Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Omongan tetangga


__ADS_3

Pagi ini sopir yang bekerja di rumah Julian menemukan sebuah paper bag milik majikannya tertinggal di dalam mobil. Lalu sopir itu membawa masuk paper bag untuk diserahkan kepada majikannya.


"Selamat pagi Bu. Saya menemukan ini di mobil. Mungkin ini punya bapak karena semalam bapak yang terakhir kali memakai mobil yang saya bersihkan tadi pagi.


Raina melihat isi paper bag tersebut. Dia terkejut ketika mendapati isinya adalah mainan anak-anak perempuan.


"Bapak yakin ini ditemukan di mobil suami saya bukan mobil Zidan?" Raina memastikan.


"Benar Bu saya tidak bohong," jawab sang sopir.


Raina mengulas senyum lalu dia akan pura-pura tidak tahu mengenai paper bag itu. "Serahkan langsung saja pada bapak, beliau ada di kamar. Oh ya kalau ditanya jangan bilang kalau saya sudah melihat isinya." Perintah Raina pada sang sopir.


"Baik bu." Sopir itu mengangguk patuh.


Kemudian sopir itu pun mengetuk pintu kamar Julian.


Tok tok tok


Julian membukakan pintu ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Ada apa?" Tanya Julian.


"Saya menemukan ini di mobil bapak," kata sabar tersebut sambil memberikan paper bag yang ia pegang.


Julian clingak-clinguk. "Apa ada yang melihat saat kamu membawa paper bag ini?" Tanya Julian.


"Tidak Pak," bohongnya sesuai dengan permintaan istri majikannya.


"Bagus, kamu boleh keluar sekarang!" Sopir itu melenggang pergi.


Tak lama kemudian Leo datang ke rumah untuk menjemput Julian.


"Leo kamu cari ayah ya?" Tanya Sofia.


Sejenak Leo tertegun melihat kecantikan wanita yang berhijab tersebut. Meski menggunakan make up yang sangat tipis, kecantikan alami Sofia bisa membuat Leo terpana.


"Leo kamu baik-baik saja?" Tanya Sofia sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Leo.


"Oh iya maafkan saya." Leo tertunduk malu.


Tak lama kemudian Julian turun dari lantai atas. "Kita berangkat sekarang Leo! Perintah Julian pada asisten pribadinya tersebut.


"Ayah tidak melihat Zidan ke mana dia, Ma?" Tanya laki-laki yang sudah rapi dengan setelan jasnya.


"Sudah berangkat dari tadi," jawab Raina singkat.


Julian melihat jam yang melingkar di tangannya. "Memangnya kita ada meeting pagi hari ini Leo?" Tanya Julian pada asistennya.


"Seingat saya tidak ada, Pak."

__ADS_1


"Ya sudah kita berangkat!" Ucapnya pada Leo. Namun, sebelum itu Julian berpamitan pada istrinya. Sang istri mencium tangan suaminya lalu Julian memberikan ciuman singkat di kening Raina.


Leo selalu iri melihat ritual pagi sebelum atasannya itu berangkat kerja. "Kapan aku kaya gitu ya?" Batin Leo.


Sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Leo. "Ayah sudah jalan tuh dari tadi." Sofia mengingatkan. Leo buru-buru berjalan ke mobil. Sofia jadi terkekeh melihat tingkah Leo yang kadang-kadang lucu di matanya.


"Eh, aku kenapa mikirin dia sih," batin Sofia.


"Ma berangkat dulu ya," pamit Sofia pada ibunya.


"Sof nanti siang makan bareng yuk sama Willa?" Ajak sang ibu.


"Nanti aku lihat jadwalku dulu ya Ma. Sofia jadi heran sama mama kenapa seneng banget ngajak Willa jalan?"


"Seneng dong kan sama calon cucu," jawabnya. Setelah itu Sofia masuk ke dalam mobil.


*


*


*


Saat ini Zidan ada di depan rumah Safa. "Pagi sekali Mas?" Tanya Safa.


"Sengaja mau jemput kamu," jawabnya.


"Luar mana? Luar negeri? Luar kota?" Tanya Zidan posesif.


"Maksud aku di luar rumah sakit. Hari ini aku dah izin praktek."


