Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Rumor


__ADS_3

Hari ini ketika pulang bekerja tiba-tiba mobil Safa macet di tengah jalan. Sialnya, dia berhenti di lokasi yang jauh dari tukang bengkel mobil. Safa sudah menengok kanan kiri tapi tidak ada seseorang yang bisa dimintai tolong karena sore itu hujan sangat lebat. Kemungkinan orang-orang malas keluar rumah.


"Kenapa harus sekarang sih?" Gerutu Safa.


Lalu dia memutuskan untuk memeriksa sendiri mesin mobilnya. Semenjak bercerai dengan Willy, Safa terbiasa melakukan pekerjaan apapun sendiri tanpa mengandalkan orang lain.


Dia lupa membawa payung sehingga dia terpaksa hujan-hujanan. Safa mencoba memeriksa kerusakan mesinnya. "Assial ternyata akinya soak," umpat Safa.


Kemudian ada sebuah taksi yang lewat di depannya. Safa pun menghentikan taksi tersebut. Dia meninggalkan mobilnya lalu pulang menggunakan taksi.


Sesampainya di depan rumah, Safa turun dari taksi setelah membayar uang pada sopir taksi tersebut. Tarjo terkejut melihat majikannya turun dari taksi tanpa membawa payung. Dia pun menaruh gelas kopi yang sedang dia pegang.


"Mobilnya ke mana Bu?" Tanya Tarjo heran.


"Saya tinggalin di jalan, Pak. Nanti tolong ambil ya! Soalnya mogok tadi. Nanti saya kasih tahu alamatnya lewat handphone," jawab Safa setelah itu masuk ke dalam rumah.


"Bunda kok hujan-hujanan sih?" Tanya Willa ketika dia melihat baju sang ibu basah kuyup.


"Iya, bunda lupa bawa payung," jawab Safa.


Kemudian Tumini memberikan handuk kering pada majikannya. "Mau saya siapkan air panas, Bu?" Tanya Tumini.


"Tidak usah, Mbak. Terima kasih. Saya bisa sendiri. Mama masuk dulu ya, nak," pamitnya pada Willa.


Keesokan harinya, Safa bangun dengan kepala yang berat tapi hari ini dia harus tetap bekerja di rumah sakit. Zidan tidak mengetahui keadaan Safa saat ini karena sejak kemaren mereka tidak saling menghubungi karena sama-sama sibuk dengan rutinitas masing-masing.


"Bu, nggak sarapan dulu?" Tanya Tumini.

__ADS_1


"Saya sedang tidak berselera, Mbak. David tidak pulang semalam?" Tanya Safa yang tidak melihat batang hidung adiknya saat ini.


"Tidak, Bu," jawab Tumini apa adanya.


"Sayang sudah selesai sarapannya? Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Safa pada putrinya. Willa meraih tangan sang ibu lalu berjalan bersama ke mobil.


"Bunda sakit ya? Tangan bunda hangat," kata Willa ketika menyentuh kulit ibunya. Safa hanya menggeleng sambil tersenyum.


Hari ini Safa diantar oleh Tarjo ke rumah sakit karena mobilnya sedang berada di bengkel. "Nanti siang mau saya jemput jam berapa, Bu?" Tanya Tarjo.


"Nanti saya hubungi lagi, Pak. Jadwal saya tidak menentu hari ini," jawab Safa. Tarjo pun mengangguk paham.


Setelah itu, Safa berjalan menuju ke ruangannya. Baru beberapa langkah kepalanya mendadak pusing. Lalu dia mampir ke toilet karena Safa merasakan mual.


"Huek, huek."


Setelah memuntahkan isi perutnya Safa keluar dengan keadaan lemas. "Dokter," sapa salah seorang perawat yang mengenalinya.


"Baik, Dok."


Setelah Safa keluar, mereka membicarakan Safa sambil berjalan menuju ke ruang asisten Safa.


"Jangan-jangan Dokter Safa hamil," tuduh perawat itu.


"Jangan asal ngomong kamu!" Sanggah temannya.


"Bisa saja kan. Kamu lihat tadi kenapa dokter Safa tidak berobat saja di sini? Kenapa dia malah memilih pulang? Itukan biar dia tidak ketahuan kalau lagi hamil."

__ADS_1


"Hush, kamu kalau punya mulut jangan asal nyablak."


"Siapa yang hamil?" Tanya Sofia ketika mendengar desas-desus yang sedang dibicarakan kedua perawat tersebut.


"Tidak, Dok."


Sofia menatap curiga pada keduanya. "Jangan suka menuduh tanpa bukti. Kalau belum tahu kebenarannya," ucap Sofia sambil berlalu. Dia tidak tahu siapa yang dibicarakan oleh kedua perawat tersebut tapi Sofia bukan tipe orang yang suka membicarakan orang lain. Oleh karena itu, dia memilih pergi.


Safa pulang menggunakan taksi. "Lho Bu ko jam segini sudah pulang?" Tanya Tumini khawatir. Dia melihat wajah Safa begitu pucat.


"Saya tidak enak badan, tolong buatkan teh hangat dan antarkan ke kamar saya!" Perintah Safa pada asisten rumah tangganya.


"Baik, Bu."


Safa naik ke atas. Dia pun mengganti bajunya kemudian naik ke atas ranjang.


"Bu, ini tehnya," teriak Tumini dari luar kamar.


"Masuk saja, kamarnya tidak dikunci."


Tumini meletakkan secangkir teh hangat di atas nakas. "Ada lain yang perlu saya kerjakan, Bu?" Tanya Tumini seraya memegang nampan di tangannya.


"Tidak usah, mbak Tumini bisa istirahat kalau sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah."


"Baik, Bu."


Sementara itu Zidan yang selesai meeting dengan kliennya mencoba menghubungi tunangannya. Namun, tidak ada jawaban ketika Zidan menelepon. Karena merasa khawatir, Zidan memutuskan untuk mencarinya di rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di sana dia merasa bingung saat mendapatkan tatapan tak biasa dari para pegawai di rumah sakit tersebut.


"Ada apa ini? Kenapa semua orang terlihat aneh?" Gumam Zidan.


__ADS_2