Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Terhalang restu orang tua


__ADS_3

"Berhenti!" Teriak Safa setelah turun dari mobil.


Safa mendekat untuk menjemput anaknya. "Maaf, Ibu harus menyaksikan pertengkaran mereka," ucap Safa tidak enak pada guru Willa. Ibu guru tersebut memaklumi.


Safa merasa malu karena kedua laki-laki yang dia kenal bertengkar di depan sekolah Willa.


Safa membawa Willa masuk ke dalam mobil. Dia berjalan melewati kedua laki-laki dewasa itu.


"Mil, tunggu!" Teriak Willy. Ia ingin menyusul Safa dan anaknya tapi tak sempat.


Willy pun mengikuti mobil Safa. Sedangkan Zidan memilih untuk kembali ke kantor. Dia menyadari kesalahannya.


Sesampainya di rumah sakit, Safa yang baru turun dari mobil menghentikan langkahnya ketika melihat Willy menghadap.


"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Safa dengan ketus. Tangannya mengandeng tangan kecil sang putri.


"Izinkan aku membawa Willa bersamaku."


Safa menoleh ke arah anaknya. "Willa apa kamu mau ikut dengan ayah?" Tanya Safa pada putrinya. Willa menggeleng dan bersembunyi di belakang Safa.


"See, dia nggak mau ikut sama kamu."


"Tapi sudah lama aku tidak bersamanya." Willy tetap ngotot.


Safa menghela nafas. "Wil, kamu tidak pernah berubah. Jangan memaksa anakmu kalau dia tidak mau."


"Aku akan tetap membawa Willa." Willy meraih paksa tangan anaknya.


"Wil berhenti! Jangan paksa Willa, atau aku teriak," ancam Safa.


"Kenapa kamu selalu bersikap tidak adil padaku?" Protes Willy.


"Nggak adil gimana sih Wil? Udahlah kamu ngalah aja Willa jadi ketakutan melihat kita bertengkar."


Safa menggendong Willa masuk ke ruang sakit. "Sayang kamu jangan takut ya. Maafkan Bunda." Safa makin mengeratkan pelukannya.


Ketika waktunya pulang, Safa dan Willa ingin nebeng dokter Selly. Tapi rupanya Zidan telah menunggu kekasihnya itu di tempat parkir. Zidan tersenyum ke arah Safa.


"Kayaknya kamu nggak perlu nebeng aku lagi," ucap dokter Selly lalu pergi meninggalkan Safa menuju ke mobilnya. Dia tidak mau mengganggu sahabatnya.


"Papa," Willa berhambur ke arah Zidan. Anak kecil itu memeluk kaki Zidan. Zidan mengeluarkan sebuket bunga mawar merah dari balik punggungnya untuk Safa.


Safa menyembunyikan rasa bahagianya ketika melihat Zidan memegang bunga di tangannya. Laki-laki itu mengayunkan buket bunga tersebut ketika sang kekasih tak juga menerimanya.

__ADS_1


Safa yang tersadar dari lamunan menerima buket dari Zidan. "Aku ingin minta soal kejadian tadi siang," ucap Zidan.


"Maafin, maafin, maafin," Willa bersorak.


Zidan menahan tawa melihat Willa yang seperti pemandu sorak. Safa jadi merasa malu. Wajahnya berubah merah.


"Gimana? Dimaafin nggak?" tanya Zidan sekali lagi.


Safa tampak berpikir sejenak. "Dimaafin, tapi awas ya kalau berkelahi lagi," ancam Safa. Zidan mengangguk patuh.


Lalu Zidan membukakan pintu untuk kekasihnya. Ia mengantarkan Safa dan Willa pulang ke rumah.


Namun, di tengah perjalanan tanpa mereka sadari, mobilnya berpapasan dengan mobil Julian. "Bukankah itu Zidan dan..." Dia tak meneruskan kata-katanya.


"Oh ya aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencari sopir dan asisten rumah tangga untukmu," lapor Zidan.


"Baiklah terima kasih. Aku memang membutuhkan kedua pegawai itu," kata Safa.


"Aku pastikan mereka sampai di rumahmu besok pagi." Zidan berjanji kepada kekasihnya. Dia selalu bersemangat jika membantu kekasihnya.


Sesampainya di kediaman Safa, Zidan langsung pulang setelah menurunkan Safa dan anaknya. Safa melambaikan tangan ke arah kekasihnya.


