
Safa memiliki rencana untuk memata-matai ibunya Willy. Kebetulan Willy masih dirawat di rumah sakit tempat Safa bekerja. Jadi Safa bisa memantau gerak-gerik ibunya Willy.
"Menyebalkan sekali, Kenapa dia tidak pernah membawa Willa? Siapa yang menjaganya?" gumam Syafa seorang diri.
"Apa kamu sedang mengawasi mantan mertuamu?" Tanya Dokter Selly.
"Ya seperti yang kamu lihat, dia belum mengaku di mana dia menyembunyikan anakku."
"Lalu apa rencanamu?" Tanya Dokter Selly.
"Aku akan mengikutinya. Aku harus bisa menemukan Willa. Aku sangat tersiksa ketika dia jauh dariku."
"Aku tidak menyangka mantan suami dan mertuamu itu keterlaluan sekali," ucap dokter Selly.
Willy belum ada perkembangan, dia masih terbaring lemah dan hingga saat ini dia belum sadarkan diri.
Ketika dokter Safa selesai praktek, dokter Safa sengaja menunggu sampai mantan mertuanya itu pulang. Setiap menjelang petang dia akan pulang ke rumahnya dan meninggalkan Willy pada suster di rumah sakit.
Safa mengikuti mobil taksi yang ditumpangi mantan mertuanya itu hingga ke rumahnya. Tapi dia tidak bisa mengamati lebih ketika wanita itu menutup pagar rumahnya.
Lalu Safa memutuskan untuk turun dari mobil. Dia mengintip dari pagar namun ketika dia akan membuka pagar itu ternyata pagar itu terkunci. Kemudian dia memutuskan bertamu secara baik-baik. Safa menekan bel pintu agar pemilik rumah membukakan pintu untuknya.
Mantan Ibu mertuanya terkejut ketika Safa berada di hadapannya saat ini. Wanita itu buru-buru menutup pagarnya kembali tapi dengan sekuat tenaga Safa menahannya. "Tolong jangan menghindar lagi! Katakan di mana Willa?"
"Dia tidak ada di sini," elaknya.
Lalu Safa mendorong dengan kuat dan menerobos masuk ke dalam rumah. Dia berteriak memanggil nama anaknya.
"Willa ini bunda nak, keluarlah sayangku."
Safa tidak menemukan keberadaan Willa, lalu dia mencari ke seluruh ruangan. Sebuah kamar terkunci. Safa menduga mantan ibu mertuanya itu menyembunyikan Willa di sana.
"Willa ini bunda sayang. Kamu ada di dalam?" Teriak Safa dari luar.
"Lancang kamu masuk ke dalam rumah saya tanpa seizin saya. Apa mau saya panggilkan warga supaya kamu diseret keluar," ancam ibu nya Willy.
"Saya tidak akan nekat kalau Ibu tidak menghalang-halangi saya untuk menemukan anak saya. Apakah dia ada di dalam? Katakan! Kalau memang dia di dalam kenapa anda menguncinya? Ini namanya penyekapan, saya bisa menuntut anda," ancam Safa.
"Jangan sembarang bicara kamu. Di dalam tidak ada siapa-siapa, ini hanya kamar gudang." Wanita itu berbohong pada Safa.
__ADS_1
"Kalau begitu buka biar saya percaya," sentak Safa.
Mantan Ibu mertuanya itu tidak mengizinkan Saraf membuka kamar itu. Safa berkelahi dengan wanita itu kemudian Safa merusak engsel pintu agar kamar tersebut bisa terbuka.
Ketika dia berhasil membuka dengan paksa, Willa tampak tak sadarkan diri. Tanpa menghiraukan ibu mertuanya Safa langsung menggendong anaknya menuju ke mobil.
"Lepaskan dia atau aku akan teriak kamu sebagai penculik."
"Mana ada ibu sendiri yang menculik anaknya? Yang ada anda yang sudah menyiksa dia hingga dia pingsan."
