
"Hah, hamil? Kamu ada-ada saja."
"Kamu tahu tidak seisi rumah sakit membicarakan kamu," seru Selly dari balik telepon.
"Kamu percaya?" Tanya Safa.
"Percaya, kamu kan bucin akut sama Mas Zidan," ledek Selly.
"Siaalan kamu. Gini-gini aku masih menjaga keperawananku." Ucapan Safa benar-bemar mengocok perut Selly.
"Perawan beranak satu," ledek Selly.
"Ah udah aku tutup dulu hari ini aku gak jadi libur, mendengar ucapanmu aku jadi semangat kerja lagi," kata Safa setelah itu menutup teleponnya.
Tak lama kemudian Safa mendapat pesan dari Zidan. "Kamu masih sakit? Kalau masih sakit sebaiknya tidak usah berangkat kerja."
Lalu Safa mengirim pesan suara. "Aku hari ini tetap berangkat kerja tapi hanya visit sebentar. "
Meski badannya agak lemah tapi Safa memaksa pergi dengan diantar oleh Pak Tarjo.
Sesampainya di rumah sakit suara desas desus di antara para pegawai rumah sakit itu mulai terdengar. Safa hanya mengulas senyum licik. "Akan kukerjai kalian."
Bukannya masuk ke ruangannya Safa malah masuk ke ruang praktek sang adik.
"Ternyata benar apa yang digosipkan selama ini, dokter Safa hamidun."
"Iya, ya. Kenapa dia tidak masuk ke ruangannya tapi malah ke ruang praktek dokter obgyn?"
Tidak banyak yang tahu hubungan saudara antara Safa dan David. Mereka mengira David adalah teman satu kampus dengan Safa dulu.
"Kakak ngapain ke sini?" Tanya David yang heran ketika kakaknya tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Aku hanya ingin visit sebentar. Lalu membawa pulang pekerjaanku."
"Untuk apa bekerja di rumah. Kakak harus banyak istirahat."
"Aku cuma mau mampir ke sini sebentar untuk memberi tahuku. Kalau pulang malam atau tidak pulang sama sekali kabari dulu agar aku tidak menunggumu di rumah."
Safa keluar dari ruangan David. Ia melirik sekilas ke sekitarnya. "Perutku rasanya sedikit mual," ucap Safa sambil mengelus perutnya yang rata tiba-tiba ketika dua orang perawat yang dicurigainya lewat.
"Makanya kalau disuruh istirahat di rumah jangan membantah," ledek David.
"Kamu ini tidak ada sopan-sopannya sama kakak sendiri," cibir Safa setelah itu pergi meninggalkan David.
Tak lama kemudian Safa mendapat telepon dari Zidan. "Hallo."
"Ada apa, Mas?"
__ADS_1
"Apa mau aku jemput?" Tanya Zidan.
"Boleh, apa Mas Zidan tidak sibuk?" Tanya Safa melalui sambungan telepon.
"Aku selalu ada waktu buat kamu." Padahal saat mengucapkan kalimat itu Julian melotot dari belakang.
"Aku selalu ada waktu buat kamu." Julian menirukan omongan Zidan. Leo jadi terkekeh mendengarnya. Zidan kemudian melotot pada Leo.
"Ayah seperti tidak pernah muda saja," balas Zidan. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ejekan sang ayah.
"Aku tidak seperti dirimu yang mengumbar kemesraan di mana-mana."
"Ckckck Ayah terlalu dingin pada mama. Aku jadi kasian sama mama kenapa dia bisa mendapat jodoh seperti ayah."
Julian langsung memukul Zidan dengan berkas yang dia pegang. "Anak kurang ajar. Kalau aku tidak berjodoh dengan mamamu mana bisa kamu lahir ke dunia ini."
"Ampun, Yah."
"Hei, ada apa ini?" Tanya Raina yang baru sampai.
Zidan bersembunyi di belakang sang ibu. "Lihat Ma, ayah selalu memukulku tanpa sepengetahuan mama," adunya.
"Kamu memang pantas dipukul," jawab Julian dengan dada naik turun.
"Sabar, Yah. Sebenarnya ada apa sampai ayah memukul Zidan?" Tanya Raina dengan nada bicara lembut. Mendengar suara calon ibu mertuanya yang begitu halus hati Leo jadi tersentuh.