"Ya sudah aku antar Willa saja," kata Zidan.


"Willa sudah berangkat mas sama pak Tarjo. Apa kamu tidak berpapasan dengannya?" Tanya Safa. Zidan menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah sendu.


"Maafkan aku ya," ucap Safa sambil mengelus pipi kekasihnya. Tak sengaja dia orang tetangga Safa yang lewat memperhatikan kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.


"Kenapa harus minta maaf?" Zidan menarik pinggang Safa dan menempelkan keningnya di kening kekasihnya.


"Mas, lepaskan. Nanti kalau ada tetangga yang lihat malu," ucap Safa.


"Biarkan saja, biarkan kita diarak satu kampung lalu dinikahkan. Itu memang tujuanku," ucapnya sambil tertawa.


Safa memukul dada bidang Zidan. "Yang benar saja." Zidan pun mengurai pelukannya.


"Ya sudah aku berangkat ya," pamit Safa.


"Iya, bareng aja," kata Zidan. Safa mengerutkan keningnya. "Maksud aku, kita berangkat sama-sama tapi pakai mobil sendiri-sendiri." Gemas Zidan lalu mencuri ciuman di bibir Safa.

__ADS_1


"Mas Zidan," protes Safa sambil memegangi bibir bekas ciuman sang kekasih.


Sesampainya di kantor, Zidan kaget ketika sang ayah menduduki kursi kerjanya. "Met pagi, Yah," sapa Zidan dengan ekspresi datar.


"Kata mama kamu berangkat tadi pagi kenapa jam segini baru nyampai?" Tanya Julian.


Zidan menarik ujung bibirnya. Dia melepas jas yang ia kenakan lalu menggantungnya di tempat yang disediakan. "Ayah perhatian sekali padaku hingga semua yang kulakukan harus melalui izin darimu," sindirnya.


"Zidan, besok kamu urus proyek kita yang ada di luar kota," ucap Julian.


"Apa? Kenapa mendadak sekali?" Tanya Zidan tak terima dengan keputusan ayahnya.


Awalnya Julian ingin menugaskan Leo tapi dia berubah pikiran karena Julian berpikir untuk memisahkan Zidan dan Safa meski sementara.


"Pokoknya besok pagi kamu yang urus bisnis kita yang ada di sana." Julian melempar berkas ke meja Zidan.


*


*


*


"Bu ibu tahu nggak kalau tadi pagi kita lihat dokter Safa mesra banget sama pacarnya." Ibu-ibu yang belanja di warung itu mulai menggosipkan janda beranak satu itu.


"By the way pacarnya ganteng nggak Bu?" Tanya salah seorang di antara mereka.


"Ibu nggak tahu ya pacarnya itu yang pernah bekerja sebagai sopir pribadinya dulu. Kalau ngga salah namanya mas Roni. Tapi anehnya sekarang dia bawa mobil sendiri terus pakaiannya itu lho pakai jas segala."


"Mungkin dia pindah kerja jadi sales kali Bu?"


"Iya, betul. Lha itu mungkin mobil inventaris dari kantor. Mana mungkin baru kerja bisa beli mobil. Orang suami saya yang kerjanya bertahun-tahun gajinya lebih gede dari sopir saja belum bisa beli mobil sampai sekarang."


"Iya, betul."


Mbak Tumini yang tak lain adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Safa mendengar omongan mereka. "Lagi ngomongin siapa ibu-ibu?" Tanya Mbak Tum pada ibu-ibu itu.


"Eh pembantu barunya dokter Safa ya?" Tanya salah seorang di antaranya memastikan.


"Emang bener ya Bu dokter pacaran sama mantan sopirnya?"


"Maksud ibu pak Zidan?"


"Zidan? Bukannya namanya Roni? Dulu kan kerja sama dokter Safa sebelum kamu dan suami kamu kerja di sana." Ibu itu memberi tahu.


"Ibu pernah nonton drakor nggak yang ceritanya orang kaya pura-pura jadi orang miskin karena pengen deketin wanita yang dicintai? Yaitu persis ceritanya dokter Safa sama pak Zidan," ucapnya sebelum pergi.


Mereka riuh membicarakan Safa dan pasangannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2