
"Pulang kamu!" Julian menarik tangan Zidan agar mengikutinya.
"Ayah, aku bukan anak kecil yang bisa diseret pulang. Tidak lihatkah ayah? Safa belum sadar," ucap Zidan dengan penuh penekanan.
"Biarkan asisten rumah tangganya yang mengurus. Kamu mau diseret lagi ke rumah kepala RT?" Tanya Julian agar Zidan merenungkan omongannya.
"Biarkan saja aku memang ingin segera menikah dengannya," jawab Zidan.
"Cukup dengan omong kosongmu itu Zidan. Sampai kapan pun aku tidak akan merestui hubunganmu dengannya. Leo bawa Zidan keluar!" Leo mengangguk patuh.
Lalu dua orang bodyguard memegangi tangan Zidan. Willa dan Tumini hanya diam menyaksikan apa yang mereka lihat. Julian sekilas melirik ke arah Willa. Dia sebenarnya kasian tapi gengsinya lebih besar dari rasa ibanya terhadap anak kecil itu.
Sesampainya di rumah Julian memerintahkan Leo untuk mengunci Zidan di kamarnya. "Ayah, keluarkan aku!" Zidan berteriak sambil menggedor pintu.
"Jangan ada yang membukakan pintu untuknya!" Julian memperingatkan semua orang yang tinggal di rumahnya.
Raina mengikuti suaminya. "Ayah, tidakkah ayah terlalu keras pada Zidan?"
Tiba-tiba Julian menghentikan langkahnya. "Mama, kali ini Zidan sudah keterlaluan, Ma. Dia membuat malu nama keluarga kita."
"Memangnya apa yang telah dia perbuat sampai ayah menghukumnya?" Tanya Raina pada suaminya.
Julian ragu untuk menceritakan apa yang terjadi pada Zidan dan Safa tadi. Istrinya pasti akan syok jika mendengar apa yang dia bicarakan. "Sudahlah aku tidak mau membuat mama khawatir. Lebih baik mama istirahat sekarang," ucapnya dengan nada lembut pada istrinya.
"Aku mohon, Yah. Zidan itu anak kita. Jangan perlakukan dia dengan kasar," mohon sang istri.
"Iya, Ma. Ini hanya sementara saja agar dia merenungkan kesalahannya."
Keesokan harinya Safa terbangun setelah wajahnya terkena pantulan cahaya yang masuk ke dalam kamarnya.
"Ah sudah siang." Safa turun dari atas ranjang dan mencari keberadaan anaknya.
"Willa mana mbak Tum?" Tanya Safa panik.
__ADS_1
"Dia sudah berangkat ke sekolah sama Mas Tarjo, Bu," jawab Tumini.
Lalu Safa melihat jam dinding. "Astaga aku kesiangan." Dia pun menaiki tangga sambil berlari. Karena tak sempat mandi, Safa hanya cuci muka lalu ganti baju. Setelah itu dia turun. "Mbak saya berangkat ya," pamitnya pada Tumini.
"Nggak sarapan dulu, Bu?" Tanya Tumini. Safa hanya melambaikan tangan tanda bahwa dia tidak sempat.
Sementara itu Julian meminta Leo mengawal Zidan kemanapun dia pergi. "Mulai sekarang awasi dia. Jangan sampai lengah. Aku tidak mau dia mendekati janda itu lagi," perintah Julian dengan tegas pada asisten pribadinya. Leo mengangguk patuh.
Zidan mengepalkan tangannya. "Sialan. Aku tidak bisa menemui Safa dengan bebas," umpat Zidan dalam hatinya.
Leo pun membukakan pintu mobil untuk Zidan. Setelah itu Leo masuk ke dalam mobil. Dia yang menyetir hari ini. "Leo tidak bisakah kamu bekerja sama denganku?" Zidan mencoba membujuk Leo.
