
Sudah lama Zidan tidak menemui Safa. Selama ini Julian menjaga ketat putranya itu. Kemanapun dia pergi, Zidan selalu dikawal oleh bodyguard. Bahkan setiap kali dia mengirim pesan pada Safa, Julian bisa mengetahuinya. "Leo aku ingin bertemu dengan adik iparku," kata Zidan.
Leo mengangguk patuh. "Baik, Pak. Akan saya atur jadwalnya," jawab Leo. Setelah itu Leo menemui David di rumah sakit. Saat ini David praktek di rumah sakit yang sama dengan Safa.
Lulusan universitas kedokteran di luar negeri menjadikannya mudah melamar kerja di manapun. David termasuk dokter yang ramah dan murah senyum. Dia juga suka bercanda. Ketika melihat Sofia berjalan seorang diri, David mendekatinya. Menurutnya dokter Sofia adalah wanita tercantik selain kakaknya. Pembawaan wanita itu tenang dan sifatnya yang lembut membuat David jatuh hati pada pandangan pertama.
"Assalamualaikum ukhti," godanya pada wanita berhijab itu.
Dokter Sofia tersenyum. "Waalaikumsalam akhi," jawab Sofia dengan lembut.
Keduanya pun berjalan beriringan. Di saat yang bersamaan, Leo melihat mereka. Ada rasa sesak di dadanya ketika melihat wanita yang dia suka berjalan dengan laki-laki lain. Namun, dia memberanikan diri untuk menemui David. "Dokter David bisa bicara sebentar." Leo menyela obrolan antara David dan Sofia.
Sofia menatap penuh tanya pada asisten pribadi adiknya itu. "Leo, ada apa mencari David?" Tanya Sofia curiga.
Leo tersenyum menanggapi pertanyaan Sofia. Sofia jadi bingung.
"Dokter bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Leo meminta waktu David. Zidan tidak mengizinkan siapa pun mengetahui keinginannya untuk bertemu David. Meskipun Sofia bukan tipe pengadu pada ayahnya.
"Baik, bicaralah di sini," jawab David.
Leo melirik ke arah Sofia. Lalu Leo membisikkan sesuatu ke telinga David. "Atasan saya ingin bertemu dengan anda, Pak."
"Atasan kamu? Siapa atasan kamu?" Tanya David dengan suara lantang. David memang belum pernah bertemu dengan Zidan. Bahkan Safa pun tidak pernah menyinggung nama Zidan di depan David. Wajar jika dia mengenalnya.
Sofia pun membulatkan mata saat menatap Leo sambil berkacak pinggang. Leo jadi menunduk.
"Dokter David anda bisa percaya sama Leo," bujuk Sofia. Meskipun dia tidak mengetahui alasan Zidan yang ingin bertemu dengan David tapi sebagai kakak dia selalu mendukung Zidan.
"Baiklah, ini karena permintaan dokter Sofia yang cantik," ucap David sambil mengedipkan matanya sebelah. Leo mengepalkan tangan melihat tingkah menyebalkan David.
"Dasar kadal buntung," umpat Leo dalam hati pada David.
Leo membawa David ke parkiran mobil. Lalu membuka pintu mobil untuk David. "Silakan masuk!" Ucapnya pada David. David mengintip orang yang berada di dalam mobil. Lalu melihat sekilas pada Leo. Leo mengangguk.
David masuk dan duduk di samping Zidan. "Hallo." Zidan mengulurkan tangan.
__ADS_1
"David." Pemuda itu menyebutkan namanya dan membalas uluran tangan Zidan.
"Aku tahu," jawab Zidan.
"Tidak usah basa-basi jadi apa urusan anda mencari saya?" Tanya David ketus.
Zidan mengulas senyum sejuta Watt. "Tolong berikan ini pada kakakmu." Zidan memberikan sebuah kotak pada David.
David mengerutkan keningnya. "Apa ini?" Tanya David tidak mengerti. Ia hampir saja menolaknya.
"Tolong berikan pada kakakmu!" Pinta Zidan.
"Kenapa kamu tidak memberikannya sendiri atau meminta orang mengirimnya untuk kakakku?"
"Aku ingin meminta bantuan calon adik iparku. Apa tidak boleh?" jawab Zidan dengan percaya diri.
