Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Kesedihan Safa


__ADS_3

"Apa kamu bisa tidur?" Sebuah pesan dari Willy masuk ke ponselnya. Safa pun tak menghabiskan waktu untuk mengetik huruf demi huruf dia menelepon Willy.


"Will dimana anakku? Apa dia sudah tidur? Aku sangat merindukannya," tanya Safa sambil menangis.


"Tenang saja Mil, dia baik-baik saja bersamaku. See, aku bisa buktikan ke kamu kalau aku juga bisa mengurus anakku dengan baik bukan?"


"Apa maksud kamu Will?" Tanya Safa tidak mengerti.


"Aku ingin hak asuh Willa jatuh ke tanganku."


Ucapan mantan suaminya itu membuat Safa geram. "Jangan mimpi kamu Will. Aku tidak mau berpisah dari anakku," ucap Safa dengan tegas.


"Apa kau ingin kembali padaku agar kita bisa mengurus Willa sama-sama?" Willy memberikan tawaran pada mantan istrinya.


"Hah, jangan terlalu berangan-angan. Aku sudah tidak percaya padamu. Jangan harap kita bisa rujuk kembali," tolak Safa mentah-mentah.


"Baiklah, kamu lebih suka jika kita berselisih. Padahal aku sudah memberikan penawaran damai untukmu."


Safa menutup teleponnya sepihak. Namun, sesaat kemudian, teleponnya kembali berbunyi.


"Apa lagi?" Bentak Safa.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


Suara itu terdengar berbeda. "Mas Zidan? Maaf mas aku kira orang lain."


"Apakah ada yang mengganggumu malam-malam begini?" Tanya Zidan khawatir.


"Bukan siapa-siapa. By the way ada apa telepon selarut ini?"


"Aku hanya ingin memastikan kamu tidur dengan nyenyak malam ini," jawab Zidan.


"Aku tidak bisa tidur biasanya aku tidur sambil memeluk Willa. Tapi sekarang dia tidak bersamaku. Aku khawatir dia di sana juga tidak bisa tidur."


"Bagaimana kalau aku temani kamu ngobrol sampai kamu tertidur."


"Ngobrol apa?"

__ADS_1


"Kamu boleh cerita apa saja kepadaku aku akan siap mendengarkan."


"Bukankah seharusnya terbalik kalau aku yang ingin tidur maka kamu yang harus mendongeng," ucap Safa sambil terkekeh.


"Kamu ingin aku mendongeng apa?"


"Apa saja. Apa kamu mau nyanyi? Tapi aku tidak yakin suaramu bagus," ledek Safa diikuti tawa mengejek.


"Kalau boleh jujur aku memang tidak bisa menyanyi bahkan mendengarkan musik saja jarang sekali kulakukan." Zidan menjawab dengan jujur.


Belum sampai mengobrol lama, Safa sudah tertidur duluan tapi ponselnya masih menyala. Zidan yang menyadari tidak ada balasan dari Safa mengambil kesimpulan bahwa kekasihnya itu benar-benar sudah tertidur.


"Selamat tidur sayang. I love you," ucap Zidan sebelum menutup telepon.


Keesokan harinya Safa bangun Tapi kepalanya terasa pusing karena tidur sangat larut tadi malam.


"Mau saya buatkan sarapan apa Bu hari ini?" Tanya asisten rumah tangganya.


"Tidak, saya sarapan roti saja. Ini sudah terlalu siang untuk menunggu waktu memasak. Nanti saya akan pulang agak malam tolong siapkan makan malam saja."


Setelah itu Safa mengendarai mobil sendiri menuju ke rumah sakit. Jadwal prakteknya hari ini jam 09.00 tapi dia sengaja berangkat pagi untuk mampir ke rumah Willy terlebih dahulu. Kebetulan rumahnya searah dengan tempat dia bekerja.


"Semoga aku masih bisa bertemu dengan anakku," harap Safa.


Namun, ketika dia sampai di depan rumah Willy ternyata gerbang rumahnya sudah tertutup rapat. Safa turun dari mobil lalu mencoba mengintip dari dekat. "Apa mereka sudah berangkat ke sekolah Willa ya?"


Safa pun berinisiatif untuk ke sekolah wila dia memutar balik mobilnya menuju ke sekolah anaknya yang berjarak kurang lebih sepuluh menit dari rumah Willy.


Safa mengendarai mobilnya dengan kencang dia berharap bisa bertemu dengan Wira sebelum masuk ke kelas.


