Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Ancaman Julian


__ADS_3

Julian meminta Leo menemui Safa untuk menyampaikan perintah kalau atasannya itu ingin bicara empat mata di sebuah restoran.


"Selamat siang dokter Safa," sapa Leo.


"Apa yang membawa anda ke sini?" Tanya Safa sedikit curiga.


"Saya menyampaikan perintah atasan saya untuk mengundang anda makan malam di sebuah restoran."


"Dalam rangka apa? Apa Mas Zidan juga ikut?"


"Tidak dok, Tuan Julian ingin bicara empat mata dengan anda."


Safa ingin menolak tapi dia mengingat kalau Julian adalah orang tua Zidan jadi dia terpaksa menerima undangan itu.


"Baiklah, saya mengerti."


"Apa anda ingin saya jemput nanti malam?"


"Tidak, saya tidak mau Mas Zidan salah paham. Jadi saya berangkat sendiri beritahu saja alamatnya."


"Baik, saya akan kirimkan alamatnya di nomor telepon anda," Leo menyodorkan handphone miliknya agar Safa menulis nomornya di sana.


Safa mengetik di ponsel Leo lalu mengembalikan ponselnya. "Saya mau ontime jam tujuh harus ada di tempat, karena saya tidak mau meninggalkan anak saya lama-lama di rumah."


"Baik, akan saya sampaikan pada atasan saya. Terima kasih atas waktunya dok. Kalau begitu saya permisi." Safa hanya mengangguk ketika Leo berpamitan padanya.


"Aku bilang tidak ya ke mas Zidan?" Gumam Safa. Dia ragu tapi dia khawatir ayahnya mengancam atau semacamnya. "Bismillah aja deh, semoga perasaanku tidak benar."


Sementara itu, Willy masih berusaha mengambil hati anaknya. Ia kembali datang ke sekolah untuk menjemput Willa.



Ketika anaknya keluar dari sekolah, Willy langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Ayah aku nggak mau ikut," protes Willa.


"Ayah sudah bilang sama bunda jadi kamu jangan khawatir kita bisa main seharian. Apa kamu mau main ke Waterboom?"


Mendengar kata Waterboom, Willa langsung berbinar. Lalu pak Tarjo yang baru sampai mencari keberadaan Willa.


"Itu pak Tarjo, Willa mau bilang dulu sama dia."


"Siapa dia?" Tanya Willy yang baru pertama kali melihat laki-laki asing itu.


"Itu sopir baru Willa."

__ADS_1


"Biar ayah yang bilang sama sopir kamu." Willy pun keluar dari mobilnya. Willa melihat ayahnya sedang berbicara pada Tarjo, sopirnya. Ia juga melihat Willy memberikan sejumlah uang dari dalam dompetnya. Tak lama kemudian Willy kembali ke mobil.


"Sudah sayang," kata Willy sambil mengelus rambut panjang Willa.


Willa hanya diam. Dia sebenarnya tak suka dengan ayahnya sendiri karena bersifat pemaksa tapi dia ingin ke Waterboom. Willy pun menyalakan mobilnya. Lalu dia membawa Willa pergi.


Safa percaya pada sopir barunya karena dia direkomendasikan oleh Zidan. Saat ini Safa bersiap menuju ke restoran setelah dia pulang dari rumah sakit. Dia menggunakan taksi. Dia tidak ingin siapa pun tahu dia akan menemui Julian termasuk sopir barunya. Bisa saja Pak Tarjo melapor pada Zidan, pikir Safa.


Safa sampai di resto lebih dulu. Sudah sepuluh menit Safa menunggu, Julian tak juga datang. Ia melihat jam tangannya karena resah. Ia takut Willa akan menanyakan dirinya jika telat pulang.


Sesaat kemudian, Julian sampai bersama Leo. Safa berdiri menyambut kedatangan Julian. "Maaf, saya telat," kata Julian.


"Silakan duduk!" Imbuhnya.


"Maaf bisakah kita pada intinya saja? Terus terang saya meninggalkan anak saya di rumah sendirian jadi saya merasa risau."


"Baiklah, saya hanya minta anda jauhi anak saya, Zidan."


Safa seperti disambar petir, ayah Zidan tak merestui hubungannya. Dia mengepalkan tangan di bawah meja.


"Apa alasan anda tidak menyukai saya?" Tanya Safa dengan nada dingin.