"Maaf Pak. Saat ini saya tidak bisa melawan ayah anda," jawab Leo. Zidan mengacak rambutnya karena kesal.
"Kamu tidak tahu rasanya jatuh cinta Leo," protes Zidan. Leo hanya tersenyum tipis.
Setelah turun dari mobil, Leo dan dua orang bodyguard mengikuti Zidan kemana pun dia pergi. "Apa kalian ingin mengikutiku sampai ke toilet juga?" Tanya Zidan pada Leo dan bodyguardnya. Ketiga laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu menunduk.
Zidan masuk ke dalam toilet karyawan. Lalu karyawan-karyawan yang berada di dalam sana keluar setelah Zidan masuk kecuali seorang office boy yang bertugas membersihkan toilet.
"Ahmad, Pak," jawabnya dengan gugup.
"Ayo bertukar pakaian!" Ahmad terkejut dengan permintaan Zidan.
"Tidak usah kebanyakan mikir!" Zidan mulai membuka setelan jas dan kemejanya. Dia juga menyuruh Ahmad membuat seragam office boy miliknya.
Setelah itu untuk menyempurnakan penyamaran, Zidan mengambil topi yang terletak di atas wastafel.
"Kamu jangan keluar sebelum orang-orang yang di luar itu pergi." Zida memberikan peringatan pada Ahmad. Laki-laki itu mengangguk patuh.
Lalu Zidan mengambil ember dan peralatan milik Ahmad. Dia keluar dengan berjalan menunduk. Leo dan dua orang bodyguardnya tak mengenali Zidan saat dia keluar.
Setelah berhasil kabur, Zidan memanggil taksi. Sedangkan Leo yang merasa curiga karena anak bosnya tidak kunjung keluar, akhirnya memerintahkan salah seorang bodyguardnya untuk memeriksa ke dalam.
__ADS_1
Dia tidak menemukan siapa pun di dalam sana. Lalu dia memeriksa seluruh kamar mandi. Ketika mendapati satu kamar kecil yang terkunci, bodyguard itu mengetuk dengan sopan.
"Pak, apa anda di dalam?" Tanyanya dari luar. Saat tidak mendapatkan jawaban bodyguard itu melapor pada Leo.
"Pak sepertinya pak Zidan mengalami sakit perut. Saya menemukan satu kamar kecil yang terkunci." Leo mengerutkan keningnya. Lalu dia masuk dan memeriksa sendiri.
Tok tok tok
"Pak apa anda sakit perut?" Tanya Leo. Sedangkan orang yang berada di dalam kamar kecil tersebut sudah berkeringat dingin.
Merasa curiga lalu Leo menyuruh bodyguardnya untuk mendobrak pintu. Leo melihat seseorang yang mengenakan baju Zidan.
"Siapa kamu?" Tanya Leo.
"Saya, saya...." Ucapnya dengan terbata. "Ampuni saya, Pak. Saya hanya disuruh untuk berganti pakaian," akunya.
Lalu Leo menyadari bahwa laki-laki yang mengenakan seragam office boy tadi adalah Zidan. "Kalian cari laki-laki yang mengenakan seragam office boy tadi sampai ketemu!" Perintah Leo pada dua orang pengawalnya. Keduanya mengangguk patuh.
Leo berpikir Zidan akan menemui kekasihnya di rumah sakit. Oleh karena itu, dia menuju ke parkiran mobil untuk menyusul Zidan ke rumah sakit.
*
*
*
Zidan mampir ke sebuah toko pakaian sebelum dia sampai di rumah sakit. Di sana dia membeli pakaian yang layak. Lalu membuang seragam office boy itu.
Zidan menghampiri Safa yang ada di ruangannya. Namun, dia terkejut ketika melihat Leo sedang duduk berhadapan dengan kekasihnya itu.
Apa reaksi Zidan?
Ikuti kelanjutannya di episode berikutnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir bawa bunga ya 🙏