
Safa berjalan menuju ke ruangannya. Sepanjang jalan dia terus mengembangkan senyum. Hingga seseorang menyadari kalau sahabatnya itu tampak aneh.
Selly memukul bahu Safa. "Hai ngapain sih senyum-senyum sendiri? Tumben hari ini telat." Tanya dokter Selly pada sahabatnya.
Tanpa berbicara Safa menunjukkan kalung yang terpasang di lehernya. Selly langsung menutup mulutnya tak percaya. "Ah pacarmu itu bikin iri orang lain. Dia begitu romantis." Safa hanya tersenyum menanggapi omongan dokter Selly.
"Oh, ya nanti siang aku nebeng kamu ya," kata Safa.
"Lah enggak dijemput sama mas pacar?" Tanya Selly.
"Enggak, dia sibuk. Kasianlah kalau dia antar jemput aku, dia kan bukan sopir aku lagi," kata Safa.
"Iya, boleh. Tapi ada syaratnya," kata Selly.
"CK, syarat-syaratan segala. Apa syaratnya?" Tanya Safa penasaran.
"Kalung itu harus kamu berikan padaku," goda Selly sambil terkekeh.
"Enak aja. Ini tuh kalung berharga. Mana mungkin dikasih pada orang lain." Safa mempertahankan kalungnya.
"Iya iya aku cuma becanda kok," kata Selly sambil memeluk Safa. "Mana mungkin aku berani mengambil sesuatu yang berharga darimu tanpa izin."
Setelah itu mereka masuk ke ruang praktek masing-masing.
*
*
*
Zidan merasa mengantuk karena semalaman berbalas pesan dengan Safa hingga dia tidur larut sekali.
"Astrid, pesankan kopi untukku," perintah Zidan pada sekretarisnya.
"Baik, Pak. Bapak mau kopi rasa apa?" Tanya Astrid sebelum pergi.
"Pesankan saja cappucino," jawab Zidan sambil membuka laptopnya. Zidan mengecek pembukuan bulan ini. Ia mengerutkan kening ketika mendapatkan sesuatu yang janggal.
"Kenapa pendapatan bulan ini turun, harga saham juga kenapa bisa turun gini?" Geram Zidan lalu dia beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruangan bagian keuangan.
"Siapa kepala keuangan di sini?" Suasana tampak hening. "Suruh menghadap saya!" Kemudian Zidan kembali ke ruangannya.
Lalu sesaat kemudian Astrid masuk membawakan secangkir cappucino. Setelah itu disusul oleh seorang laki-laki bertubuh tambun. "Bapak memanggil saya?" Tanya kepala keuangan tersebut.
"Jelaskan kepada saya apa ini?" Zidan melempar sebuah berkas berisi pendapatan bulan lalu dan bulan ini yang mengalami kemunduran.
Astrid keluar, ia tak mau menyaksikan kemurkaan Zidan. "Trid bos lagi marahin kepala keuangan ya?" Tanya teman satu kantornya.
"Iya kali gue nggak mau denger, serem. Ganteng-ganteng gitu kalau marah dia kaya singa tau nggak. Gue aja nggak berani deket-deket sama si bos," akunya.
"Tapi denger-denger si bos punya pacar ya Trid?" Tanya temannya lagi.
Astrid mengangguk. "Kalau nggak salah dokter deh. Gue pernah lihat sekilas di handphonenya pakai seragam dokter gitu."
"Jadi dia cantik apa nggak?" Tanya temannya penasaran.
__ADS_1
"Gak gitu jelas pas gambarnya terbalik."
"Ehem," Zidan berdehem untuk memberitahu keberadaannya.
Astrid dan karyawan wanita itu kemudian berhenti ngobrol lalu kembali ke mejanya masing-masing. Kepala keuangan itu keluar dengan tampang pucat.
"Trid tolong kamu carikan sopir sama asisten rumah tangga, saya tunggu sampai besok kamu harus menemukannya!" Perintah Zidan dengan tegas pada Astrid.
"Baik, pak."
Zidan mengecek pergelangan tangannya. "Saya mau keluar sebentar jemput anak saya."
Ucapan Zidan membuat Astrid bingung. "Anak? Apa anak kecil yang diajak kemaren itu ya?" Astrid bertanya dalam hati.
Zidan berlalu begitu saja. "Ya ampun ya ternyata pacarnya pak bos itu janda," gumam Astrid setelah Zidan menjauh. Lalu Astrid menuju ke kubikel temannya.
