Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Ke luar kota


__ADS_3

Zidan ingin memberi tahu Safa tentang rencana kepergiannya ke luar kota tapi sayangnya hari ini kekasihnya itu pulang telat. Padahal malam ini juga Zidan harus berangkat ke bandara.


Lalu Zidan menghubungi ponsel Safa tapi sedang tidak aktif. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke bandara saat itu juga.


Safa pulang dari seminar agak larut. Sesampainya di rumah, dia melihat anaknya sudah tertidur. Besok pagi-pagi sekali dia harus ke luar kota juga karena seminar yang dia ikuti dilanjutkan di luar kota.


Pagi ini Safa bangun sebelum subuh karena pesawat berangkat jam 5 pagi. "Mbak Tum titip Willa ya, saya mau keluar kota beberapa hari soalnya ada seminar lanjutan di sana," pesan Safa sebelum pergi. Ada rasa tak rela meninggalkan putrinya tanpa diketahui oleh anaknya.


"Baik, Bu," jawab Tumini.


"Sayang, maafin bunda ya bunda nggak bisa nemenin kamu beberapa hari ini di rumah." Safa mengecup kening Willa agak lama. Baru kali ini dia pergi jauh meninggalkan Willa. Dengan berat hati dia meninggalkan anaknya yang masih tidur.


Safa menenteng koper sampai ke mobil. "Pak Tarjo bisa antarkan saya ke bandara?" Tanya Safa pada sang sopir.


"Mari, Bu."


Setelah itu menjelang sekolah Willa yang baru bangun mencari ibunya. Karena seharian kemaren dia tak bertemu ibunya sama sekali, dia menangis. Mbak Tumini bingung karena Willa sampai tak mau sekolah. Mbak Tumini mencoba menghubungi majikannya tapi tidak aktif. "Apa majikan kita masih diperjalanan ya pak?" Tanyanya pada sang suami.


Wanita itu benar-benar bingung karena Willa terus menangis.


"Bagaimana ini Pak?" Tanya Mbak Tumini pada suaminya, Tarjo.


"Ya sudah Bu, untuk hari ini saja biarkan dia tidak sekolah," jawab Tarjo.


"Non Willa kita sarapan dulu ya?" Mbak Tumini mencoba membujuk anak majikannya. Willa malah menutup mulutnya. "Tidak mau."


Di tempat lain Raina berniat menjemput Willa di sekolah. Sampai semua orang pulang dia tidak melihat calon cucunya itu. Lalu dia menanyakan pada gurunya. "Permisi Bu, kenapa saya tidak melihat Willa?"


"Dia tidak masuk hari ini," jawab gurunya.


"Kenapa? Apa dia sakit?" Tanya Raina khawatir.


"Anda ini siapa?" Guru itu merasa tidak mengenal orang yang sedang berbicara dengannya saat ini.


"Saya ini neneknya," jawab Raina. Setelah itu Raina mencoba menghubungi Safa tapi nomornya sedang tidak aktif. Dia pun memutuskan untuk mendatangi rumah calon menantunya itu.


"Willa ada di dalam?" Tanya Raina pada Pak Tarjo ketika baru memasuki gerbang rumah Safa.


"Iya, Bu. Silakan masuk!" Ajaknya lalu membukakan pintu untuk gerbang rumah majikannya itu.

__ADS_1


"Willa," panggil Raina.


Saat itu Willa sedang tidur telentang karena kelelahan habis menangis di depan televisi.


"Anda datang Bu?" Sapa Tumini.


"Kenapa hari ini dia tidak masuk sekolah?" Tanya Raina pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Safa tersebut.


"Hari ini dia ngambek Bu. Soalnya seharian kemaren dia tidak melihat ibunya," jawab Tumini.


"Memangnya kemana ibunya?" Tanya Raina.


"Bu dokter kemaren bilang ikut seminar pulangnya sampai malam lalu subuh berangkat ke bandara untuk ikut seminar lanjutan," ungkap sang pembantu.


"Kasian sekali kamu nak. Berapa hari ya dia pergi?"


"Saya kurang tahu Bu."


"Kalau begitu saya hubungi dia dulu." Raina mencoba meriah ponselnya yang ada di dalam tas.


"Hallo assalamu'alaikum."


