
Safa lelah menunggu taksi yang lewat di depan restoran. Kebetulan handphonenya sedang kehabisan daya sehingga dia tidak bisa memesan taksi online.
Safa duduk di sebuah bangku yang tersedia untuk umum di pinggir jalan tesebut. Jalanan begitu sepi hanya cahaya bulan dan lampu temaram yang menemani. Suara jangkrik yang bersembunyi di rerumputan membuat suasana makin sunyi. Ia menundukkan kepalanya. Safa menangis menumpahkan keluh kesahnya.
Entah karena rindu pada anaknya karena tak bisa pulang dengan cepat atau karena omongan Julian yang sangat menyakitkan. Ia menyeka air matanya dengan kasar. "Aku bukan cewek lemah, pokoknya nggak boleh cengeng." Safa mencoba menyemangati dirinya sendiri agar tidak rapuh.
Lalu sejumlah orang yang lewat di depan Safa tiba-tiba berhenti. Safa berusaha menghindar tapi mereka menghadang jalannya.
"Tolong minggir, saya mau lewat."
"Tolong minggir, aku mau lewat," salah seorang di antaranya menirukan omongan Safa. Lalu teman-temannya tertawa. Safa bergidik ngeri. Ia merasa tidak aman.
"Apa mau kalian?" Bentak Safa.
"Mau kami?" Mereka mendekat hingga Safa memundurkan langkahnya. "Bermain denganmu." Laki-laki asing itu mencolek dagu Safa.
"Jangan kurang ajar ya." Safa mengayunkan tas kecilnya ke arah mereka.
"Wih galak bos," ledeknya.
"Yang garang gini gue suka," jawabnya lalu mereka berusaha menyentuh bagian tubuh Safa yang lain.
"Berhenti atau aku teriak," ancam Safa.
"Teriak saja, tidak akan ada yang peduli. Mereka lebih sayang dengan nyawa mereka sendiri," ucapnya sambil mengeluarkan belati dari saku celananya.
Lutut Safa menjadi gemetar. "Ya Allah tolong selamatkan aku, Willa sedang menungguku di rumah," dia Safa dalam hatinya.
Sesaat kemudian, sebuah mobil yang dikenali berhenti di depannya. Zidan buru-buru turun ketika melihat Safa sedang berada dalam bahaya. Zidan berlari lalu memberikan tendangan melayang pada salah satu di antara pengganggu itu.
"Mas Zidan," Safa berlari ke belakang punggungnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Zidan sambil menoleh. Safa menggeleng.
"Masuk ke dalam mobil lalu kunci." Perintah Zidan pada kekasihnya. Safa pun menuruti perintah Zidan.
__ADS_1
Namun, ketika Safa berlari ke arah mobil salah seorang pengganggu itu berhasil menarik tangannya. Lalu dia mendekap Safa dan menodongkan belati ke lehernya.
"Lepaskan dia!" Bentak Zidan.
Ketiga pengganggu itu tertawa. "Lepaskan katamu? Tak akan kulepaskan sebelum kucicipi wanita cantik ini." Tangannya membelai pipi mulus Safa.
"Biadab, kalau sampai dia terluka sedikit saja, akan kupatahkan tangan dan kakimu," ancam Zidan.
"Serang dia!" perintah laki-laki yang mendekap Safa.
Begitu salah seorang bergerak maju menyerang Zidan, dia menangkis dengan mudah serangan dan mencengkeram kuat pundak penjahat itu lalu menjadikannya tumpuan agar dia bisa melompat. Zidan menggunakan kedua kakinya untuk menendang lawannya yang menyerang bersama dengan gerakan memutari tubuh lelaki yang ia jadikan sebagai tumpuan tadi.
Alhasil penjahat itu jatuh tersungkur akibat tendangan keras yang tepat mengenai wajah mereka. Sedangkan salah lelaki yang menjadi tumpuan tangan Zidan tadi dihadiahi bogem mentah olehnya.
