Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Hampir Batal Nikah


__ADS_3

Usai mengantar Willa, Safa kembali ke rumah sakit. Saat dia sedang berjalan, seseorang menarik tangannya. "Mas Zidan." Safa kaget ketika melihat wajah calon suaminya itu.


"Apa kamu terkejut? Kamu seperti orang yang ketahuan selingkuh," tuduh Zidan.


"Maksud mas apa?" Safa tak terima dengan tuduhan Zidan.


"Bagaimana bisa kamu berjalan bersama mantan suamimu? Apa kamu mau kembali padanya?" Bentak Zidan.


"Mas! Kamu jangan salah paham. Aku dan Mas Willy..."


"Kita memang jalan bersama tadi. Kenapa? Kami orang tua Willa jadi tidak ada salahnya kalau kami bersama," sahut Willy yang datang secara tiba-tiba.


Zidan memberikan pukulan ke wajah Willy. "Kenapa setiap kali bertemu denganmu rasanya aku ingin menghabisimu?" Ancam Zidan.


Willy tersenyum sambil memegangi wajahnya yang terasa nyeri. "Kamu ini suka memukul orang. Aku takut kamu melakukan KDRT setelah menikah dengan Safa nanti."


Zidan menarik kerah Willy. Safa berteriak histeris. "Mas Zidan lepaskan dia!" Seru Safa.


"Menjauhlah! Aku ingin menghabisi dia saat ini."


"Lalu kamu akan membatalkan pernikahan kita karena kamu masuk ke dalam penjara? Apa itu yang kamu mau? Apa kamu mau mempermalukan aku karena tidak jadi menikah padahal undangan telah kusebar, hah?"


Safa tidak bisa lagi mengontrol kemarahannya. Dia ingin sekali meluapkan amarahnya saat ini. Rasanya kesal sekali pada Zidan karena baru saja mereka baikan tapi laki-laki itu membuatnya sulit memaafkan dirinya saat ini.


"Aku cukup bersabar untuk memaafkan kamu, Mas. Tapi jika ini yang kamu mau lebih baik kita batalkan pernikahan kita. Kamu pencemburu. Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang terlalu posesif seperti dirimu."


Safa melempar cincin yang pernah diberikan oleh Zidan. Semua orang terkejut mendengar ucapan Safa. Selly, Sofia dan David yang sedang berjalan bersama tak menyangka Safa akan mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahannya.


Zidan mengambil cincin yang dibuang oleh calon istrinya itu. Dia menggenggam erat cincin tersebut.


"Apa yang kamu lakukan pada kakakku?" David mencengkeram kerah kemeja Zidan. Zidan tak melawannya.


"Dok, tolong jangan gegabah. Kita bicarakan ini baik-baik." Sofia berusaha membujuk David agar dia tidak memukul Zidan.


Sedangkan Selly menolong Willy bangun. "Ini semua salahku. Aku yang menyebabkan mereka bertengkar." Willy mengaku pada Selly.


"Jangan salahkan dirimu! Zidan memang pencemburu." Selly membela Willy.


David melepas cengkeraman tangannya. "Jauhi kakakku!" David memberi peringatan.


"Bagaimana aku bisa menjauhinya. Aku tidak bisa hidup tanpa dia," jawab Zidan.

__ADS_1


David tersenyum smirk. "Pikirkan dulu kamu benar-benar mencintai dia atau hanya terobsesi padanya?"


Zidan meninju udara. "Kenapa bisa sampai kaya gini sih, Zidan? Orang tua kita akan kecewa kalau tahu pernikahan kalian akan dibatalkan," Omel Sofia.


"Tidak, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Aku sangat mencintai Safa. Aku tidak sekedar terobsesi tapi aku tulus mencintai dia, Kak."


"Buktikan!"


Zidan mengejar Safa yang berlari ke mobil. Wanita itu menangis di dalam mobil. "Sayang aku mohon bukakan pintunya!" Pinta Zidan sambil menggedor-gedor kaca mobil Safa.


Safa tak menghiraukannya. Dia menjalankan mobil lalu meninggalkan area rumah sakit. Zidan kemudian menyusul Safa.


Zidan tak kehilangan akal. Dia meminta Leo dan anak buahnya mengikuti mobil Safa setelah itu mereka harus menghadangnya.


Safa menyadari dua buah mobil mengikutinya. Lalu mereka berjalan mendahului dan kemudian Safa menginjak pedal rem mobilnya dalam-dalam. "Sial," umpat Safa saat dia dihadang oleh mobil-mobil itu.


Zidan menghentikan mobil lalu berjalan menghampiri Safa. "Sayang, bukakan pintu!"


"Dasar breng*sek mainnya keroyokan," umpat Safa kesal.