"Eh elo tahu nggak, dokter yang jadi pacarnya pak bos itu ternyata janda beranak satu," kata Astrid.
"Masa sih?" Astrid mengangguk cepat.
"Wah beruntung sekali janda itu."
Julian bersama Leo datang berkunjung ke kantor Zidan. Dia mendengar karyawannya menyebut kata janda. "Siapa yang kalian bicarakan?" Tanya Julian dengan tegas.
Tak ada yang berani menjawab. Semuanya menunduk. Astrid segera kembali ke tempat duduknya.
"Trid pak Zidan ada di dalam?" Tanya Leo.
"Tidak ada, Pak. Sedang keluar," jawab Astrid gugup karena dia juga sedang membicarakan Zidan ketika atasannya datang.
"Katanya menjemput anaknya, Pak," jawab Astrid apa adanya.
Julian membulatkan matanya tak percaya Zidan begitu percaya diri mengakui anak kecil yang diajaknya kemaren sebagai anak di depan karyawannya.
"Hish anak kurang ajar itu, masa sudah go publik sebelum resmi." Julian merasa malu.
"Leo, kita kembali saja, aku sudah tidak punya muka di sini," putus Julian. Leo mengangguk.
Julian berjalan dengan langkah cepat. Leo mendahului ketika Julian dekat dengan mobil. Leo membukakan pintu untuk atasannya.
Julian mengena nafas. "Aku tidak terima dipermalukan oleh anakku sendiri. Leo apa kamu punya cara supaya hubungan mereka berakhir? Di depan karyawan saja aku sudah semalu ini karena anakku menyukai janda, apalagi di depan kolega bisnisku. Belum lagi keluargaku," gerutu Julian.
"Maaf, saya tidak ada ide, Pak." Terus terang Leo tidak ingin mencampuri urusan pribadi Zidan.
"Jalan Leo. Aku mau kembali ke kantor," perintah Julian pada Leo. Leo mengangguk patuh.
*
*
*
Usai praktek Safa melihat jam yang ada di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh pagi, Safa memutuskan untuk menghubungi gurunya Willa.
"Bu, bisakah pesankan taksi untuk Willa. Tolong kirim dia ke rumah sakit tempat saya bekerja, saat ini saya belum bisa jemput."
__ADS_1
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian Willy sampai di sekolah Willa. Will sedang menunggu jemputan di depan sekolah bersama gurunya.
"Selamat siang bu," Willy menyapa guru Willa.
"Willa ayo kita pulang," ajak Willy.
"Willa nggak mau pulang sama ayah," rengeknya.
Sesaat kemudian mobil Zidan berhenti. "Willa mau pulang sama papa Zidan aja." Willa pun berhambur ke pelukan Zidan.
"Willa pulang sama aku," Willy menarik tangan Willa.
Zidan melepas tangan Willy dari tangan anak kecil itu. "Dia tidak mau ikut denganmu jangan dipaksa," ucap Zidan dengan tatapan nyalang.
"Tapi aku ayahnya. Aku berhak membawanya." Willy menaikkan nada bicaranya.
"Tapi kamu memaksanya, dia jadi ketakutan." Zidan tidak mau mengalah.
Zidan dan Willy menempelkan dadanya mereka saling mencengkeram kerah kemeja masing-masing.
Guru Willa panik ketika melihat Zidan dan Willy saling pukul. Lalu dia menelepon Safa.
"Bu bagaimana ini?"
"Ada apa Bu?" Tanya Safa.
"Ayah Willa dan laki-laki yang pernah menjadi sopir anda bertengkar di depan sekolah."
"Apa?" Tanpa pikir panjang Safa ke ruangan Selly.
"Pinjem mobil." Safa menyambar kunci yang diberikan oleh Selly.
"Dia kenapa sih?" gumam Selly.
Safa mengendarai mobil secepat mungkin. Dia ingin sampai ke sekolah anaknya untuk menghentikan Zidan dan Willy berkelahi.
"Memalukan sekali," gerutunya sambil memukul setir mobil.
Willa menangis dengan kencang. Saat itu guru Willa tidak bisa meminta tolong pada siapa pun karena tidak ada seorang pun yang lewat di depan sekolah.
Sepuluh menit kemudian Safa menghentikan mobilnya di depan sekolahan. Dia buru-buru turun dari mobil.
"Berhenti."
*
*
*
Kira-kira bagaimana kelanjutannya.
Sambil nunggu aku up bisa baca novel yang satu ini ya
__ADS_1