Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Penyesalan


__ADS_3

"David. Kamu semalam pasti pulang dalam keadaan mabuk 'kan?" Selidik Safa.


"Aku tidak mabuk, aku cuma ketiduran di sini," elaknya.


"Ngeles saja. Sana mandi cepat, apa kamu hari ini tidak praktek?" Tanya Safa.


"Nanti aku praktek jam sembilan."


"Dasar pemalas. Kamu pikir ini jam berapa? Ayam saja lebih rajin dari pada kamu," ledek Safa.


David terpaksa berdiri karena badannya basah kuyup. Lalu dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "What? Jam setengah sembilan. Kak, aku telat." David berlari ke dalam rumah Safa lalu cepat-cepat dia berganti baju lalu mengambil tas kerjanya.


"Dave, kamu nggak mandi?" Tanya Safa yang melihat adiknya sudah rapi.


"Aku sudah mandi sama parfum." David mengambil sepotong roti lalu berlari keluar.


"Idih, jorok."


David melihat bagian dalam mobilnya basah karena habis disiram Safa. Lalu David kembali ke dalam. "Pinjam mobil, Kak!" Tangannya menengadah.


"Memangnya kenapa mobilmu?" Tanya Safa.


"Kakak lupa atau amnesia? Bukankah tadi pagi kakak habis menyiramku ketika aku sedang tertidur," sindir David. Safa berjalan mengambil kunci mobilnya.


"Nih pakai saja. Jangan lupa beliin bahan bakar!" David hanya mencibir mendengar perintah Safa.


Sesampainya di rumah sakit, David berlari menuju ke ruangannya. "Hati-hati, Dok," ucap salah seorang perawat ketika melihat David berlari. David mengerlingkan sebelah matanya.


"Aaaaa...." Para perawat itu berteriak histeris.


David memang selalu tebar pesona pada setiap wanita. Wajahnya yang tampan membuat siapa saja terpikat oleh pesonanya. Apalagi dia terbilang ramah dan murah senyum.


"Dok, sudah banyak pasien yang mengantri," kata asisten David.


"Baik, kita mulai sekarang."


Sementara itu, Safa tak banyak melakukan aktivitas di luar rumah karena hari ini dia sedang libur. Ketika dia sedang menonton televisi, dia melihat berita tentang ibunya yang dikabarkan kembali ke Indonesia.


"Berita terkini, kabar mengenai kembalinya mantan model internasional, Maya Silvia sudah tersebar ke banyak media. Menurut sumber informasi, Maya kembali karena pamornya yang turun seiring usianya yang semakin menua."

__ADS_1


"Mama," Safa meneteskan air mata ketika melihat wartawan mengelilingi ibunya di televisi.


Setelah itu, dia menelepon ayahnya. "Pa, apa benar mama sudah kembali?" Tanya Safa.


"Entahlah, aku belum menemuinya."


Lalu Safa teringat akan perkataan Willa yang menceritakan tentang nenek yang dia temui kemaren. "Ah aku rasa kemaren dia ke sini, Pa."


Sesaat kemudian terdengar suara bel berbunyi. Lalu Safa menutup teleponnya secara sepihak. Safa membuka pintu rumahnya.


"Safa Kamila?" Tanya wanita paruh baya yang dia temui.


"Mama." Safa hanya menebak tapi sepertinya tebakannya itu tidak meleset. Meski wajahnya sudah mulai berkerut tapi tidak ada orang lain yang menyebut nama lengkapnya.


Safa meneteskan air mata begitu juga dengan wanita paruh baya itu. Namun, cepat-cepat Safa menyeka air matanya yang jatuh. "Untuk apa mama mencariku?" Tanya Safa dengan ketus.


"Mama kembali, Nak. Tidakkah kamu merindukan mama?" Tanya Maya.


"Rindu? Aku bahkan lupa cara merindukan mama. Apa ingat bagaimana mama meninggalkan kami." Setelah mengatakan itu, Safa menutup pintunya.


Maya mengetuk pintu rumah Safa berkali-kali tapi Safa tak menghiraukannya. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu menangis di balik pintu.


"Baik, Pak." Leo mengangguk patuh.