"Saya memiliki banyak kolega bisnis terus terang status anda sangat mengganggu. Bahkan karyawan saya membicarakan anda saat di tempat kerja tadi. Saya tidak memiliki muka."


"Jika anda memisahkan saya dengan mas Zidan, tanyakan dulu pada anak anda apakah dia setuju." Safa berdiri lalu pergi.


Julian merasa terhina karena Safa malah mempermalukan dirinya. "Janda sialan!" Umpat Julian. Leo menahan tawa karena atasannya itu.


"Leo, kamu berani menertawakan saya?" Kesal Julian yang dilampiaskan pada asisten pribadinya.


"Maaf, pak."


"Kita pulang sekarang." Ketika Julian keluar dia melihat Safa masih berada di pinggir jalan. Julian mendekat ke arah Safa. "Butuh tumpangan?" Tanya Julian setengah meledek.


"Tidak perlu, sebentar lagi mas Zidan datang menjemput saya," bohong Safa.


Julian mengepalkan tangannya. "Baiklah saya duluan karena kamu akan dijemput." Setelah itu Leo membukakan pintu mobil untuk Julian.


Safa menahan tawa karena berhasil mengerjai Julian, calon mertuanya yang angkuh itu. "Baru digertak begitu saja langsung kabur," gumam Safa dalam hati sambil menarik ujung bibirnya.


"Kamu lihat dia kan Leo, wanita seperti itu mau menjadi menantu saya? Apa Zidan tidak salah pilih?" Gerutu Julian pada Leo. Leo hanya mendengarkan.


Setelah sampai di rumah Julian terkejut ketika dia melihat Zidan tengah makan malam bersama istri dan anak perempuannya.

__ADS_1


"Zidan kamu di rumah?" Tanya Julian bingung.


"Dari tadi aku di rumah, Yah," jawab Zidan sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Jadi perempuan itu berbohong padaku," gumam Julian di dalam hatinya.


"Ayah tidak ikut makan malam?" Tanya sang istri.


"Tidak, ayah sudah makan bersama klien tadi," bohongnya.


Lalu Julian naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Dia mengendurkan dasi lalu membuangnya ke segala arah. "Aku akan buat kalian pisah."


"Leo ayah kenapa? Tanya Zidan ketika menaruh curiga pada ayahnya.


Leo ragu untuk menjawab. Tapi dia tidak tega pada Safa ketika Julian meminta wanita itu memutuskan hubungan dengan Zidan. "Katakan Leo, aku janji tidak akan mengadukanmu pada ayah," desaknya.


Leo keluar lalu Zidan mengikuti Leo. "Sebenarnya ayah anda menemui dokter Safa," ucap Leo sedikit berbisik.


"Apa?" Zidan terkejut. "Apa yang dia rencanakan? Katakan!" Bentak Zidan.


"Beliau meminta dokter Safa menjauhi anda," jawab Leo dengan jujur.


"Ayah sangat menyebalkan. Tidakkah dia memikirkan kebahagiaanku?" geram Zidan.


"Aku akan menegur ayah." Leo menghalangi langkah Zidan.


"Sebaiknya anda menyusul dokter Safa. Saya yakin suasana hatinya sedang buruk sekarang. Dia juga tidak membawa mobil."


"Apa? Kenapa baru bilang. Sekarang beritahu dimana terakhir kali kalian bertemu?"


Leo membisikkan alamatnya ke telinga Zidan. Tanpa mereka ketahui, Julian melihat Leo mengobrol dengan Zidan dari atas balkon. "Jangan-jangan kamu mengadu pada Zidan, Arrgh."


Tiba-tiba Raina muncul. "Ayah, ada apa? Ceritakan padaku apa yang sedang kamu sembunyikan."


Julian berjalan mendekat ke arah istrinya. "Tidak ada, Ma."


"Jangan berbohong? Kamu tidak sedang mengancam seseorang kan?" Tuduh Raina. Julian merasa gugup.


Sementara itu, Zidan langsung mengendarai mobil menuju ke restoran yang dimaksud oleh Leo.


Dia memukul kendali setir karena merasa kesal dengan ayahnya. "Tega sekali ayah pada kekasihku. Aku tak kan membiarkan ayah menyakiti Safa sedikitpun."


hallo my beloved reader semoga kalian suka dengan cerita ini. sambil nunggu up kalian bisa mampir ke novel di bawah ini ya

__ADS_1



__ADS_2