
Safa terlihat lemas dan tak bersemangat ketika berjalan di koridor rumah sakit. Dia tak sengaja berpapasan dengan dokter Sofia.
"Dokter Safa," panggil Sofia.
Safa yang berjalan dengan pandangan kosong seketika tersadar. "Eh, dokter," balasnya.
Dokter Sofia memperhatikan wajah dokter Safa yang pucat. "Sepertinya anda kurang sehat?"
"Ah tidak. Saya baik-baik saja," jawab Safa lesu.
"Apa anda sudah tahu?" Tanya Sofia.
"Tahu apa?" Tanya Safa bingung.
"Zidan hari ini berangkat ke luar negeri," jawab Dokter Sofia.
"Apa? Kenapa dia tidak mengabariku?" Protesnya.
"Aku kira dia telah mengabarimu." Safa menggeleng lemah.
Sesampainya di ruangan tempat Dokter Safa praktek dia menangis. "Dokter kenapa?" Tanya asistennya.
"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil menyeka air mata yang menetes di pipi.
Di tempat lain, Willy yang sudah sembuh kini mulai mendekati anaknya. Tapi kali ini dia murni untuk meneruskan hubungan ayah dan anak bukan lagi karena obsesi mendapatkan mantan istrinya lagi.
Saat waktunya pulang sekolah, Willy menjemputnya. Namun, di saat bersamaan David juga menjemput Willa.
"Hai, Dave. Long time no see," sapa Willy ramah.
David hanya melirik. "Untuk apa kamu menemui keponakanku?" Tanyanya ketus.
Selama di luar negeri dia baru tahu kalau Willy selingkuh hingga pernikahan kakaknya harus kandas. Yang membuatnya kecewa adalah dia telah berani menyakiti kakaknya.
"Tentu saja karena aku ayahnya," jawab Willy.
"Cih, kamu sok peduli," cibir David. Dia sangat membenci laki-laki itu karena telah mengkhianati kakaknya.
"Uncle, ayah," sapa Willa. Willa tak lagi bersikap dingin pada Willy semenjak Willy jatuh sakit. Safa memberi tahunya agar dia bisa memberi maaf pada ayahnya.
"Hi, sweet heart," sapa David.
Willy berjongkok. "Anak ayah mau pulang bareng tidak sama ayah?" Tanya Willy dengan lembut. Willa mengangguk.
"Sweet heart pulang bareng sama uncle saja ya," bujuk David.
__ADS_1
"Sayang, bisakah Willa ikut dengan ayah menjenguk nenek yang sedang sakit. Dia ingin meminta maaf pada Willa secara langsung," bujuk Willy tak mau kalah dengan mantan adik iparnya itu.
Willa jadi bingung sehingga dia menangis. "Aku mau papa," teriaknya. David bingung kenapa anak kecil itu memanggil papa tapi seperti bukan ditujukan pada Willy.
"Willa sayang, ayah antar ke tempat bunda ya?"
David menyingkirkan tangan Willy ketika memegang Willa. "Aku bisa mengantarnya karena kita tinggal serumah." David menggendong Willa yang sedang menangis.
Willy mengepalkan tangannya. Di saat dia ingin dekat dengan anaknya selalu saja ada penghalang yang membuatnya tidak bisa bersama-sama dengan sang anaknya.
Karena penasaran David menanyai Willa ketika dia berada dalam mobilnya. "Sweat heart siapa yang kamu panggil dengan papa? Bukankah ayahmu sudah ada di sana tadi?" Tanya David bingung.
"Bukan ayah Willy tapi papa Zidan."
Seketika David mengerem mendadak. Kepala Willa sampai kepentok dasboard mobil. Dia lagi-lagi menangis. David jadi panik. "Willa tolong diam ya, apa kita mampir dulu buat beli es krim?" Tampaknya bujukan dari David berhasil sehingga Willa berhenti menangis.
"Aku mau yang besar," kata anak kecil berambut panjang itu.
"Tentu saja." David tersenyum senang. Mudah sekali menenangkan keponakannya itu.
*
*
*
Selama ini tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Dokter Safa adalah anak pemilik rumah sakit tempat dia bekerja.
"Jadi kamu siap memegang jabatan sebagai kepala rumah sakit?" Tanya sang ayah.