"Nak sekarang mama lagi di rumah kamu. Tadi mama ke sekolah Willa tapi dia tidak masuk, kata pembantu kamu dia ngambek karena tidak melihatmu ketika bangun. Kamu pergi berapa hari?" Tanya Raina.


"Ya Ampun Willa," Safa merasa iba. "Aku harus menginap di sini selama 3 hari Tante. Saya cuma bisa nitipin Willa ke Mbak Tum soalnya ayahnya masih dalam masa pemulihan pasca kecelakaan jadi saya tidak mau merepotkan dia."


"Kalau begitu boleh tidak mama bawa Willa? Biarkan dia tinggal sama kami selama kamu pergi."


"Kalau Willa tidak keberatan boleh Tante. Maaf Tante aku mesti ikut seminar lagi."


"Iya, mama cuma mau izin saja." Setelah itu, ibu dari Zidan tersebut menutup ponselnya.


"Saya sudah izin pada ibunya untuk membawa Willa menginap di rumah saya," ucapnya pada Tumini.


"Ya Bu. Kalau begitu saya siapkan dulu barang-barangnya non Willa."


Raina menyuruh sopirnya memindahkan Willa ke dalam mobil tanpa membangunkannya. "Tolong pelan-pelan supaya dia tidak terbangun," pintanya pada sang sopir.


Lalu Tumini menaruh barang-barang Willa ke bagasi mobil yang ditumpangi Raina. "Jaga rumah ya Mbak!" Pesannya pada Tumini. Wanita itu pun mengangguk

__ADS_1


Raina sangat senang bisa membawa Willa menginap di rumahnya. "Ini akan menjadi surprise untuk ayah," gumamnya sambil terkekeh membayangkan Julian yang terkejut jika ada Willa di sana.


Willa terbangun. Dia menyadari kalau dia tidak berada di dalam kamarnya. Saat itu Raina masuk ke dalam kamar. "Eh sudah bangun ya? Ini minum susunya dulu sayang."


Willa kaget ketika melihat wanita yang berhijab itu. "Oma, aku di mana?" Tanya Willa.


"Kamu sedang di rumah Oma, sayang," jawab Raina dengan lembut.


Lalu Willa tiba-tiba menangis. Raina mencoba menenangkan anak kecil tersebut. "Kenapa sayang?" Tanya Raina.


"Aku kangen bunda," jawabnya polos.


"Bunda bilang dia tidak bisa pulang karena urusan pekerjaan. Jadi sementara waktu Willa tidurnya sama Oma, mau kan cantik?" Bujuknya. Willa mengangguk. Dia masih mengumpulkan nyawa karena bangun tidur.


"Ayo kita mandi terus kita makan nanti sambut aki pulang," ucap Raina.


"Aki?" Willa terkekeh mendengar panggilan itu. Dia pun menurut lalu bangun. Raina membantunya mandi. Usai mandi, Raina mendandani Willa. Rambutnya yang panjang disisir perlahan. Raina seolah menikmati perannya sebagai nenek. Dia sangat bersyukur dengan adanya Willa.


"Papa pulang jam berapa, Oma?" Tanya Willa dengan polos. Rupanya dia juga merindukan Zidan.


"Papa sedang di luar kota, sayang."


"Kenapa semua orang ke luar kota?" Protes Willa dengan mengerucutkan bibirnya.


"Willa kalau mengerucutkan bibir tu kaya angsa tahu nggak?"


"Yang bulunya putih, Oma?" Raina mengangguk.


"Bagus dong, itu kan jelmaan princess." Ucapannya membuat Raina tertawa. Setelah itu mereka turun.


Sofia yang baru pulang kerja kaget ketika melihat anak kecil itu berada di rumahnya. Sofia meminta penjelasan ibunya dalam diam.


"Ibunya pergi tiga hari di luar kota jadi mama membawanya kemari." Sofia beroh-oh ria mendengar penjelasan ibunya.


Tak lama kemudian Julian ditemani oleh Leo tiba di rumahnya.


Saat Willa melihat laki-laki dewasa tengah menaiki tangga, Willa memanggilnya. "Aki," teriak Willa dengan sangat nyaring.


Apa reaksi Julian?

__ADS_1


__ADS_2