David tertawa sinis. "Anda sangat percaya diri sekali mengatakan itu. Apa kakak saya mencintai anda?" Tanya David setengah meledek.
"Sangat, kami saling mencintai," batin Zidan dalam hati. Dia tak mau mengumbar omongan karena dia melihat David belum percaya padanya. Zidan hanya berharap bantuan David agar memberikan hadiah berupa perhiasan yang ditaruh di dalam sebuah kotak pada Safa.
David mengembalikan kotak hadiah itu pada Zidan. "Aku tidak akan memberikan hadiah dari anda padanya. Kami juga mampu membeli hadiah seperti ini," kata David sebelum dia keluar.
Zidan memejamkan matanya melihat kepergian David. Rasanya menyakitkan karena dia ingin memberikan hadiah itu pada Safa tapi tak tahu cara penyampaiannya. Bahkan meminta tolong pada calon adik iparnya pun ditolak. Sedangkan meminta Leo hanya akan membuat ayahnya marah. Karena orang-orang di sekitarnya pasti akan melapor pada sang ayah. Julian bagai memiliki CCTV berjalan.
Leo melihat kekesalan di wajah David. David mengira Zidan adalah laki-laki yang terobsesi pada kakaknya.
"David kamu dari mana?" Tanya Safa yang tak sengaja berpapasan dengan adiknya. David menoleh ke arah mobil Zidan tapi tak sepatah kata pun yang terucap. Dia pergi meninggalkan kakaknya. Sedangkan Safa melihat dengan jelas wajah kekasihnya itu. Matanya berkaca-kaca karena sangat merindukan laki-laki yang dia cintai.
"Sampai kapan hubungan ini bertahan tanpa kejelasan seperti ini, Mas?" Gumam Safa seorang diri.
Zidan juga memperhatikan Safa dari jauh. Rasanya dia ingin memeluk dan mencium kekasihnya itu dengan puas. Namun, tembok penghalang di antara mereka amatlah kuat. Zidan ingin sekali menghancurkan tembok itu tapi dia masih belum bisa. Julian sangat keras kepala. Sulit sekali mengambil hatinya.
*
*
__ADS_1
*
"Zidan, ayah sudah mengatur jadwal kencanmu dengan anak kolega kita," kata Julian memberi tahu.
Zidan mengepalkan tangannya. "Ayah, bisakah ayah berhenti mengaturku. Aku berhak menentukan siapa yang kelak akan menjadi pasanganku. Aku bukan anak manja yang harus dijodohkan seperti zaman Siti Nurbaya," ucap Zidan penuh penekanan.
Selama ini Zidan hidup bebas. Julian tidak pernah melarang keinginannya. Bahkan dia tipe ayah yang sangat memanjakan anaknya. Tapi entah kenapa saat Zidan memilih janda sebagai pasangannya, Julian sangat menolak.
"Baik, ayah akan memenuhi permintaanmu jika kamu bisa berdiri di kakimu sendiri," tantang Julian.
"Apa yang ayah inginkan dariku?" Tanya Zidan.
Julian tersenyum licik. Dia telah merencanakan sesuatu untuk Zidan.
*
*
*
Safa mengirim pesan suara pada Zidan.
"Mas, bisakah kita bertemu? Besok di taman belakang rumah sakit jam 10 pagi."
Setelah mengirim pesan itu keesokan harinya, Safa menunggu Zidan di taman belakang rumah sakit. Hari ini dia menunggu di bawah pohon yang teduh.
10 menit
30 menit
1 jam
Zidan tak terlihat sama sekali batang hidungnya. Safa merasa kecewa. Padahal dia ingin kejelasan hubungannya dengan Zidan. Safa pergi dari tempat itu karena dia tidak bisa menunggu lagi.
Rasa kesal, marah, dan benci bercampur menjadi satu di hati Safa. "Aku kecewa sama kamu, Mas," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Di sisi lain Zidan berangkat ke bandara. Dia membuka handphonenya sebelum masuk ke pesawat. Zidan mengerutkan keningnya ketika mendapati pesan Safa sedang menunggunya di taman saat ini.
Zidan berbalik tapi Leo menghalangi. "Pak, ingat ini adalah cara anda bisa membuktikan pada ayah anda kalau anda bisa berdiri di kaki anda sendiri." Leo mengingatkan atasannya itu. Zidan tidak bisa berbuat apa-apa.