"Lupakan! Ada apa mama tiba-tiba datang kemari?" Tanya Julian.
"Mama mau membicarakan acara pernikahan Zidan dengan Safa."
Zidan girang mendengar ucapan sang ibu. "Apa tidak terlalu cepat, pertunangannya belum ada seminggu 'kan?" Protes Julian. Wajah Zidan jadi memberengut.
"Ayah tega sekali membiarkan anakmu ini jadi perjaka lama-lama," rengek Zidan.
"Cih, dasar otak mesum. Kamu ini selalu saja bersemangat jika membicarakan jandamu itu."
"Ayah," protes anak dan istrinya secara bersamaan. Mereka tidak suka mendengar Julian menyebut Safa dengan kata-kata kasar seperti itu.
"Apa salahnya mereka menikah dalam waktu dekat, Yah? Mama malah takut Zidan terus menggangu Safa. Ayah lihat kan kejadian di televisi ketika ada laki-laki yang digrebek warga karena ketahuan mesum di rumah pasangannya? Mama tidak mau kalau seperti itu. Nauzubillahi mindzalik."
Julian dan Zidan saling bertukar pandang. Tanpa sadar ucapan Raina mengingatkan Julian dan Zidan pada kejadian malam itu.
"Jadi kapan Zidan bisa menikahi Safa, Ma?" Tanya Zidan.
"Sebulan lagi," jawab Raina.
"Yes." Zidan bersorak gembira sedangkan Julian mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Zidan melihat jam yang melingkar di tangannya. Setelah itu Zidan pamit untuk menjemput Safa.
"Mau ke mana?" Tanya Julian.
"Menjemput calon makmum," jawabnya mengundang gelak tawa sang ibu dan juga Leo karena jawaban itu membuat Julian merasa geli dengan sikap bucin sang putra.
Zidan menimang kunci mobil sambil berjalan menuju ke tempat parkir. Hari ini dia menggunakan mobil mewahnya untuk menjemput tunangannya.
Sementara itu di rumah sakit Safa mengecek laporan pasien-pasiennya.
"Dok, katanya dokter sedang sakit?" Tanya asistennya.
"Iya sedang tidak enak badan. Tapi saya tiba-tiba bersemangat hari ini. Maklumlah mood sedang naik turun mengikuti hormon." Kalimat yang ambigu itu membuat asistennya berpikir keras.
"Apa benar dokter Safa hamil?" Pikirnya.
"Saya bisa minta tolong nggak sama kamu?" Tanya Safa.
"Minta tolong apa, Dok?"
"Beliin saya rujak dong di kantin rumah sakit!"
Asistennya mengerutkan kening. "Ba-baik, Dok," jawabnya gugup. Setelah itu dia keluar ruangan untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Safa. Sedangkan Safa menahan tawa karena berhasil mengerjai asistennya.
"Kamu tumben sekali jam segini makan rujak. Apa tidak takut mules?" Tanya teman asisten Safa.
"Bukan buat aku," jawabnya.
"Buat siapa? Apa buat doktermu ya?" Tebaknya. Asisten Safa hanya mengangguk. Mereka semakin yakin Safa hamil di luar nikah.
"Fix, ini mah bukan gosip lagi tapi fakta." Yang lain mengangguk setuju.
Selly yang mendengar hal itu kemudian bergegas menuju ke ruangan Safa.
Brak
Selly membuka pintu ruangan Safa dengan kasar. "Apa benar kamu hamil?" Selly langsung menodong Safa.
"Kamu pikir?" Safa menunjukkan perutnya yang rata.
"Ya ampun, perut bisa langsing begini." Selly malah sibuk mengagumi perut sahabatnya yang langsing itu.
"Terus kenapa kamu minta dibeliin rujak?" Tanya Selly kemudian.
"Itu karena...." Belum selesai Safa menjawab, asistennya datang dengan membawa rujak pesenan Safa.
"Dok, ini pesenannya." Dia memberikan rujak itu pada Safa. Namun, siapa sangka rujak itu malah diberikan pada Selly.
__ADS_1
"Nih, buat kamu. Aku tahu kamu doyan rujak," kata Safa. Tak tahu maksud Safa yang sebenarnya, Selly hanya menerima rujak pemberian sahabatnya itu dengan senang hati sedangkan sang asisten malah keheranan.