Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Pesta


__ADS_3

Pagi ini Zidan menunggu Safa keluar kamar. "Eh, Mas Zidan ngagetin aja," ucap Safa ketika melihat kekasihnya sudah ada di depan pintu.


"Sayang, hari ini kamu selesai jam berapa?" Tanya Zidan.


"Mungkin jam lima sore, kenapa Mas?" Tanya Safa.


"Nanti malam mau ikut ke acara ulang tahun perusahaan nggak? Jadi kemaren aku sempet ketemu kolega bisnis aku yang mengundang untuk ikut ulang tahun perusahaan, mau ya?" Bujuk Zidan sambil memegang kedua tangan Safa.


"Tapi aku nggak bawa dress, Mas," ungkap Safa.


Zidan menarik ujung bibirnya. "Itu soal gampang."


*


*


*


Menjadi seorang janda bukanlah keinginan setiap wanita. Menyandang status janda selalu dianggap sebelah mata oleh orang lain. Padahal mereka tidak melakukan kejahatan tapi selalu dicap negatif.


Seperti halnya Safa di mata Julian. Dia selalu merendahkan Safa. Julian tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Safa hanya karena statusnya yang janda beranak satu. Padahal jelas Safa adalah orang yang menolong Zidan di saat dia kehilangan ingatannya. Namun, Julian tak menganggap itu berarti sama sekali.


Akan tetapi, tak semua orang menganggap janda itu buruk. Zidan contohnya. Meski dia mengetahui status Safa adalah janda beranak satu tapi dia tetap mencintainya. Dia bahkan bangga karena Safa wanita yang kuat karena membesarkan Willa seorang diri.


Intinya memandang status seseorang atau mengungkit masa lalu orang lain tidaklah bagus. Karena setiap orang punya masa lalu yang berbeda termasuk yang baca.


*


*


*


Saat malam tiba, Zidan memberikan gaun yang ia pesan dari perancang terkenal khusus untuk kekasihnya.


"Apa ini tidak terlalu mewah?" Safa meminta pendapat pada Zidan.


"Justru itu aku ingin memperkenalkan calon istriku yang sangat cantik ini di depan semua orang," ucapnya dengan yakin.


Wajah Safa memerah karena mendapat pujian dari Zidan. "Jangan berlebihan, ini karena aku memakai gaun yang sangat mahal sehingga aku kelihatan cantik," elak Safa.

__ADS_1


"Ya sudah kita jalan." Zidan memberikan lengan agar Safa melingkarkan tangannya. Mereka berjalan menuju ke halaman tengah hotel tempat pesta berlangsung.


"Selamat datang di acara ulang tahun perusahaan kami pak Zidan," sambut laki-laki yang merupakan pimpinan perusahaan tersebut.


"Terima kasih banyak, Pak," jawab Zidan.


"Apa dia ini pasangan anda?" Tanya Ferdi. Zidan tersenyum menanggapi ucapan pimpinan perusahaan itu.


"Silakan menikmati hidangan yang kami sediakan."


Setelah itu seseorang menepuk pundak Zidan dari belakang. Zidan tersenyum tipis.


"Kamu masih ingat aku kan, Zidan?" Tanyanya ragu sebab wajah Zidan berubah.


"Mana ada yang bisa melupakan playboy macam kamu Rick," cibir Zidan. Erick tertawa lepas.


"Aku kira saat mendengar wajahmu telah dioperasi itu hanyalah rumor, ternyata sungguhan?" Zidan hanya tersenyum dia tidak banyak bicara.


Erick adalah teman kuliah Zidan dulu yang kini berkecimpung di dunia bisnis yang sama. Tapi Zidan tidak begitu menyukai Erick karena sifatnya yang suka mempermainkan wanita. Erick memperhatikan Safa dari atas hingga ujung kaki.


Saat Zidan yang menyadari tatapan mesum temannya itu, ia langsung membawa Safa ke belakang punggungnya. "Aku ke sana dulu." Zidan mengajak Safa pergi meninggalkan Erick. Laki-laki itu hanya tersenyum sinis.


"Ya, Mas."


Zidan meninggalkan Safa seorang diri. Setelah Zidan pergi Erick mendekati Safa. "Mau minum?" Tanya Erick sambil menyodorkan segelas minuman pada Safa.


