Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Selly mencari pasangan


__ADS_3

Safa terkejut ketika Selly memukul bahunya dari belakang. "Baru datang?" Tanya Selly pada sahabatnya itu. Safa hanya mengangguk.


"Kamu kelihatannya senang sekali hari ini," kata Selly saat memperhatikan wajah Safa secara sekilas.


"Mas Zidan mau melamar aku secara resmi," jawab Safa.


"Oh ya? Apa dia sudah bertemu dengan orang tuamu?" Tanya Selly penasaran.


"Sudah kemaren," jawab Safa.


"Jadi kapan lamaran kalian?" Tanya Selly lebih lanjut.


"Besok." Jawaban Safa membuat Selly terkejut. Wanita itupun menghentikan langkahnya sejenak.


"Apa tidak terburu-buru?" Tanya Selly.


"Memangnya kenapa? Bukankah aku sudah lama berpacaran dengan Mas Zidan. Apa salahnya jika dia melamar besok?" Tanya Safa tak mengerti.


Selly memicingkan mata lalu berjalan mendahului Safa. "Kamu tega membiarkan aku datang ke acaramu seorang diri tanpa pasangan?" Tanya Selly kesal.


Safa jadi terkekeh mendengarnya. "Kirain apaan? Bukannya kamu sudah punya pacar?" Tanya Safa.


"Belum, baru TTMan doang. Aku bahkan belum pernah kopi darat dengannya." Ucapan yang keluar dari mulut Selly membuat Safa terkekeh.


"Kamu sudah cek keaslian foto profilnya?" Ledek Safa.


"Memangnya kenapa?" Tanya Selly tidak mengerti.


"Kamu ini, bisa aja kamu kena tipu. Yang difoto ganteng tahunya yang asli gendut," ledek Safa sambil terkikik.


"Sialan Lo, nyumpahin gue?" Kesal Selly.


Safa merangkul bahu sahabatnya. "Bukan begitu, aku nggak mau aja temanku yang cantik ini dikadalin sama cowok," ucapnya menghibur Selly sambil mencolek dagunya.


"Nggak akan. Selly bisa membedakan mana cowok yang baik mana cowok yang jelek. Eh maksud aku cowok nggak baik. By the way nanti kalau aku nggak punya pasangan, boleh nggak jadi adik ipar?" Rengek Selly sambil menarik kemeja Safa.

__ADS_1


"Idih, yang ada kamu tuh cocoknya jadi Tante aku," ucap Safa sambil memukul bahu Selly pelan.


"Nggak apa-apa kalau omnya situ ganteng."


"Sayangnya omku tu botak karena kebanyakan mikir," jawab Safa.


"Idih, nggak mau kalau gitu," tolak Selly sambil bergidik ngeri.


"Eh gitu-gitu juga dia professor tahu."


"Bodho amat, kalau nggak bisa dipamerin bukan kriteria aku." Safa hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat tingkat konyol sahabatnya itu.


Selly jadi berpikir untuk melakukan kopi darat dengan temannya di dunia maya. Dia pun mengirimkan pesan pada temannya itu guna mengajaknya ketemuan di sebuah restoran dekat tempatnya bekerja.


Tiba saatnya jam istirahat Selly berjalan cepat menuju ke parkiran. "Sel, mau kemana?" Teriak Safa memanggil sahabatnya. Wanita itu tidak menjawab tapi dia hanya melambaikan tangan ke arah Safa.


Drrtt drrtt


Sebuah pesan masuk ke handphone Selly ketika sedang menyetir mobil.


Begitulah isi pesan yang masuk ke handphone Selly. Tapi Selly belum membukanya. Saking antusiasnya bertemu dengan calon pacarnya, Selly berpikir untuk langsung menelepon laki-laki itu ketika sudah sampai di restoran.


Tak butuh waktu lama, Selly tiba di resto tempat mereka janjian. Selly mengeluarkan handphonenya. Namun, dia tak membuat pesan melainkan langsung menelepon teman kencannya.


Mereka bertemu di lantai dua restoran tersebut. Tidak banyak pengunjung yang menempati lantai dua. Lalu Selly menelepon laki-laki itu sebelum menaiki tangga. Dia berjalan sambil memegang telepon. Selly tak memberitahu saat ia sudah sampai. Dia berniat untuk melakukan adegan ketika seorang wanita berjalan menuju ke tempat pasangannya sambil menelepon. Supaya pasangannya merasa kedatangan wanita itu menjadi kejutan tersendiri.


