Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Persiapan pernikahan


__ADS_3

"Sayang, aku mau ngomong sama kamu," kata Zidan sambil menggenggam tangan Safa.


"Mama ingin kita segera menikah."


"Apa tanggalnya sudah ditentukan?" Tanya Safa.


"Kira-kira sebulan lagi." Ucapan Zidan membuat Safa kaget. Bukan karena tidak ada persiapan tapi karena rumor yang beredar belum dilururskan.


"Hah, mereka akan semakin mengira aku benar-benar hamil di luar nikah," pikir Safa.


"Kenapa sayang? Kamu keberatan?" Tanya Zidan.


"Apa tidak terlalu terburu-buru, Mas?" Tanya Safa.


"Bukankah lebih cepat lebih baik?" Zidan meminta pendapat pada calon istrinya. Safa bingung harus bagaimana menjawabnya. Tapi dia tidak mau menyakiti kekasihnya itu.


"Terserah padamu, Mas." Zidan mengulas senyum mendengar jawaban Safa.


"Terima kasih sayang." Zidan mengecup kening Safa. "Aku harus kembali ke kantor," pamit Zidan setelahnya. Safa mengangguk.


Setelah itu Safa masuk ke dalam kamarnya. Dia membuang tasnya ke sembarang tempat. Lalu wanita itu merebahkan diri di atas ranjang.


"Mas Zidan mengajakku nikah di saat aku digosipkan hamil di luar nikah. Fix, mereka akan semakin menilai buruk diriku. Aaa... Kenapa bisa kebetulan begini sih?" Safa mengacak rambutnya sendiri.


Tok tok tok


"Masuk!" Ucap Safa dari dalam kamar.


"Bunda, apa bunda masih sakit?" Tanya Willa.


"Ada apa sayang?" Safa berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang anak.


"Aku lapar tapi pengen makan di luar," jawab Willa.


"Baiklah bunda antar." Safa mengambil tasnya lalu turun bersama Willa. Namun, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Di saat bersamaan seorang kurir datang membawa makanan.


"Makanan buat siapa, Mas?" Tanya Safa pada kurir tersebut.

__ADS_1


"Untuk Dokter Safa," jawabnya.


"Tapi saya tidak memesan makanan," tolaknya.


"Pesanan ini atas nama Pak Willy, Bu. Sayq hanya mengantarkan pesanan." Kurir itu memberikan paper bag pada Safa lalu pergi.


Willa melihat isinya. "Wow, donut dan roti kesukaanku," ucapnya antusias.


"Ayah baik ya, Bun."


"Sebaiknya kita masuk agar kamu tidak masuk angin." Willa menurut apa kata ibunya. Dia membawa masuk makanan yang diberikan oleh kurir tadi. Willa tampak sangat menikmatinya.


Dua minggu kemudian, Safa dan Zidan mulai sibuk mengurusi acara pernikahan mereka. Mulai dari memesan undangan, gedung, catering, baju dan lain-lain. Untungnya ada Raina yang menghandle semua pekerjaan itu.


Ibu Zidan itu sangat antusias ketika mempersiapkan pernikahan anaknya.


"Eh jeng Raina mau pesan baju juga di sini?" Tanya teman arisan Raina yang ditemuinya di sebuah butik kebaya.


"Iya," jawab Raina singkat. Tangannya masih memilah model baju yang sesuai dengan keinginannya.


"Katanya dapat janda beranak satu ya jeng?" Omongan temannya itu makin keterlaluan.


"Memangnya kenapa jeng?" Tanya Raina.


"Kok mau sih jeng? Kalau saya sih malulah sama teman-teman arisan yang lain," ucapnya dengan penuh percaya diri.


Raina tersenyum menanggapi omongan temannya itu. "Kalau saya sih bersyukur Jeng. Selain mendapatkan istri, anak saya juga mendapatkan seorang putri yang yang cantik. Selain itu saya tidak memandang statusnya. Yang penting dia wanita baik-baik dan tidak ada paksaan anak saya untuk menikahinya." Setelah itu Raina melenggang pergi.


"Huh, dasar. Dapat mantu janda saja blagu," umpat wanita itu.


Raina memasuki mobil lalu berniat menjemput Willa. Sesampainya di sekolahan Willa, ibu-ibu yang menjemput anaknya merasa heran melihat wanita yang masih cantik di usianya saat ini.


"Ibu mau jemput siapa?" Tanya salah seorang wanita yang sedang menunggu anaknya. Dia baru pertama kali melihat Raina. Meskipun Raina sering menjemput Willa tapi dia selalu menunggu di mobil. Namun, kali ini dia turun untuk menjemput calon cucunya.


"Saya neneknya Willa," jawab Raina ambil tersenyum.


"Anda orang tuanya Dokter Safa?" Tanya wanita itu sok kenal.

__ADS_1


Raina menggeleng. "Saya orang tua calon suaminya," jawab Raina dengan percaya diri.


Wanita itu membulatkan matanya tak percaya ketika mendengar Safa akan menikah lagi.


"Anda baik sekali mau menjemput Willa meskipun belum resmi jadi cucu anda. Bukankah biasanya ibu mertua itu tidak sebaik ibu kandung? Apalagi dia bukanlah darah daging anda." Wanita itu merasa kagum.


"Untuk itu saya datang ke sini. Saya akan patahkan image buruk tentang ibu mertua. Karena pada dasarnya tiap orang memiliki karakter yang berbeda. Jadi saya hanya akan meninggalkan kesan baik agar orang lain tidak menilai buruk saya sebagai ibu mertua."


"Oma," panggil Willa yang baru keluar. Dia berlari ke arah Raina. Namun, Willa terjatuh karena kurang hati-hati. Raina segera menghampiri anak kecil kesayangannya itu.


Ketika Raina akan menolong Willa, seorang anak laki-laki membantunya berdiri. "Makanya kalau jalan hati-hati," omelnya.


Raina mencoba mengenali anak laki-laki itu. "Zafier?" Tanya Raina memastikan.


Lalu seorang wanita cantik dengan memakai sepatu hak tinggi menghampiri anak laki-laki itu. "Tante."


"Sandra, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Raina yang mengenali istri keponakannya itu.


"Aku memindahkan Zafier ke sekolah ini," jawab istri dari sepupu Zidan yang bernama Alex.


"Wah kebetulan sekali, aku ingin mengenalkan cucuku," kata Raina yang mengakui Willa sebagai calon anak Zidan.


"Jadi Zidan akan menikah dengan seorang janda beranak satu?" Tanya Sandra.


"Tidak usah diperjelas gitu," cibir Raina.


"Maaf, Tante. By the way hari ini bawa mobil nggak? Biar aku antar sampai tempat tujuan."


"Ah tidak usah. Aku bawa sopir. Lain kali mampir ya ajak anakmu main ke rumah kami." Sandra mengangguk menanggapi ajakan Raina.


"Bagaimana pun aku masih menyimpan rasa kecewa ketika kamu menolak anakku," batin Raina.


"Ya sudah Tante, kami pamit duluan." Mereka meraih tangan Raina ketika berpamitan.


"Oma, siapa mereka?" Tanya Willa dengan polos.


"Mereka saudara Oma."

__ADS_1


__ADS_2