Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Salah Paham


__ADS_3

Hallo para pembacaku kenalan sama tokohnya yuk



Dokter Safa



Mas Zidan


...♥️♥️♥️...


"Ada apa ini kalian datang beramai-ramai?" Tanya Pak Tarjo yang berjaga di depan gerbang rumah Safa.


"Saya lihat Bu dokter bawa pulang laki-laki ke rumah."


"Iya, betul." Ramai sekali orang membicarakan dokter Safa.


"Wajar saja mereka itu sudah bertunangan," jawab Tarjo.


"Tapi tidak tiap hari juga Pak. Masa nggak keluar-keluar dari tadi saya perhatikan," sahut seorang wanita.


"Bukain, Pak!" Desak orang-orang itu. Mereka merusak pagar rumah Safa karena Tarjo tak kunjung membukanya.


"Berhenti kalian!" Teriak Tarjo menghalangi semuanya masuk.


Orang-orang itu mencari Safa dan kekasihnya hingga ke dalam kamarnya.


Bruak


Mereka membuka pintu kamar dengan kasar. Semua orang membulatkan matanya ketika melihat Zidan sedang menindih Safa.


"Memalukan," gumam mereka.


Zidan memperbaiki posisinya. Dia bangun begitu juga dengan Safa.


"Tuh kan, Bu. Mereka berbuat mesum padahal ada anaknya yang sedang tidur," seru di antara mereka.


"Jangan salah paham dulu, Bu." Safa benar-benar panik. Dia bingung bagaimana menjelaskannya.


"Nggak salah paham bagaimana? Ayo bawa saja!" Mereka menarik tangan Safa dengan paksa.


Zidan melepas tangan Safa yang ditarik. "Lepaskan!" Ucapnya dengan nada dingin. Dia menatap tajam ke arah orang yang memegang tangan Safa. "Kalian bisa sopan tidak jika bertamu di rumah orang?" Zidan berbicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


Semua orang diam. "Kamu yang diam! Perbuatan kalian sangat memalukan! Pergi kalian dari wilayah kami!" Usirnya.


Zidan mengembuskan napasnya kasar. "Bisakah kalian dengar penjelasan kami dulu?" Pintanya baik-baik.


"Buang-buang waktu. Ayo kita seret saja ke rumah kepala RT!" Mereka sama sekali tidak mau mendengar penjelasan Zidan.


Willa terbangun dan menangis sekencang-kencangnya ketika melihat orang-orang itu menyeret ibunya. Tumini lalu menggendong Willa agar dia lebih tenang.


"Bunda mau dibawa kemana, Bi?" Tanya Willa di sela tangisannya. Tumini tak menjawab dia hanya memeluk Willa dengan erat.


Sesampainya di rumah kepala RT, Zidan dan Safa diintrogasi. Zidan menjawab semua pertanyaan dengan jujur tapi mereka masih meragukan Zidan.


"Jadi mau kalian apa?" Tanya Zidan kesal. Safa menarik kemeja Zidan agar dia meredam emosinya.


"Nikahkan saja mereka!" Sahut seorang wanita yang ikut menyaksikan.


Zidan menarik ujung bibirnya. "Kalian pikir saya tidak mau menikahi dia? Tentu saja, tapi kalian tahu kenapa aku menunda pernikahan?" Tanya Zidan pada orang-orang itu. "Orang tua kami tidak merestui," sambung Zidan.


"Masa bodoh kalian harus menikah sekarang juga!" Paksa orang-orang itu.


Safa sudah tidak tahu mau berbuat apa lagi untuk membela dirinya. Dia hanya pasrah dan mengandalkan Zidan. Zidan berpikir ini kesempatan bagus untuk meyakinkan ayahnya. "Baik, saya akan memanggil orang tua saya untuk membicarakan ini," kata Zidan.


Safa menunjuk dirinya sendiri. "Lalu bagaimana denganku?" Tanya Safa dalam diam. Zidan mengedipkan mata seolah menjawab agar Safa tetap tenang.


"Apa yang terjadi?" Tanya Julian curiga.


"Datang saja! Ayah akan tahu setelah ayah kemari. Bawa juga Leo dan bodyguard ayah!" Pinta Zidan.


"Ada apa Yah?" Tanya Raina khawatir saat melihat wajah suaminya yang tegang setelah mendapat telepon dari anaknya.


