Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Salah paham


__ADS_3

Safa masih menunggu Zidan menjawab pertanyaannya. "Mas kok diem aja?"


"Em anu Yang. Itu, Itu..."


Tak lama kemudian seorang wanita membuka pintunya. "Ada apa ini?"


Safa membelalakkan mata ketika melihat seorang wanita mabuk keluar dari kamar tersebut. Safa langsung berbalik badan meninggalkan Zidan.


"Sayang, tunggu! Aku bisa jelaskan," teriak Zidan sambil mengejar kekasihnya.


Safa tak menghiraukan omongan Zidan. Dia masuk kembali ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam. Lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Dia menangis sambil memukul-mukul bantal.


"Sayang, tolong dengerin penjelasan aku dulu!" Zidan berbicara dari luar. "Sayang, bukain pintu ya kita ngobrol di luar." Tak ada jawaban dari Safa. Mereka tidak jadi keluar untuk makan malam.


Bahu Zidan meluruh ketika tak mendapatkan kesempatan dari Safa untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dia mengacak rambutnya kesal. "Bego, kenapa juga sok perhatian sama orang asing, jadinya kek gini kan." Dia masuk ke dalam kamarnya berharap besok pagi Safa akan memaafkannya.


Keesokan harinya Safa mendapati sebuah buket bunga yang di letakkan di depan pintu kamarnya. Dia berjongkok mengambil buket itu. Lalu Safa memeriksa nama pengirimnya.


Aku tidak mengenal wanita yang semalam itu. Aku hanya menolongnya saat dia terjatuh di depan kamarmu. Zidan.


"Curang. Dia menyogok dengan bunga sebagus ini," gerutu Safa. Lalu Safa meletakkan bunga itu di dalam kamar lalu keluar dengan perasaan bahagia karena dia sudah tidak curiga lagi pada Zidan.


Semudah itu? Ya, kadang perasaan wanita memang mudah sekali berubah. Hanya disogok dengan sebuket bunga Safa sudah luluh.


Sedangkan Zidan merasa risau sedari tadi. "Dia sudah membaca pesanku atau belum ya?" Batinnya dalam hati.


Usai menangani proyek Zidan menyempatkan diri menelepon kekasihnya itu. Jantungnya berdebar. Akankah Safa mengangkat telepon? Pikirnya.


"Hallo." Suara lembut itu terdengar dari balik telepon.


Zidan mengulas senyum lebar di wajahnya. "Hallo, sayang. Apa kamu sudah membaca pesan yang kuselipkan di buket bunga yang kuletakkan di depan pintu kamarmu tadi pagi?" Tanya Zidan panjang lebar.


"Iya, sudah. Maafkan aku karena sudah cemburu padamu," ucap Safa.


"Iya, aku juga minta maaf karena berani menyentuh wanita lain," kata Zidan.


"Menyentuh?" Tanya Safa.


"Hanya mengantarnya sampai kamar sayang tidak ada yang lain."


"Baiklah, ini untuk terakhir kali ya Mas. Aku tidak mau melihat kamu menyentuh wanita lain." Safa memperingatkan kekasihnya.


"Siap nyonya," jawabnya sambil bergurau membuat Safa terkekeh. "Nanti malam aku tunggu buat makan malam ya?" Imbuh Zidan.

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Gitu doang? Aku tidak pernah mendengarmu memanggil sayang padaku, kamu ini benar-benar mencintai aku apa tidak sih Yang?" Goda Zidan.


"CK, lebay. Udah ah aku mau balik lagi. Sampai ketemu nanti malam." Setelah itu Safa menutup telepon. Dia kembali mengikuti seminar sampai malam.


Selesai memeriksa proyeknya, Zidan bertemu dengan koleganya. "Apa anda Pak Zidan putra Pak Julian?" Tanya laki-laki itu memastikan. Dia tentu merasa asing pada wajah baru Zidan.


"Betul," jawabnya singkat.


"Ternyata benar rumor jika wajah anda telah dioperasi karena kecelakaan," ucapnya kemudian.


"Benar sekali. Anda ini?"


"Saya Ferdi kebetulan di proyek ini perusahaan saya sebagai kontraktornya." Dia memperkenalkan diri.


"Seneng bertemu langsung dengan anda," balas Zidan.


"Oh ya apakah besok malam anda mau menghadiri pesta ulang tahun perusahaan saya?" Tanya pria paruh baya tersebut.


