
"Apa? Bagaimana bisa? Kenapa mereka bertengkar?" Tanya Raina.
"Ada apa, Ma?" Tanya Julian.
"Zidan dan Safa bertengkar, Yah," jawab Raina.
"Bukankah itu wajar, Ma?"
"Haish, ayah ini. Malah senang kalau anaknya bertengkar. Seminggu lagi mereka akan menikah, Yah. Seharusnya mereka makin kompak."
"Mungkin mereka stress ma mikirin persiapan nikah. Zidan jadi cemburuan pada Safa," sahut Sofia.
"Memangnya Safa jalan sama laki-laki lain?" Tanya Raina kepo.
"Dia jalan sama mantan suaminya. Tapi kita kan tidak tahu mereka punya urusan apa? Seharusnya Zidan cari tahu dulu."
"Kamu benar juga. Mungkin masalah anak. Karena bagaimanapun Willa masih memiliki ayah jadi Safa tidak bisa menghindari mantan suaminya itu," kata Raina membenarkan.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil Zidan yang baru sampai di halaman rumahnya. Raina berjalan keluar. Dia ingin memastikan anaknya bisa membawa menantunya ke rumah.
"Alhamdulillah," ucap Raina dan Sofia ketika melihat Zidan dan Safa saling tersenyum.
"Kalian sudah baikan?" Tanya Sofia. Safa mengangguk malu. Dia merasa seperti anak kecil yang mudah marah. Zidan menggandeng tangan calon istrinya dengan lembut dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Mama sudah siapkan makanan istimewa untuk kalian."
Semua orang berjalan ke meja makan. Ketika sampai di ruang makan, Julian sudah menunggu di sana. "Cepatlah duduk. Aku sudah kelaparan karena menunggu kalian," ucapnya dengan ketus.
"Kalau ayah lapar kenapa tidak makan duluan," balas Zidan. Safa mencubit perut calon suaminya itu. "Jangan begitu." Wanita itu berharap Zidan lebih sopan pada sang ayah.
"Dasar anak kurang ajar."
"Sudah-sudah jangan bertengkar di meja makan. Mari kita mulai makan saja!" Lerai Raina.
Usai makan, mereka tidak langsung meninggalkan meja makan tersebut. "Mama ingin bicara sama kalian tentang persiapan pernikahan kalian. Alhamdulillah semua sudah beres. Tinggal menunggu hari H saja. Mama mohon kalian bisa jaga hubungan kalian. Jangan sampai ada niat untuk menggagalkan acara pernikahan yang telah mama susu."
Safa menunduk karena merasa tersindir. Raina memperhatikan calon menantunya. "Safa, jangan lupa jaga kesehatan. Calon mempelai perempuan biasanya mudah capek." Pesan calon ibu mertua.
__ADS_1
"Baik, Tante."
"Mulai sekarang kamu boleh panggil saya, Mama." Safa tersenyum mendengar penuturan Raina.
"Mulai sekarang panggil saya, kakak," sahut Sofia tak mau kalah. Lalu Raina memberi kode pada suaminya.
"Apa?" Toleh Julian ketika kakinya dicolek oleh sang istri.
"Ayah," Safa memberanikan diri untuk memanggil Julian dengan sebutan itu. Raina, Sofia dan Zidan mengulas senyum. Sedangkan Julian merasa canggung tapi di dalam hatinya dia bahagia.
"Sayang, apa kamu sudah menghubungi keluarga besar kamu? Oh ya saat lamaran beberapa waktu lalu mama tidak melihat ibumu. Apa dia masih hidup?" Tanya Raina.
Zidan menggenggam tangan Safa. "Mama tidak akan datang ke acara pernikahan saya. Sejak kecil dia telah meninggalkan kami. Sampai sekarang kami tidak tahu kabarnya." Safa mencoba tegar ketika menceritakan ibunya pada kelurga calon suaminya.
"Maafkan, mama. Mama tidak bermaksud menyinggungmu."
"Tidak apa-apa, Ma."