"Sepertinya Zidan dalam masalah, Ma. Dia menyuruh ayah membawa Leo dan bodyguard ayah." Raina terkejut hingga memegang dadanya.


"Cepat tolong dia, Yah!" Pintanya pada sang suami. Julian mengangguk. Setelah itu dia menghubungi Leo dan berangkat ke rumah Safa.


Sesampainya di rumah Safa, Julian beserta anak buahnya tidak melihat apapun. Keadaan rumah tampak sepi. "Di mana Zidan?" Tanya Julian pada Tarjo.


"Anda siapa?" Tanya Tarjo yang baru pertama kali melihat Julian.


"Aku orang tuanya, kenapa rumahnya sepi sekali?" Tanya Julian curiga.


"Mereka ada di rumah kepala RT, Pak," lapor Tarjo.


"Apa? Bagaimana bisa?" Julian geram mendengarnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera ke sana pak. Jangan menunda lagi saya takut terjadi apa-apa dengan majikan saya. Eh sama pak Zidan juga." Tarjo menunjukkan jalan sampai ke rumah kepala RT.


"Kenapa lama sekali, memangnya rumahmu di luar kota?" Sindir salah seorang warga yang lama menanti kedatangan orang tua Zidan.


Tak selang beberapa lama segerombolan laki-laki berpakaian rapi datang ke rumah kepala RT. "Saya ingin bertemu dengan anak saya Zidan," kata Julian pada orang-orang itu.


"Yah, aku di sini," teriak Zidan karena seseorang menghalanginya keluar.


"Kenapa kalian menangkap dia?" Tanya Julian pada warga yang ada di sana.


"Mereka sudah berbuat mesum pak. Kami tidak terima wilayah tempat tinggal kami dijadikan tempat mesum."


"Apa anda punya bukti?" Tanya Julian dengan tegas.


"Kami sudah melihat perbuatan mereka saat kami mendobrak kamar dokter Safa," jawab salah seorang di antara mereka.


"Leo," panggil Julian. Leo pun mendekat.


"Periksa apa ada CCTV di kamar wanita itu." Tunjuk Julian pada Safa. Leo menuruti perintah atasannya.


"Ayah," protes Zidan karena ayahnya terlihat tak menghargai Safa. Safa mengepalkan tangan karena menahan kesal.


"Kita tunggu asisten saya memeriksa hasil CCTVnya, saya akan menghukum mereka jika benar berbuat mesum," kata Julian dengan tegas sambil melirik pada Zidan dan Safa.


Sambil menunggu Leo, Zidan berbincang dengan ayahnya. "Yah kenapa ayah tidak menikahkan aku dengan Safa saja seperti mau mereka?" Bisik Zidan ke telinga ayahnya. Julian menatap tajam ke arah anaknya. Dia tersenyum sinis.


"Jadi ini akal-akalanmu saja agar aku menikahkan kalian?" Tuduh Julian. "Jangan harap. Aku akan memisahkan kalian sebisa mungkin," ancamnya.


"Semakin ayah memisahkanku dengan Safa maka aku akan semakin nekad. Aku bisa saja membawanya lari. Lagi pula laki-laki tidak perlu wali saat menikah," tantang Zidan.


Julian ingin sekali menampar mulut Zidan yang lancang itu tapi dia mencoba menahan diri karena berada di antara banyak orang.


Tak lama kemudian Leo kembali dan membawa bukti kalau mereka tidak melakukan hal mesum. Semua orang menyaksikan video CCTV yang diputar di handphone Leo.


"Jadi apa anak saya bersalah?" Tanya Julian pada semua warga yang ada di sana.


Semua orang menunduk karena merasa bersalah. "Maafkan kami, Pak. Warga terlalu emosi." Kepala RT mewakili semua warganya yang berada di sana.


Julian pergi begitu saja. Leo dan bodyguardnya mengikuti dari belakang. Sedangkan Zidan membantu Safa berdiri karena syok badannya merasa lemas. Baru beberapa langkah berjalan Safa malah pingsan.


Julian melirik sekilas. "Merepotkan saja," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


Karena jarak rumah kepala RT ke rumah Safa lumayan jauh, Zidan meminta kunci mobil pada Leo. "Tapi Pak..." Belum selesai Leo berbicara Zidan mengambil kunci mobilnya begitu saja. Dia masuk lalu menyalakan mesin mobil.

__ADS_1


"Dasar anak kurang ajar," umpat Julian ketika menyadari dia ditinggalkan.


__ADS_2