Mereka tak menyerah begitu saja. Keduanya bangun dan kembali menyerang. Namun serangan mereka mampu ditangkis oleh Zidan. Lalu lelaki yang tadi mengancam Safa dengan belati ikut menyerang Zidan. Tangannya ditarik paksa oleh Zidan kemudian dia mematahkan sikunya. Senjatanya pun terjatuh.
Laki-laki lain menyerang Zidan dari belakang, tapi lagi-lagi Zidan bisa menghindari serangan itu. Tangan yang menyerangnya tadi ditarik maju lalu ia menyikut kuat ulu hati yang posisinya saat itu berada di belakang Zidan. Alhasil lelaki itu membungkuk menahan sakit hingga darah segar keluar dari mulutnya.
Tidak berhenti di situ, Zidan langsung berbalik badan menghadap penjahat yang kembali menyerangnya dari arah lain. Zidan memberikan bogem mentah dan tendangan sehingga semuanya mengeram kesakitan. Mereka menjadi babak belur akibat pukulan-pukulan yang dilancarkan Zidan.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Zidan.
"Tidak," jawab Safa sambil tersenyum.
Zidan pun membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Lalu mengantarkan sampai ke rumah.
Setibanya di rumah, Pak Tarjo menyambut kepulangan majikannya. "Ada apa Pak?" Tanya Safa curiga.
"Non Willa belum pulang sampai sekarang Bu saya khawatir. Tadi saya sudah coba hubungi nomor telepon Ibu tapi tidak aktif jadi saya bingung harus mencari dia ke mana?"
"Memangnya dia pergi bersama siapa?" Tanya siapa yang ikut panik.
"Laki-laki itu mengaku sebagai ayahnya Apa benar dia mantan suami ibu?"
"Jadi dia pergi bersama Willy?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu namanya tapi dia hanya bilang kalau dia adalah Ayah Willa."
Safa mengepalkan tangannya. "Aku akan coba hubungi Willy," kata Safa.
Tapi dia lupa kalau baterai handphonenya belum diisi. "Apa kamu ingat nomornya telepon saja pakai handphoneku." Zidan memberikan handphonenya kepada Safa.
"Ya aku ingat," lalu dia mengetik nomor telepon Willy di handphone Zidan."
"Tidak aktif," Safa semakin panik. Ia menahan tangis karena sedih tak mengetahui kabar anaknya.
"Sayang, kamu tenang saja. Willy pasti menjaga anaknya dengan baik." Zidan mencoba menenangkan kekasihnya.
Safa mendongak. "Aku khawatir pada Willa."
"Sebaiknya kamu istirahat dulu besok kita cari Willa sama-sama," Safa pun menurut omongan Zidan.
Sesungguhnya ini sudah terlalu malam untuk mencari Willa di rumah mantan suaminya. Maka Safa mencoba tenang dan tidak berpikiran negatif.
"Aku pulang ya," pamit Zidan pada kekasihnya. Ia mencium kening Safa agar wanita yang dicintainya itu lebih tenang.
"Hati-hati," pesan Safa pada Zidan. Zidan mengangguk.
Setelah itu Safa masuk ke dalam rumah. Tarjo merasa bersalah karena lalai dalam menjaga Willa.
"Maafkan saya Bu."
"Sudahlah, besok-besok jangan diulangi lagi ya pak. Willy memang ayah Willa tapi dia harus izin dulu pada saya jika akan membawa Willa. Jangan kasih begitu saja. Willy bukan orang yang benar-benar peduli pada anaknya. Saya kenal dia," kata Safa dengan tegas pada Tarjo. Entah kenapa dia sangat marah hari ini. Mungkin karena ancaman Julian atau memang mengkhawatirkan anaknya.
Safa masuk ke dalam kamar lalu dia mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Setelah mandi dia mengeringkan rambut lalu merebahkan diri di atas ranjang.
Safa tidak bisa tidur meski berusaha memejamkan matanya berkali-kali. Itu karena dia mengkhawatirkan Willa. Tidak biasanya dia tidur sendiri. Biasanya dia tidur sambil memeluk anaknya.
"Willa," panggil Safa sambil menitikkan air mata.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya.
__ADS_1
"Apa kamu bisa tidur?"