
Astrid melapor pada Zidan. "Maaf pak kita harus menunggu teman saya yang merupakan bawahan pak Willy mengabari saya terlebih dahulu."
"Kenapa begitu?" Tanya Zidan penasaran.
"Jadwal beliau tidak pasti menurut bawahannya," jawab Astrid.
"Baiklah kabari kalau ada perkembangan."
Pada pukul sebelas siang, Astrid mendapatkan pesan dari temannya. Lalu Astrid berbisik kepada Zidan karena mereka sedang rapat bersama karyawan lain.
"Pak Willy akan keluar Pak."
Zidan beranjak dari kursinya. "Astrid kamu lanjutkan selebihnya, saya tinggal dulu." Astrid mengangguk patuh. Sedangkan Zidan berjalan dengan cepat menuju ke tempat parkiran mobil. Tak lupa dia menghubungi dokter Safa.
"Sayang aku dalam perjalanan untuk mengikuti Willy kamu tunggu kabar dari aku selanjutnya." Zidan mengirim pesan suara kepada kekasihnya.
Dokter Safa tidak bisa meninggalkan ruangannya karena sedang ada seorang pasien yang berkonsultasi. "Bu bagaimana kalau kita diskusikan lain waktu karena hari ini saya ada jadwal penting di luar," usir Safa secara halus pada pasiennya.
"Baik, Dok."
Setelah memastikan pasiennya keluar, Safa melepas jas kerjanya. Dia menyambar tas lalu berjalan cepat menuju ke parkiran mobil.
"Mas beritahu aku! Kamu ada di mana? Aku sudah selesai praktek." Safaa mengirimkan pesan suara kepada Zidan.
Zidan melihat handphonenya bergetar namun dia tak lantas melihat pesan yang masuk. Saat ini dia fokus untuk mengejar Willy. Astrid telah memberitahukan kepada Zidan tempat di mana yang sering dikunjungi oleh Willy saat jam makan siang. Zidan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke restoran langganan Willy.
Sesampainya di sana Zidan melihat mobil Willy terparkir di depan restoran tersebut. Zidan melepas jasnya lalu memakai topi hitam agar Willy tidak mengenalinya. Dia menunggu sampai Willy keluar. Sembari menunggu dia membuka ponselnya lalu menjawab pesan singkat dari Safa.
"Aku sedang berada di restoran XX."
Setelah Willy keluar Zidan mengikuti mobil Willy dari belakang. Namun, baru berjalan beberapa meter, mobil Willy di hadang oleh mobil Safa. Zidan terkejut ketika Safa tiba-tiba berada di sana. Namun, dia tidak ingin gegabah. Zidan ingin mengamati terlebih dulu.
Safa keluar dari mobilnya. Willy pun demikian. Safa memberikan tamparan kepada Willy. "Di mana kamu sembunyikan anakku? Kembalikan dia padaku!" Bentak Safa. Emosinya sudah berada di ubun-ubun.
__ADS_1
Willy tersenyum menyeringai. "Kalau kamu ingin Willa kembali, ayo kita rujuk."
"Aku sudah bosan mendengar ajakan kamu itu. Kamu tahu sampai kapanpun aku tidak akan kembali padamu. Kamu laki-laki breng*sek yang pernah aku kenal," maki Safa.
Willy tidak terima dengan hinaan yang diberikan pada Safa. Dia pun mendorong Safa dan mencengkeram dagunya. Zidan tidak tinggal diam, dia keluar dari mobil lalu memukul Willy dari belakang.
Safa bersembunyi di belakang punggung Zidan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan pada kekasihnya." Safa menggelengkan kepala.
"Kamu hanya bisa menyakiti Safa," kata Zidan.
"Aku tidak akan menyakitinya kalau dia tidak memulai," jawab Willy.
"Dia hanya ingin anaknya kembali. Katakan! Di mana kamu sembunyikan Willa? Apa kamu belum puas menyiksa Safa?"
"Aku tidak akan memberitahu di mana Willa berada." Willy berbalik badan dan ingin masuk ke dalam mobilnya. Namun, Zidan memukul Willy. Mereka saling adu jotos. Safa bingung bagaimana cara memisahkan keduanya.
"Berhenti...." teriak Safa.