"Saya tidak minum," tolak Safa dengan halus.


"Ini hanya sirup bukan alkohol," bohongnya. Safa menerima gelas minuman itu tanpa curiga.


"Kamu kenal Zidan sudah lama?" Tanya Erick.


Safa hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Erick. Safa meneguk minuman itu karena dia gelisah sebab Zidan tak kunjung kembali.


"Kamu cari Zidan ya?" Tanya Erick yang semakin mendekat.


"Kamu mau apa?" Tanya Safa dengan ketus.


"Tidakkah aku lebih tampan dari Zidan?" Tanyanya sambil berbisik di telinga Safa. Safa meremang. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya.

__ADS_1


"Saya permisi," pamit Safa tapi Erick menarik tangannya. "Mau kemana?" Tanyanya sambil tersenyum tipis.


"Lepaskan!" Safa mulai tak nyaman. Dia merasakan sekujur tubuhnya panas.


"Kenapa denganku? Kenapa di malam yang sedingin ini tubuhku justru merasakan panas? Apa dia mencampur sesuatu pada minumanku? Sialan laki-laki ini," umpat Safa dalam hati.


Safa melepas tangan Erick lalu berjalan menuju ke kolam renang. Dia menceburkan diri di sana. Zidan yang baru kembali karena sempat tertahan oleh rekan bisnisnya kaget ketika melihat Safa menceburkan diri ke kolam renang.


Zidan menaruh gelasnya di meja lalu menceburkan diri tanpa melepas sepatu yang ia kenakan. Zidan dengan segera menolong kekasihnya itu.


Safa pingsan di gendongan Zidan. Lalu Zidan berjalan dengan badan yang basah kuyup melewati para tamu undangan lainnya. Dia tidak peduli pada omongan orang, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Safa.


Zidan membawa Safa ke dalam kamarnya. Dia membaringkan tubuh Safa di atas ranjang. Lalu dia menyuruh pelayan hotel untuk membantu mengganti pakaian Safa dan sprei yang basah.


Setelah selesai dia masuk ke dalam kamar Safa. Kekasihnya itu masih belum sadarkan diri. Zidan menyentuh kening Safa karena wajahnya terlihat memerah. Dia seperti menahan sakit.


"Kamu demam sayang," ucapnya setelah mengetahui suhu badan wanita itu tinggi. Zidan mengambil kompresan untuk menurunkan suhu tubuh Safa. Dengan telaten dia menggantinya. Zidan menunggui Safa selama semalam.


Keesokan harinya Safa mulai terbangun ketika merasakan sinar matahari yang mengenai matanya. Dia kaget ketika melihat Zidan sedang tidur dalam keadaan terduduk di sampingnya sambil memegang tangannya.


Saat Zidan bergerak, Safa pura-pura tidur lagi. Zidan memeriksa kening Safa ketika bangun. "Syukurlah demammu sudah turun," ucapnya setelah itu mencium kening wanita yang dia cintai.


Safa terkikik karena merasa senang. Zidan akhirnya menyadari kalau kekasihnya itu pura-pura tidur.


"Sejak kapan kamu bangun?" Tanyanya pada Safa.


"Maafkan aku. Aku sudah bangun dari tadi Mas," jawabnya.


"Lalu kenapa pura-pura tidur?" Selidik Zidan.


"Pengen aja," jawab Safa dengan asal.


Lalu Zidan mencium bibir Safa sekilas. "Mas," protes Safa sambil memegang bekas ciuman Zidan.


"Pengen aja," ucapnya menirukan omongan Safa. Safa pun memukul dada bidangnya. Zidan menangkap tangan kekasihnya itu. Sejenak pandangan mereka bertemu. Zidan semakin mendekat dan menempelkan bibirnya.


Dia mencium dengan lembut bibir Safa. Tapi Safa malah mendorongnya. "Mas aku belum sikat gigi," protesnya.


Zidan menarik ujung bibirnya lalu dia menggendong Safa dengan sekali hentakan. "Aku antar kamu sampai ke kamar mandi," ucapnya sambil menempelkan bibirnya ke bibir Safa. Dia kembali menciumnya sampai masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Setelah itu kalian bayangkan sendiri ya....


__ADS_2