"Bisakah saya bertemu dengan Willa, anak saya?" Tanya Safa.


"Sepertinya dia tidak berangkat hari ini karena sampai bel masuk anaknya tidak ada," jawab guru yang biasa mengajar di kelas Willa.


Hati Safa merasa risau karena tidak menemukan anaknya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis matanya sudah memerah air matanya menggenang dan hampir saja menetes.


"Will, sebenarnya kamu membawakan aku ke mana?" Gumam Syafa dengan tubuh bergetar. Hari ini sungguh dia tidak bersemangat untuk bekerja rasanya ingin sekali mencari Willa sampai ketemu. Namun, sayangnya kewajibannya sebagai dokter tidak bisa dia tinggalkan.

__ADS_1


Safa akhirnya memutuskan untuk bekerja dulu setelah itu kembali mencari anaknya. Setiap kali ada kesempatan dia mencoba menghubungi nomor mantan suaminya tapi sayang sekali Willy sama sekali tidak mengangkat telepon dari Safa.


"Arrgh, dasar laki-laki brengsek. Kamu suka aja yang mempermainkan perasaan aku." Safa memukul mejanya dengan keras.


"Kenapa sih? Ada masalah? Cerita dong!" Tanya dokter Selly.


"Mantan suamiku membawa kabur anakku tanpa seizinku. Bahkan saat aku menghampiri rumahnya, mereka tidak ada di sana. Lalu aku pergi ke sekolah Willa tapi dia juga tidak berangkat sekolah hari ini. Aku bingung harus mencari mereka ke mana sedangkan Willy sama sekali tidak bisa dihubungi. Apa dia sengaja menjauhkan aku dari anakku sendiri?"


Selly memberikan pelukan kepada sahabatnya ketika melihat Safa menangis. "Kenapa kamu tidak meminta bantuan pacarmu saja? Bukankah dia memiliki banyak anak buah yang bisa diandalkan? Siapa tahu mereka bisa langsung menemukan keberadaan anakmu."


"Tidak, aku dan dia belum memiliki hubungan yang resmi. Aku tidak mau melibatkan dia ke dalam masalahku lebih jauh. Lagi pula orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami jadi untuk apa menyusahkan dia. Aku hanya ingin berusaha sendiri semampuku. Aku yakin cepat atau lambat aku akan menemukan anakku kembali." Safa mengucapkan setiap kata demi kata dengan yakin.


"Aku bantu doa ya semoga anakmu cepat ditemukan." Safa mengangguk menanggapi omongan sahabatnya.


"Oh ya mau aku pesankan kopi? Kebetulan aku mau keluar sebentar."


"Boleh deh, semalam aku tidak bisa tidur. Kepalaku rada pusing tapi ngantuk juga jadi aku minta moccacino satu."


"Baik pesanan akan segera datang. Kamu datang ke sini ya, nanti aku antar ke ruanganmu setelah aku kembali."


Tidak disangka ketika dokter Selly sedang memesan kopi dia bertemu dengan Zidan yang juga akan membeli kopi di cafe yang sama.


"Wah kebetulan sekali kita bertemu di sini," Selly tampak girang. Ia sudah tidak sabar menceritakan masalah Safa pada kekasih sahabatnya itu. Meskipun dokter Selly tipe wanita yang blak-blakan tapi dia tipe orang yang peduli terhadap sahabatnya. Jadi dia ingin kekasihnya tahu kalau Safa dalam masalah.


"Apakah anda punya waktu? Saya ingin bicara sebentar dengan anda."


"Mengenai masalah apa ya, Dok?" Tanya Zidan penasaran.


"Sebenarnya saya ingin menceritakan tentang masalah yang sedang dihadapi oleh kekasih anda, dokter Safa."


"Kenapa dengan dia? Masalah apa yang sedang dihadapi? Kenapa dia tidak bercerita kepada saya pantas saja semalam dia tidak bisa tidur sepertinya semalam dia habis menelepon seseorang sebelum berbicara melalui sambungan telepon dengan saya."


Dokter Selly hanya menggedikkan bahu. Dia tidak tahu semalam Safa ditelepon oleh siapa. "Yang saya tahu Willa belum kembali dari kemarin."


"Saya sudah tahu itu," jawab Zidan.


"Jadi apa yang akan anda lakukan untuk membantu sahabat saya? Saya tidak bisa melihatnya sedih. Jujur sebenarnya saya ingin membantu tapi saya tidak tahu harus membantu dengan cara apa."

__ADS_1


__ADS_2