Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Bertemu calon mertua


__ADS_3

"Ada apa sih? Kok kelihatannya semua orang sibuk hari ini?" Tanya Safa tidak mengerti.


"Kamu nggak tahu hari ini direktur datang, denger-denger sih katanya ada audit gitu," terang Dokter Selly.


"Hah, kok papa nggak ngabarin aku," gumam Safa lirih.


"Apa?" Dokter Selly menajamkan telinganya.


"Eh, nggak apa-apa."


"Kamu sudah makan?" Tanya Selly.


"Belum," jawab Safa dengan singkat.


"Bagaimana kalau kita makan di luar. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal praktek setelah makan siang."


Safa melambaikan tangan pada seseorang. Dokter Selly menoleh. "Sepertinya kita tunda makan siang kita, aku sudah ada janji," tolak Safa secara halus.


"Siang, Dok," sapa Zidan ketika sudah berada di dekat kekasihnya.


"Kalian sudah baikan?" Tanya Dokter Selly pada Safa dan Zidan. Sepasang kekasih itu tersenyum menjawab pertanyaan Dokter Selly.


"Ya sudah, aku mengalah," ucap Selly sambil berlalu meninggalkan keduanya.


Zidan menggengam tangan Safa dengan mesra. "Kita berangkat sekarang?" Tanya Zidan.

__ADS_1


"Sebentar aku ambil tas dulu," kata Safa. Dia pun meninggalkan Zidan sejenak setelah itu kembali ke sampingnya lalu berjalan menuju ke parkiran mobil.


"Safa," panggil seseorang hingga Safa menoleh.


"Papa."


Zidan mengerutkan keningnya. "Papa?" Tanya Zidan pada Safa. Sedan memang belum pernah bertemu dengan orang tua kekasihnya itu.


"Iya, beliau papaku."


Zidan ingin meraih tangan calon mertuanya itu tapi laki-laki yang diikuti oleh dua orang bodyguard di belakangnya itu menyembunyikan tangannya.


"Siapa dia?" Tanya ayah Safa.


"Dia calon menantu papa," jawab Safa malu-malu.


"Maaf," jawab Safa sambil menunduk.


"Saya Zidan, Om," ucap Zidan memperkenalkan diri. Dia tidak mengulurkan tangan pada ayahnya Safa.


Laki-laki itu hanya diam. "Ini papa Yudha, Harry Yudha Wijayanto," ucap Safa mewakili ayahnya. "Pa, kenapa papa tidak menjawab Mas Zidan?" Protes Safa pada ayahnya.


"Pa," panggil David setengah berteriak.


"Anak kurang ajar. Tidak sopan memanggil ayahmu dengan berteriak seperti itu."

__ADS_1


"Papa jangan komentari kebiasaanku," jawab David.


"Pa, apa papa sudah berkenalan dengan calon suami kakak?" Tanya David pada ayahnya.


"Mana bisa dikatakan calon suami jika melamar saja belum dilakukan," protes sang ayah.


"Saya akan melamar Safa secara resmi dalam waktu dekat," sela Zidan. Dia agak gugup berbicara di depan calon mertuanya itu. Yudha terlihat dingin saat menatap Zidan.


"Baiklah, lusa aku tunggu kedatanganmu bersama orang tua dan kerabatmu."


"Hah? Apa tidak terlalu cepat, Pa?" Protes Safa pada ayahnya.


"Mau berapa lama lagi kamu menjadi janda? Lagipula aku sudah tidak tahan orang lain membicarakan dirimu terus menerus. Aku juga ingin menambah cucu."


Ucapan Yudha sungguh tidak diduga. Zidan mengulas senyum. Safa tertawa malu- malu. Semua orang merasa lega karena orang tua Safa tidak menolak Zidan.


Yudha menepuk bahu Zidan. "Persiapkan dirimu dua hari lagi. Ingat jangan bawa pergi anakku sebelum kalian resmi bertunangan." Zidan mengangguk paham. Setelah itu, Yudha pergi meninggalkan mereka.


"Wah, kamu beruntung. Papaku merestui hubungan kalian dengan mudahnya," kata Zidan.


"Kami memang sudah ditakdirkan berjodoh meski terlambat bertemu. Aku memang bukan yang pertama bagi kakakmu tapi aku yang akan jadi pasangan terakhir untuknya," ucap Zidan dengan serius.


David menatap ke dalam mata Zidan. Sama sekali tak ditemukan kebohongan di matanya. "Jangan hanya berjanji di mulut tapi buktikan kalau kamu bisa membahagiakan kakakku."


"Akan kubuktikan ucapanku ini tidak sekedar omong kosong belaka," balas Zidan.

__ADS_1


Safa merasa bangga memiliki pasangan seperti Zidan. Dia begitu bertanggung jawab dan penuh perhatian. "Kenapa tidak dari dulu mas kita berjodoh?" Batin Safa sambil menatap ke arah sang kekasih.


__ADS_2