Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Tertangkap


__ADS_3

Leo mengemudi dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat. Sesampainya di sana, Leo melihat ke sekeliling tapi tak menemukan Zidan. Lalu dia menemui dokter Safa di ruangannya.


Ketika dia sedang berjalan menuju ke ruangan Safa, Leo bertemu dengan Sofia. "Leo ngapain ke sini?" Tanya Sofia heran.


"Aku mencari dokter Safa," bohongnya padahal target sebenarnya adalah Zidan.


"Owh ruangannya di sana." Tunjuk Sofia.


"Oke terima kasih." Leo menepuk bahu Sofia. Sofia tertegun sejenak.


Leo berpapasan dengan Safa ketika dia sampai di depan ruangannya. "Ah, pak Leo ada apa kemari?" Tanya Safa.


Leo clingak-nglinguk. "Apa Pak Zidan tidak menemui anda?" Tanya Leo pada Safa. Safa menggelengkan kepalanya.


Leo mengerutkan keningnya. "Boleh saya bicara dengan anda sebentar?" Tanya Leo meminta waktu Safa.


"Mari kita bicara di ruangan saya," ajaknya.


"Ada apa sebenarnya Pak Leo? Apakah ada sesuatu penting yang ingin anda bicarakan dengan saya?" Tanya Dokter Safa.


"Jadi kedatangan saya kemari sebenarnya mencari Pak Zidan yang kabur dari pengawasan saya," akunya.


"Kabur? Kenapa harus diawasi?" Tanya siapa tidak mengerti.


"Setelah kejadian semalam Pak Julian meminta saya untuk selalu berada di samping pak Zidan. Untuk sementara waktu bisakah anda menjaga jarak terlebih dahulu dengan Pak Zidan. Ini untuk kebaikan anda juga karena saya tidak mau Pak Julian berbuat sesuatu yang dapat merugikan anda."


"Merugikan?" Safa benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Leo.


Tak lama kemudian Zidan sampai di rumah sakit. Usai membayar taksi dia langsung menuju ke ruangan dokter Safa. Zidan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu. Namun, dia terkejut ketika melihat Leo sedang duduk berhadapan dengan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Leo?" Panggil Zidan. Tangannya mencengkeram pegangan pintu dengan erat.


Zidan menarik ujung bibirnya. "Ternyata kamu sangat cerdik Leo. Aku kira aku bisa membohongimu," kata Zidan.


"Sebaiknya kita pulang Pak sebelum Pak Julian mengetahui perbuatan anda."


"Berikan aku kesempatan untuk berbicara sebentar dengan kekasihku Leo! Aku mohon hanya untuk kali ini saja." Leo pun mengangguk.


Leo pun memberikan kesempatan kepada Zidan dan Safa untuk berbicara berdua dia keluar dari ruangan itu.


"Maafkan aku, Mas. Gara-gara aku, kamu mendapatkan hukuman dari ayahmu," ucap Safa sambil menunduk karena merasa bersalah.


Zidane mengangkat dagu Safa lalu menciumnya. Safa menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa harus minta maaf kalau kamu tidak salah ini hanya perkara orang tuaku yang terlalu keras kepadaku. Mungkin sementara waktu ini kita tidak bisa bertemu seperti sebelumnya. Ayahku meminta Leo dan para bodyguard-nya untuk mengawalku kemanapun aku pergi."


"Ya, Leo sudah bilang padaku," jawab Safa.


"Aku pulang dulu." Ada rasa tidak rela ketika Zidan berpamitan dengan Safa. Ketika dia akan meninggalkan ruangan Zidan kembali mencium bibir Safa dengan lembut. Safa membalasnya karena dia anggap ini sebagai ciuman terakhirnya.


"Ehem." Suara deheman itu membuat keduanya melepas pagutannya.


"Mari Pak kita pulang sekarang!" Pinta Leo pada atasannya.


Safa menjatuhkan pantatnya dengan kasar. Lalu dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Dia menangis.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya. "Masuk!" Ucapnya dengan lirih.

__ADS_1


Dokter Sofia masuk ke ruangan dokter Shafa. "Bisa bicara sebentar?" Tanya Sofia. Dokter Safa mempersilakan wanita berhijab itu masuk.


"Mungkin sementara ini Zidan dilarang bertemu dengan anda, Dok. Ayah saya orang yang tegas. Saya harap anda memaklumi." Sofia berbicara dengan lembut.


"Saya mengerti posisi saya, Dok." Safa tahu jika Julian menentang hubungannya dengan putranya karena status janda yang disandangnya.


"Saya dan mama mendukung. Bersabarlah pasti ada cara untuk meluluhkan hati ayah. Kami akan bantu kalian untuk bersatu. Anda tahu Zidan belum pernah sebahagia ini setelah bertahun-tahun patah hati."


"Patah hati?" Tanya Safa.


"Iya, masa lalunya. Dia naksir seorang gadis tapi cintanya bertepuk sebelah tangan hingga dia memutuskan untuk sekolah di luar negeri hanya untuk menyembuhkan patah hatinya," jawab Sofia.


Safa jadi penasaran siapa wanita yang begitu dicintai Zidan di masa mudanya dulu.


*


*


*


Leo berhasil membawa kembali Zidan ke kantor. "Jadi kamu berusaha kabur?" Sindir sang ayah ketika berada di ruangannya.


Zidan tersenyum sinis. "Aku kabur? Ayah becanda. Aku hanya menghindar dari kalian. Ayolah Yah. Kenapa ayah begitu kejam padaku. Apa ayah ingin membuat anakmu ini jadi perjaka tua?"


Julian melirik tajam ke arah Zidan. "Jika itu maumu, aku tidak keberatan," tantang Julian.


"Mana mungkin aku melewatkan masa mudaku hanya dengan bekerja. Uang banyak untuk diri sendiri tak akan habis, Yah."


"Kau ini selalu menjawab jika aku sedang menasehatimu." Julian yang kesal kemudian keluar dari ruangan Zidan.

__ADS_1


"Jangan sampai lengah Leo. Aku tidak mau dia bertemu lagi dengan wanita itu," ucap Julian pada asisten pribadinya. Leo mengangguk paham.


Zidan yang kesal dengan keputusan ayahnya menendang kursi. Dia juga membuang apa saja yang ada di mejanya. "Kenapa di saat aku menemukan wanita yang kucintai orang tuaku malah tidak merestui," teriaknya kesal.


__ADS_2