"Aku tidak siap, sebaiknya papa tempatkan aku di bagian pengurus saja. Aku bisa belajar untuk mengelola rumah sakit dari bawah. Jadi aku bisa belajar mengatasi masalah yang timbul di kemudian hari," jawab Safa.
"Baik, aku akan menuruti permintaanmu."
"Lalu bagaimana denganmu Dave? Apa kau yang akan menggantikan papa?" Tanya Sang ayah pada David.
"Papa, aku ini manusia bebas. Berkutat dengan pekerjaan yang penuh dengan tekanan itu bukanlah diriku," tolaknya dengan halus.
"Dasar kau ini orang yang tak berguna."
"Siapa bilang aku tidak berguna. Papa tahu berapa wanita hamil yang sudah ku tolong saat persalinan?"
"Kau ini memang tidak pernah mau mengalah." David tersenyum menang.
*
__ADS_1
*
*
Setelah beberapa bulan Zidan baru kembali ke Indonesia. Saat itu dia sudah bisa membuktikan pada ayahnya setelah berhasil mencari investor.
"Sekarang tepati janjimu, Yah," kata Zidan.
Julian tidak menyangka dia begitu gigih mencari investor sehingga perusahaannya semakin maju. Karena Zidan pula lah, perusahaan Julian selalu menang tender.
"Baiklah," jawab Julian dengan berat hati. Saat ini dia tidak bisa lagi memisahkan Zidan. Karena seberapapun usahanya memisahkan mereka nyatanya tidak pernah berhasil.
Zidan pun pergi menemui kekasihnya. Tapi sebelum pergi dia membeli sebuah buket bunga besar untuk dokter Safa.
Dengan setelan jas lengkap Zidan berjalan di lorong rumah sakit. Dokter Selly kaget ketika melihat laki-laki yang meninggalkan sahabatnya tiba-tiba kembali.
"Dokter Selly," panggil Zidan. Selly pura-pura tidak mendengar. Tapi setelah itu dia menoleh karena tangannya ditarik oleh Zidan.
"Maaf," ucapnya setelah menyadari dokter Selly merasa tidak nyaman. "Apa anda melihat Dokter Safa?" Tanya Zidan.
"Untuk apa mencarinya?" Dokter Selly terlihat sangat marah.
"Saya ingin memberikan ini padanya," jawab Zidan sambil menunjukkan buket bunga besar yang sedang dia pegang.
"Sebaiknya anda bawa kembali bunga itu, dia tidak membutuhkannya," ucap Dokter Selly sebelum dia pergi. Zidan menurunkan tangannya.
Di saat yang bersamaan Zidan melihat Safa sedang mengobrol dengan mantan suaminya dari kejauhan. Mereka tampak bahagia. Zidan jadi cemburu melihat kedekatan mereka. Dia pun membuang buket bunga yang ada di tangannya.
Zidan berjalan cepat menuju ke parkiran mobil. Di sisi lain Safa melirik kepergian Zidan. "Terima kasih, Wil," ucapnya pada mantan suaminya.
Willy bingung kenapa dia tiba-tiba mengucapkan terima kasih.
Safa kembali ke ruangannya. Setelah itu Dokter Selly masuk ke dalam ruangan temannya itu. "Tadi ada yang datang mencarimu."
"Aku sudah tahu," jawab Dokter Safa.
"Lalu apa kamu akan menemuinya? Kamu sudah memaafkannya?" Tanya Selly.
"Aku tidak tahu. Aku rasa tidak mudah untuk memaafkannya. Dia meninggalkan aku tanpa pamit dan sama sekali tidak menghubungiku, apa kami masih bisa disebut memiliki hubungan?" Tanya Safa meminta pendapat sahabatnya.
"Cari pacar baru lagi aja," sahut David sambil menaikturunkan alisnya.
Safa melempar kertas yang dia remas ke arah David. David menjulurkan lidahnya.
"Kalau kakak tidak bisa cari laki-laki yang baik, biar aku yang kenalkan teman-temanku."
__ADS_1
"Dok, aku juga mau dikenalkan dengan teman-teman dokter." Selly malah menyahut lebih dulu. Safa memutar bola matanya jengah melihat kekonyolan keduanya.