Setelah itu, Leo menyambangi Maya di tempat tinggalnya. Maya yang baru kembali dari luar negeri tidak tahu harus tinggal di mana. Jadi dia memilih tinggal di sebuah hotel sementara waktu.


Saat seseorang menekan bel kamarnya, Maya membukakan pintu. "Perkenalkan saya Leo. Atasan saya ingin bertemu dengan anda."


Maya mengerutkan kening. "Siapa atasan kamu?"


"Anda bisa bertanya langsung padanya. Mari saya antarkan anda menemui dia."


Maya tidak menaruh curiga pada Leo karena dia bersikap sopan. Setelah mengunci kamarnya, Maya mengikuti Leo. Leo membawa Maya untuk bertemu dengan Zidan.


Di restoran yang ada di hotel yang ditinggali Maya tersebut, Zidan sudah menunggu lebih dulu. "Selamat datang." Zidan menggeser kursi untuk Maya.


Lalu dia duduk di depannya. "Perkenalkan nama saya Zidan. Saya calon suami Safa, anak anda."


Maya mengerutkan keningnya. Menurut informan yang dia bayar untuk memata-matai keluarganya, suami Safa bernama Willy.

__ADS_1


"Zidan? Seingatku nama suami Safa adalah Willy."


Zidan menghirup nafas dalam-dalam. "Mereka telah berpisah dua tahun yang lalu," terang Zidan.


"Jadi kamu calon suami barunya?" Tanya Maya memastikan. Zidan mengangguk.


"Saya hanya ingin memperkenalkan diri sebagai calon menantu anda. Selain itu, bolehkah saya mengetahui alasan anda meninggalkan Safa? Karena segala sesuatu yang berhubungan dengan Safa akan menjadi urusan saya mulai sekarang."


"Kamu belum resmi menjadi suaminya."


"Sebentar lagi. Kurang dari seminggu kami akan menikah."


"Apa? Kenapa tidak ada yang memberi tahuku?" Protes Maya.


"Anda ini protes pada siapa? Sedangkan anda yang telah melupakan keluarga anda di sini."


Ucapan Zidan membuat Maya menangis. Zidan tak bermaksud menyakiti hati Maya. Dia memberikan tisu untuk menghapus air matanya.


"Maafkan saya karena telah berkata kasar pada anda," ucap Zidan dengan penuh penyesalan.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku memang telah meninggalkan mereka demi karirku yang tak berlangsung lama." Maya mengingat kejadian di masa lampau ketika sang suami melarangnya pergi.


"Aku tidak tahu dari mana aku harus memulai hubungan baik di antara kami. Aku ingin meminta maaf pada mereka tapi mereka tak memberiku kesempatan," kata Maya sambil mengingat kejadian saat Safa mengusirnya tadi pagi.


"Aku akan membantu anda supaya kalian bisa berdamai. Aku yakin Safa juga merindukan anda. Namun, rasa rindunya tertutupi oleh kebenciannya pada anda yang begitu besar."


"Hanya cucuku yang mau menerimaku," gumam Maya.


Zidan mendengarnya. "Apa anda sudah menemui Willa?" Tanya Zidan memastikan. Maya mengangguk.


"Dia sangat baik."


"Apa anda bilang kalau anda adalah neneknya?" Tanya Zidan.


"Iya. Saat itu dia takut ketika bertemu denganku. Namun, dia menjelaskan kalau ibunya melarang dirinya bergaul dengan orang asing. Jadi aku memperkenalkan diriku sebagai neneknya," terang Maya.


"Bagus, awal yang baik. Willa akan membantu kita agar anda bisa baikan dengan calon istriku. Tentu saja anda tidak boleh memaksa jika mereka tidak mau memaafkan anda. Ingatlah seberapa besar kesalahan yang anda lakukan di masa lampau."


Maya merenungi kesalahannya. Dia sangat menyesal hanya demi karirnya dia rela meninggalkan suami dan anaknya. Memang saat itu ayah Safa belum sekaya saat ini. Hal itu yang membuat Maya pergi meninggalkan suaminya. Dia pikir dengan bekerja keras maka segala sesuatu yang dia inginkan bisa dia beli.

__ADS_1


__ADS_2