
Hari ini Safa akan menghadiri pernikahan Selly dan Willy. Dia juga mengajak Willa untuk memberikan selamat kepada ayahnya.
"Ya ampun bumil, makasih ya udang dateng ke acara pernikahanku ini," kata Selly yang tampak mengagumi perut sahabatnya itu.
"Mas aku jadi ingin cepat-cepat hamil kaya Safa." Semua orang terkekeh mendengar candaan mempelai wanita.
Tiba-tiba Safa merasakan perutnya mulas. "Mas aku capek berdiri bagaimana kalau kita duduk dulu," kata Safa sambil memegangi perutnya. Zidan membantu istrinya duduk.
Ia mengira itu hanya kontraksi palsu. Karena akhir-akhir ini ia sering merasakannya. Tapi yang ia rasakan saat ini semakin lama semakin sakit.
"Mas Zidan sakit sekali mas. Sepertinya aku ingin melahirkan," teriak Safa. Zidan dan tamu yang hadir di acara pernikahan itu pun sontak kaget.
"Bagaimana ini? Bertahanlah sayang." Zidan sangat panik. Apalagi melihat istrinya kesakitan.
"Bang, biar aku yang bawa mobil. Kita bawa istrimu ke rumah sakit sekarang," kata David.
__ADS_1
Sebelum berangkat, Zidan menitipkan Willa pada ayah kandungnya.
Sedari tadi Safa meremas tangan suaminya untuk mengalihkan kesakitan yang ia alami.
"Mas, sakit sekali mas, aku hampir nggak kuat Mas." Safa menitikkan air mata. Begitu juga dengan Zidan, dia tak tahan melihat sang istri yang selalu ceria kini malah menangis terus menerus.
"Mama," teriak Safa. Dia merindukan sosok ibunya.
"Udah sampai, Bang," David menghentikan mobilnya di depan UGD. Zidan segera turun dan menggendong istrinya meskipun sekarang beratnya makin bertambah tapi tak ia hiraukan.
"Kamu bertahan, aku akan hubungi orang tua kita."
"Mas jangan pergi, temani aku," pinta Safa di sela isak tangisnya.
"Aku di sini, Sayang," kata zidan sambil membungkuk. Ia melihat detik-detik sang istri berjuang melahirkan putranya.
__ADS_1
David memberi tahu kalau pembukaan yang dialami Safa tidak juga bertambah setelah hampir setengah hari di rumah sakit. "Tidak ada jalan lain, kita lakukan operasi sesar," putus David sebagai penanggung jawab sekaligus dokter yang menangani kakaknya saat ini.
Safa dibawa ke ruang operasi. Semua orang menunggu kelahiran cucu dan anak mereka. Willy dan Selly yang notabene adalah pengantin baru juga ikut hadir di sana karena mereka peduli dengan keselamatan Safa.
Semua keluarga telah menunggu di depan ruang bersalin dalam keadaan cemas. Ketika terdengar suara tangis bayi, semua orang bersorak.
"Adikku udah lahir," kata Willa bersorak gembira.
"Selamat, Bang. Anakmu laki-laki," kata David memberi tahu.
Zidan menangis haru setelah mengetahui anak dan istrinya selamat. "Terima kasih banyak Dave," Zidan menempuh pundak adik iparnya itu.
"Untuk sementara kalian bisa melihat bayinya di ruang perawatan khusus bayi," David memberikan pengumuman pada keluarga besarnya.
...***...
__ADS_1
Setiap ada kelahiran pasti semua orang akan merasa senang. Karena kehidupan dimulai sejak bayi itu lahir. Bayi yang lahir ke dunia ini adalah manusia yang suci. Maka tidak ada sebutan anak haram bagi bayi mana pun. Karena mereka diciptakan dari proses yang halal. Hanya saja beberapa di antara manusia itu banyak yang melakukan kesalahan dengan berbuat dosa sebelum menikah. Padahal pernikahan sejatinya untuk menghasilkan anak yang akan dididik dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
...TAMAT...