Safa tak mau keluar. Dia malah menggeber mesin mobilnya agar mereka semua minggir. Namun, Zidan tak patah arang. Dia berdiri dengan tenang di depan mobil Safa.


"Breng*sek." Safa memukul kendali setirnya. Lalu dia menundukkan kepalanya karena menangis.


Safa akhirnya keluar. Zidan langsung memeluk Safa dengan erat. "Maafkan aku, maafkan aku!"


"Kenapa kamu selalu membuatku kesal?" Ucap Safa disela tangisannya.


"Maaf, aku tidak sadar telah membuatmu marah. Ku mohon jangan batalkan pernikahan kita. Aku tulus mencintai kamu."


Safa menangis sesenggukan. "Aku juga tidak menjanda selamanya," ucap Safa.


"Jadi kita akan tetap menikah, bukan?" Safa mengangguk menjawab pertanyaan Zidan. Zidan memberikan kecupan singkat di bibir calon istrinya.


"Mas." Protes Safa karena malu.


Lalu Zidan memberikan kode pada Leo. "Balik badan!" Perintah Leo pada anak buahnya agar mereka tidak melihat adegan ciuman atasan dan pasangannya itu.


Zidan kembali menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir merah Safa. Jantung Safa merasa berdebar. Bukan hanya karena mendapatkan ciuman dari kekasihnya tapi ciuman itu dilakukan di tempat umum. Namun, Safa mulai menikmati ciuman Zidan sehingga dia pun membalasnya.


Zidan melepas pagutannya. Dia menempelkan keningnya di kening Safa. "Terima kasih. Aku janji aku akan perbaiki sikapku."

__ADS_1


Zidan mengajak Safa masuk ke dalam mobilnya. Lalu Leo mengambil alih mobil Safa dan membawanya pulang.


"Mas, kita mau ke mana?" Tanya Safa.


"Seperti kataku tadi pagi, kita akan menemui mama," jawab Zidan.


Tapi sebelumnya aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. "Ke mana?" Tanya Safa.


"Nanti kamu juga tahu."


Zidan menghentikan mobilnya di sebuah pertokoan. "Ayo turun!" Ajak Zidan. Laki-laki itu menarik tangan Safa dan membawanya masuk.


"Hallo, Bos. Apa kabar?" Tanya seorang laki-laki yang memegang kamera.


"Baik. Bagaimana bisa kita mulai sekarang?" Tanya Zidan.


Laki-laki itu mengacungkan jempolnya tanda persiapan yang diminta oleh Zidan telah sempurna.


"Mari ikut saya!" Seorang pegawai fotografer tersebut mengajak Safa ke ruang ganti. Safa menoleh pada calon suaminya.


"Ikut saja! Aku juga akan berganti baju." Safa pun menurut kata Zidan.


Kedua wanita itu berjalan ke ruang ganti. "Ini baju yang disiapkan untuk anda." Pegawai tersebut memberikan sebuah gaun warna putih dengan aksen bunga dan hiasan yang sangat cantik. Safa menerima gaun yang dia berikan.


Lalu dia memasuki ruang ganti. Dia bercermin sambil memutar ke kiri dan ke kanan. "Apa anda sudah selesai?" Tanya pegawai tersebut. Safa keluar dari ruang ganti.


"Anda cantik sekali," puji pegawai wanita itu ketika melihat kecantikan Safa.


"Mari saya make up dulu." Safa duduk di depan meja rias.


Sementara itu Zidan telah memakai setelan tuxedo warna hitam. "Wah anda sangat tampan, Bos," puji teman Zidan yang tak lain adalah fotografer itu sendiri.


Setelah itu pegawai wanita tadi mengajak Safa ke studio untuk berfoto dengan calon suaminya. Safa berjalan perlahan karena dia memakai gaun yang lumayan ribet. Safa hampir saja terjatuh ketika kurang hati-hati dalam berjalan. Untung saja, Zidan dengan sigap menangkapnya.


Momen itu tidak diabaikan oleh fotografer. Dia menangkap gambar ketika Zidan dan Safa saling bertatap muka.


Cahaya yang silau membuat Safa terkejut. Setelah itu Zidan membantu dia berdiri. Namun, bukannya disuruh berjalan Zidan malah menggendong calon istrinya itu. Fotografer itu kembali menangkap gambar pasangan tersebut.


Sementara itu, Raina telah risau menunggu di rumah. "Mana anak itu? Katanya dia akan mengajak Safa kemari."


"Sofia mana adikmu? Dia sudah janji pada mama akan mengajak calon menantu mama."

__ADS_1


"Sedang diusahakan, Ma."


"Apa maksudmu? "Mereka sedang bertengkar?" Tebak Raina. Sofia mengangguk. Raina membulatkan matanya.


__ADS_2