"Sepertinya aku harus mengantar calon istriku ini pulang, Ma. Sudah malam, Willa pasti merindukan ibunya," kata Zidan.
"Baiklah, kalian pulangnya hati-hati ya," pesan Raina pada anak dan calon menantunya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Zidan karena sejak tadi Safa hanya melamun.
"Iya, aku baik." Namun, wajahnya menunjukkan Safa sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kamu sedih mengingat ibumu?" Tanya Zidan.
"Entahlah, aku lupa cara merindukannya. Sudah lama sekali dia menghilang. Dia meninggalkan aku sejak kecil demi karirnya di dunia model. Papa pun tak pernah menceritakan apapun tentang ibuku."
"Aku rasa kamu merindukannya, sayang," pikir Zidan.
Dua puluh menit kemudian mobil Zidan sampai di halaman rumah Safa. "Sudah sampai, aku langsung pulang saja." Safa mengangguk. Wanita itu turun dari mobil lalu melambaikan tangan pada calon suaminya.
"Papa," teriak Willa.
"Ada apa sayang?" Tanya Safa pada Willa.
__ADS_1
"Willa mau kasih tahu papa kalau Willa juga punya nenek selain Oma Raina." Ucapan Willa mengejutkan Safa.
Safa berjongkok lalu memegang kedua bahu Willa. "Nenek siapa yang kamu maksud?" Tanya Safa lebih lanjut.
"Ah aku lupa menanyakan namanya, Bun. Tapi tenang saja besok dia akan datang lagi ke sini."
Safa membawa anaknya masuk ke dalam. Setelah menidurkan Willa, Safa menghubungi David. "Dave, kamu di mana?" Tanya Safa.
"Aku, aku sedang healing."
"Healing kepalamu. Sudah malam cepat kembali ke rumahku. Awas saja kalau kamu ke diskotik dan pulang dalam keadaan mabuk. Akan kubuang semua barang-barangmu yang ada di rumahku," ancam Safa.
David menjauhkan telepon Yangs sedang dia pegang. "Haih, galaknya minta ampun," umpat David.
"Siapa?" Tanya seorang wanita yang sedang menemani David di diskotik.
"Kakakku," jawab David.
"Jadi kamu punya kakak perempuan, Bro?" Tanya salah seorang temannya. David mengangguk.
"Apa dia cantik? Kenapa kau tidak pernah mengenalkan pada kami?"
"Kamu tahu tidak? Kakaknya itu janda," bisik salah seorang temannya yang lain.
David mencengkeram gelas yang sedang dia pegang dengan erat. Lalu dia menyiramkan isinya ke wajah laki-laki itu. "Apa-apaan Lo?" Laki-laki itu marah.
"Minuman itu cukup untuk mencuci mulutmu yang kotor." David berdiri lalu berjalan meninggalkan tempat duduknya. Namun, laki-laki yang disiram tadi tidak terima lalu membalik badan David. Saat tangannya akan memukul wajahnya, David menangkap tangan laki-laki itu. Kemudian dia mendorongnya.
Laki-laki itu terjatuh di atas meja. Semua orang berteriak histeris saat melihat perkelahian itu. Pria yang jatuh itu kemudian mengambil botol alkohol lalu berniat menyerang David. Sayangnya, David berhasil menghindar. Dia menangkap tangan laki-laki itu lalu memutar ke belakang punggungnya. Setelah itu, dia menendang bagian kakinya hingga pria yang berusaha menyerangnya itu terduduk di lantai.
"Jangan main-main denganku," ancam David. Setelah itu, dia berjalan keluar diskotik. Untungnya David hanya minum sedikit sehingga dia tidak terlalu mabuk.
Sesampainya di rumah Safa, David tidak langsung turun. Namun, dia malah tertidur sampai pagi di dalam mobil.
"Dave, Dave," tampak seseorang yang membangunkannya.
"Dasar pemalas." Safa mengambil sebuah selang air lalu menyiramkan ke wajah David.
__ADS_1
"Hujan," teriak David.