Safa berjalan menuju ke mobil, dia membaringkan anaknya di kursi penumpang bagian belakang. "Aku mohon bertahanlah sayang."
Ketika Safa tengah sibuk menyetir mobil ponselnya berbunyi kemudian dia mengangkat telepon menggunakan headset bluetooth.
"Sayang kamu di mana?" Tanya Zidan kepada kekasihnya.
"Mas aku sudah menemukan Willa. Aku sekarang menuju ke rumah sakit, dia kutemukan pingsan di rumah mantan mertuaku."
"Baiklah aku akan menunggumu di sana."
Kebetulan Zidan tengah berada di restoran yang tak jauh dari rumah sakit tersebut. Usai meeting dengan kliennya, Zidan langsung menuju ke rumah sakit. Dia sampai lebih dulu. Tak lama kemudian sebuah mobil SUV berwarna merah memasuki halaman rumah sakit.
Safa meminta salah seorang perawat untuk membawa anaknya agar diperiksa.
"Dia kenapa?" Tanya dokter jaga yang ada di UGD.
"Dia pingsan tapi aku tidak tahu kenapa," jawab Safa. Setelah itu Safa menunggu di luar sementara anaknya sedang diperiksa oleh dokter.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Safa khawatir.
"Saya rasa dia dehidrasi dan kekurangan makan, makanya dia pingsan."
"Wanita tua itu kurang ajar sekali membiarkan anakku kelaparan," geram Safa.
"Sabar sayang yang penting kamu merawat Willa terlebih dahulu."
Zidan setia menemani Safa selama di rumah sakit. "Mas Zidan sebaiknya kamu pulang ini sudah malam nanti orang tua kamu khawatir."
"Kamu kira aku ini anak-anak. Aku lebih khawatir kepada kamu."
__ADS_1
"Mungkin aku akan menginap di sini untuk menemani Willa," kata Safa.
"Baiklah aku akan pulang. Kabari jika kamu butuh bantuan." Safa mengangguk paham.
Zidan pun ke parkiran mobil. Dia tidak sengaja berpapasan dengan kakaknya. "Kak Sofia belum pulang? Di mana mobilmu?" Tanya Zidan.
"Mobilku sedang diganti bannya di bengkel Aku meminta Leo untuk menjemputku."
"Pulang bareng aku aja."
"Tapi Leo sudah di perjalanan, kasihan dia kalau dia harus bolak-balik," tolak Sofia.
"Baiklah aku mengerti, kalau begitu aku duluan Kak," pamit Zidan.
Sesampainya di rumah sang ibu menanyai Zidan. "Kenapa pulangnya telat? Biasanya kamu sore sudah ada di rumah. Apakah ada meeting dengan klien di luar?"
"Tidak ma, hari ini pulang bekerja aku ke rumah sakit," jawab Zidan.
"Menemui kekasihmu?" Ledek ibunya.
"Lebih dari itu, anaknya ditemukan pingsan di rumah mantan mertuanya sehingga dia harus dirawat di rumah sakit."
"Mantan mertuanya?" Tanya sang ibu memastikan.
"Ceritanya panjang. Nanti akan aku ceritakan. Sekarang aku ingin membersihkan diri dulu, Ma." Zidan pun berjalan ke kamarnya.
"Kenapa Ma?" Tanya Julian kepada istrinya.
"Itu Zidan baru pulang katanya menemui calon menantuku di rumah sakit."
"Kenapa dia sering mengunjungi rumah sakit? Apa dia tidak takut ketularan penyakit?"
"Ayah ngomongnya kok gitu sih? Kata Zidan dia menengok anak Safa yang dirawat di sana."
"Aku heran kenapa dia selalu peduli kepada wanita itu. Jelas-jelas aku menentang hubungan mereka."
"Jangan seperti itu Yah, yang menjalani kehidupan kan Zidan. Jika kita mengaturnya dan tidak sesuai maka dia tidak akan bahagia. Apa Ayah mau anak Ayah hidup tersiksa?"
"Mama ini sama saja." Julian memilih naik ke lantai atas.
__ADS_1