"Tentu, dengan senang hati," jawab Zidan.


"Anda juga boleh membawa pasangan anda," bisiknya.


Di lobi hotel Safa berpisah dengan temannya. "Aku kembali ke kamarku dulu ya?" Pamit temannya.


Safa melambaikan tangan. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. "Hallo, Mas."


"Sayang, kamu sudah selesai?" Tanya Zidan melalui sambungan telepon.


"Hmm, sudah Mas. Baru saja keluar," jawabnya.


"Aku tunggu kamu di kamarku ya," balas Zidan.


"Kamar? Mau ngapain?" Tanya Safa curiga.


"Kamu akan tahu setelah sampai," jawabnya tak mau memberi tahu surprise yang telah dia persiapkan.


Setelah menutup telepon Safa berjalan ke kamar Zidan.


Tok tok tok


Zidan membukakan pintu. Safa mengintip dari luar. "Eits, aku punya surprise buat kamu. Pakai penutup mata dulu!" Perintahnya.

__ADS_1


"Harus ya pakai ginian?" Protes Safa. Zidan mengangguk. Zidan mulai mengikat sebuah kain ke kepala kekasihnya. Kemudian Zidan menuntun Safa berjalan hingga berada di depan meja. Dia mendudukkan Safa di sebuah kursi. Setelah itu barulah dia melepas penutup matanya.


Safa menutup mulutnya karena kagum melihat hidangan yang banyak di depan matanya. Juga kamar yang di dekor sedemikian rupa dengan lampu temaram.


"Apa ini Mas?" Tanyanya dengan perasaan bahagia.


"Aku ingin menikmati waktu berdua kita dengan semaksimal mungkin. Apa aku berlebihan?" Zidan meminta pendapat pada kekasihnya.


"Tidak sama sekali. Ini seperti dalam dongeng," ungkap Safa.


Sementara Safa dan Zidan sedang menikmati candle light dinner di hotel, Willa sedang mewarnai di rumah sambil selonjoran. "Aki ini bagusnya warna apa?" Tanya Willa pada Julian.


"Warna ungu," jawab Julian asal.


"Aki mana ada gunung warna ungu? Warna ungu ya cocoknya buat terong," balas Willa.


Julian menoleh mendengar celoteh anak kecil itu. "Ampun ni anak berisik banget sih," gerutu Julian. Lalu dia mengambil gambar Willa dan memberi contoh cara mewarnai gunung.


"Wah, aki hebat. Ada bakat melukis. Kenapa tidak jadi pelukis saja Ki, nanti lukisannya bisa dijual di pinggir jalan gitu kan laku banyak," ucap anak kecil itu dengan polos.


Raina dan Sofia tertawa mendengar celoteh Willa. Bisa-bisanya seorang Julian disuruh menjual lukisan di pinggir jalan. Julian ingin sekali marah tapi tiba-tiba Willa menghapus cat air yang menempel di pipinya.


"Besok-besok hati-hati ya Ki kalau lagi gambar pakai cat air. Nih wajah aki yang ganteng jadi cemong," ucapnya sambil terkikis karena meledek Julian.


Raina dan Sofia tegang menunggu reaksi Julian.


"Kamu ini kenapa menggemaskan sekali sih?" Julian menggendong Willa lalu menggelitikinya. Raina dan Sofia terlihat lega karena laki-laki itu tidak marah sama sekali pada anak kecil itu.


"Kamu mau mainan tidak?" Tanya Julian.


"Mau, Ki," jawab Willa antusias.


Lalu Julian menggandeng tangan mungil Willa dan mengajaknya naik ke lantai atas.


"Kamu lihat nggak ekspresi ayahmu. Mama deg degan lho tadi. Mama kira dia akan memarahi Willa," kata Raina.


"Sofia juga Ma. Tapi Sofia tahu kok sebenarnya ayah tu baik sama anak kecil."


"Kamu tahu nggak, kemaren ayahmu diam-diam beli mainan buat Willa," ungkap sang ibu.


"Oh ya? Dari mana mama tahu?" Tanya Sofia.


"Dari sopir yang waktu itu menemukan paper bag yang ketinggalan di mobil ayahmu."

__ADS_1


"Jadi ayah sebenarnya suka sama Willa tapi dia tidak mau mengakui." Sofia menarik kesimpulan. Raina mengangguk setuju.


__ADS_2