*


*


*


Terdengar suara mesin mobil yang baru dihentikan dari luar. Zidan memasuki rumahnya sambil menimbang kunci yang ada di tangannya. Wajah laki-laki itu terlihat bahagia mengingat Safa telah memaafkan dirinya.


"Ayah mau bicara!" Julian menghentikan langkah Zidan ketika akan menaiki tangga.


Zidan menoleh. "Ada apa, Yah? Apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya Zidan.


"Duduklah!" Zidan mengikuti perintah ayahnya.


"Apakah kamu serius mengenai hubunganmu dengan janda beranak satu itu?" tanya Julian pada anaknya.


Zidan mengerutkan keningnya. "Kenapa ayah tiba-tiba menanyakan soal itu? Apa Ayah berencana melamarnya untukku?" Goda Zidan. Dia memang suka sekali membuat sang ayah tersenyum.


"Anak ini," Julian pura-pura mengangkat tangannya untuk memukul. Tidakkah kamu memiliki pilihan lain selain dia? Kamu tahu tidak tadi siang ketika kamu pergi ayah datang ke kantormu. Karyawanmu membicarakan tentang hubunganmu dengan janda itu."


Zidan menarik ujung bibirnya. "Lalu apa masalahnya?"

__ADS_1


"Tentu saja aku merasa malu, aku bahkan ingin menutup mukaku di depan mereka."


Zidan terkekeh mendengar ucapan ayahnya. "Jangan berlebihan yah. Hanya karena statusnya sebagai seorang janda ayah tidak menghargainya. Memangnya apa kekurangan Safa? Dia wanita yang baik, selama ini aku belum pernah menemui wanita sebaik dia?"


"Kamu lupa pernah tergila-gila pada istri sepupumu?" Julian mengingatkan tentang masa lalu Zidan yang tertarik pada istri sepupunya karena mereka satu sekolah.


"Aku sudah move on yah. Buktinya aku bisa mencintai wanita lain. Aku harap Ayah mau menghargai keputusanku."


Julian berusaha menahan emosinya. "Ingat Zidan pasangan yang kamu pilih akan menemani kamu seumur hidup, tentu saja yang memiliki bibit bobot yang jelas."


"Aku tidak tahu ayah menganggap Safa begitu rendah hanya karena statusnya sebagai seorang janda. Apa salah jika memutuskan berpisah dari laki-laki yang sudah menghianatinya?"


"Itu artinya dia tidak bisa menjaga pernikahan. buktinya suaminya selingkuh dengan wanita lain" Zidan mengepalkan tangan karena tidak terima dengan tuduhan yang diberikan kepada kekasihnya.


Zidan berdiri. "Aku tidak mau berdebat lagi dengan ayah, aku rasa aku sudah dewasa untuk mengambil keputusan sendiri."


"Zidan tunggu dengarkan Ayah Jangan membantah."


Zidan tetap tidak mau berhenti. Dia masih melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.


Zidan memukul kasurnya untuk melampiaskan kekesalannya pada sang ayah. "Tidak kusangka hubunganku dengan Safa banyak hambatan," gumam Zidan


Halo laki-laki itu teringat dengan janjinya pada Safa. Dia pun menghubungi Astrid sekretarisnya di kantor.


"Astrid besok pagi kamu harus sudah menemukan sopir dan asisten rumah tangga untukku."


"Baik Pak," jawab Astrid dengan gugup.


Mencari orang yang mau bekerja sebagai sopir dan asisten rumah tangga adalah hal yang tidak mudah namun Zidan malah memberikan tempo kepada Astrid untuk membawakan orang yang mau bekerja sebagai sopir dan asisten rumah tangga besok pagi.


Astrid mengacak rambutnya sendiri. Dia stress dengan perintah bosnya. "Si Bos nggak kira-kira kalau ngasih perintah," gerutu Astrid.


Dia jadi tidak mood lagi menonton drama Korea terbarunya. "Dasar bos sialan."


Malam ini juga Astrid mencari orang yang mau menjadi sopir dan pembantu di rumah Safa. Astrid rela berkeliling rumah di sekitar perumahannya agar mendapatkan pegawai.


*


*


*


sambil nunggu kisah selanjutnya yang akan aku tulis kalian bisa membaca novel teman aku yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2