Dada Safa naik turun dan tangannya mengepal karena geram. "Willy katakan! Di mana anakku sekarang atau akan laporkan kamu ke polisi atas tindakan penculikan anak," ancam Safa.
"Kamu tidak bisa melaporkan aku atas tindakan penculikan anak karena aku ayahnya," bantah Willy.
"Siapa bilang? Tanpa sepengetahuanku kamu telah membawa lari Willa selama beberapa hari tanpa seizinku. Aku juga bisa membuat pihak sekolah bersaksi karena Willa sampai sekarang tidak masuk sekolah."
"Siapa bilang Willa tidak masuk sekolah? Setiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Tapi aku sudah memindahkan sekolahnya."
"Kamu keterlaluan."
"Kembali padaku maka kamu akan mendapatkan Willa." Willy masih berusaha mendapatkan Safa.
"Sudah kukatakan berkali-kali kalau aku tidak akan kembali padamu. Kamu tahu aku sekarang sudah memiliki calon suami." Safa memanas-manasi Willy.
"Jangan berbohong agar kamu bisa menolakku."
__ADS_1
"Siapa yang berbohong? Kamu tahu mas Zidan sudah melamarku," Safa mengangkat tangannya untuk menunjukkan cincin yang terpasang di jarinya.
Willy mengepalkan tangan karena geram. "Apa itu bukan cincin pernikahan kita yang dulu?" Willy meragukan omongan Safa.
"Kamu mau bukti yang lain?" Tanya Safa.
"Buktikan!" Tantang Willy.
Safa menarik tengkuk leher Zidan tiba-tiba, lalu dia menempelkan bibirnya. Zidan tersentak kaget ketika Safaa menciumnya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Namun, Zidan tahu Safa ingin memanas-manasi mantan suaminya itu. Zidan pun ikut ke dalam permainan Safa. Dia menikmati ciuman kekasihnya itu.
Willy tak tahan melihat mereka bermesraan di depannya. Dia langsung masuk ke dalam mobil lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Safa yang menyadari kepergian mantan suaminya itu kemudian mendorong Zidan. Wanita itu masuk ke dalam mobil dan berusaha mengejar Willy. Zidan juga tidak tinggal diam dia mengikuti kedua mobil di depannya.
Mereka saling kejar-kejaran. Willy yang tidak mau Safa mengetahui keberadaan Willa, mengendarai mobilnya sampai tidak terkontrol. Laki-laki itu menerobos lampu rambu lalu lintas sehingga dia tertabrak oleh mobil lain dari arah yang berlawanan.
Mobil Willy sampai berguling beberapa kali. Safa berteriak di dalam mobil ketika mengetahui Willy mengalami kecelakaan. Saat itu Zidan juga berhenti dan turun dari mobil.
Safa segera berlari ke arah mobil yang ditumpangi Willy. Dia menangis histeris melihat Willy yang terjepit di badan mobil. "Tolong selamatkan dia tolong!" Teriak Safa agar orang-orang di sekitarnya mau membantu mengeluarkan tubuh Willy.
Zidan berusaha mengeluarkan tubuh Willy sendirian lalu orang-orang yang ada di sekitarnya membantu Zidan. Safa tak tinggal diam, dia menelepon ambulan. Ketika Willy berhasil diselamatkan mobil ambulan yang dipanggil oleh Safa tiba tepat waktu.
"Kamu temani dia!" Perintah Zidan pada kekasihnya. Safa mengangguk setuju. Safa masuk ke dalam mobil ambulans bersama Willy. Meskipun dia berselisih paham dengan mantan suaminya itu tapi dia tidak tega melihat keadaan Willy saat ini. Tubuhnya berlumuran darah. Safa terus menangisi Willy.
"Aku mohon bertahanlah!" Ucapnya sambil menggenggam tangan kanan Willy. Wanita itu berharap dia bisa sadar secepatnya.
Willy dilarikan ke rumah sakit terdekat. Perawat segera menangani Willy setibanya di ruang ICU.
Dokter Selly tak sengaja melihat sahabatnya itu di depan ruang ICU. Dia tampak kacau tangannya juga berlumuran darah. "Safa apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kamu tampak seperti ini?"
"Willy, Sel, Willy, dia kecelakaan." Safa masih terus saja menangis.
Kebetulan dokter Selly adalah dokter spesialis bedah dan saraf. Dia masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi Willy saat ini.
__ADS_1