Namun, bukannya laki-laki itu yang terkejut melainkan Selly terkejut ketika mengetahui panggilan itu tertuju pada laki-laki bertubuh tambun dan berkulit gelap.


Saking terkejutnya Selly menurunkan tangannya. "Oh my God." Dia buru-buru mematikan telepon lalu bersembunyi di bawah meja. Ketika dia ingin kabur, laki-laki itu menatapnya curiga. Setelah itu, seorang laki-laki tampan duduk di meja itu.


"Dokter Selly, apa yang anda lakukan?" Tanya Willy.


"Sstt." Selly meminta agar Willy diam. Lalu dia menoleh ke arah teman kencannya. Willy menyadari ada yang aneh di antara sahabat mantan istrinya itu dengan laki-laki yang duduk dua meja di depannya.


Teman kencan Selly tiba-tiba menghubungi nomor Selly karena merasa khawatir karena teleponnya terputus. Selly lupa membuat handphonenya dalam keadaan mode terbang sehingga laki-laki itu bisa mendengar suara yang bersumber dari handphone milik Selly.

__ADS_1


"Mati aku, mati aku." Selly terlihat ketakutan. Lalu Willy mengambil handphone Selly dan menekan tombol warna merah untuk mengakhiri panggilan.


"Keluarlah!" Perintah Willy pada Selly.


"Kamu gila? Aku tidak mau berkencan dengan laki-laki sejelek dia," ucapnya keceplosan sampai menutup mulutnya sendiri. Willy mengulas senyum melihat tingkah Selly yang dianggapnya konyol.


"Dia tidak akan meneleponmu lagi," ucap Willy.


Selly malah mengerutkan keningnya karena tak mengerti dengan maksud mantan suami sahabatnya itu.


Wily mendekatkan wajahnya. "Aku sudah membuat handphonemu dalam mode terbang," bisik Willy. Selly tersenyum lega mendengarnya.


Karena merasa menunggu lama akhirnya laki-laki yang hampir saja menjadi teman kencan Selly keluar dari restoran itu. Selly bernafas lega setelah melihatnya turun.


"Terima kasih," ucap Selly dengan canggung pada Willy. Setelah itu Selly berdiri hendak meninggalkan restoran.


"Anda yakin dia tidak sedang menunggumu di bawah?" Seru Willy.


Selly kembali duduk di depan Willy. Mantan suami Safa itu diam-diam mengulas senyum tipis. "Mau makan?" Tanya Willy sambil menyodorkan menu makanan yang sedang dia pegang.


Selly mengeglengkan kepalanya. Selly duduk degan resah. "Kira-kira dia sudah pergi apa belum ya?" Tanya Selly meminta pendapat Willy. Willy hanya menggedikkan bahunya.


"Sial, dengan siapa aku harus pergi ke acara lamaran Safa?" Gumam Selly akan tetapi Willy bisa mendengarnya.


Willy pun meletakkan sendok yang ia pegang. "Apa betul mereka akan bertunangan?" Tanya Willy memastikan. Selly hanya mengangguk. Willy mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Selly ketika melihat wajah Willy berubah. Willy mencoba tersenyum pada Selly. Tapi Selly bisa merasakan jika Willy sangat sedih mendengar kabar mantan istrinya akan menikah dengan laki-laki lain.


Willy meneguk minumannya lalu berdiri. "Aku akan turun," ucapnya memberi tahu Selly. Selly pun berjalan mengikuti langkah Willy.


Ketika di depan pintu keluar, Selly melihat laki-laki yang bertubuh tambun tadi masih menunggu di sana. Jantung Selly kembali berdegup kencang. Dia takut ketahuan. Lalu Selly pun tiba-tiba melingkarkan tangannya di lengan Willy untuk mengelabuhi laki-laki itu.


Willy menoleh pada Selly. Selly memohon dalam diam seolah meminta Willy agar ikut berakting menjadi pasangannya. Willy tersenyum licik.


Saat tubuh Selly hampir saja menyenggol laki-laki itu, Willy menarik tubuh Selly dengan cepat hingga mereka saling berpelukan. Sejenak pandangan mereka terkunci. Jantung Selly berdegup kencang seolah ingin lari dari sarangnya.

__ADS_1


__ADS_2