" Tanya David.
"Aku tidak tahu pasti. Yang jelas ada beberapa orang yang mencari anggota keluarganya tapi saat itu mereka tidak mengenali Mas Zidan sebab wajahnya sudah berubah. Lalu mereka mencari tahu dan menanyakan padaku. Pada waktu itu, orang tuanya belum percaya hingga dilakukan tes DNA."
"Wow, seperti cerita dalam film saja."
"Emm bahkan kalau diangkat novel juga pasti banyak yang baca."
"Baiklah, aku percaya pada kakak. Semoga saja pilihan kakak kali ini tidak membuat kakak menyesal di kemudian hari. Aku sebagai adik hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kakak," kata David mendalam. Dia sangat peduli pada kakaknya itu.
Dulu Safa sangat terpuruk pada awal perceraiannya dengan Willy. Namun, seiring berjalannya waktu Safa bisa menyesuaikan diri. Dia bisa melupakan laki-laki yang sudah mengkhianati pernikahan mereka.
Setelah dua tahun menjanda akhirnya Safa menemukan jodohnya. Tentu saja David senang tapi sekaligus was-was karena takut kakaknya akan tersakiti lagi. Tapi dia tidak berhak mengatur hidup kakaknya. David hanya berharap kakaknya bahagia bersama pasangannya.
__ADS_1