Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Tidak lucu


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Leo menyiapkan mobil untuk Zidan. Sofia menghampiri Leo. "Leo," panggilnya dengan suara lembut.


Leo menoleh. "Ada apa, Nona?" Tanya Leo.


"Aku minta maaf atas perkataan kasarku semalam," ucap Sofia sambil menatap ke dalam mata Leo.


Jantung Leo berdebar ketika melihat mata indah Sofia. Wanita berhijab itu tidak bermaksud menggodanya. Hanya saja Sofia ingin menunjukkan bahwa dia tulus meminta maaf.


Leo tersenyum. "Tidak masalah. Apa yang anda katakan itu benar. Saya memang pegawai yang dibayar oleh orang tua anda."


"Saya tidak berani berharap lebih padamu, Nona," batin Leo.


"Aku merasa perkataanku terlalu merendahkanmu, Leo. Padahal kamu telah baik dengan mengantarkan aku ke rumah pasienku kemaren. Seharusnya aku berterima kasih padamu."


Leo mengelus kepala Sofia tanpa sadar. "Lupakan masalah kemaren."


"Leo," panggil Zidan. Laki-laki itu menghentikan langkahnya ketika melihat Leo dan Sofia tengah berhadapan.


"Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Zidan tak enak.


"Tidak," jawab Leo dan Sofia bersamaan. Zidan mengulas senyum. Sofia berlalu meninggalkan kedua laki-laki itu.


Zidan menepuk bahu Leo. "Sampai kapan kamu akan menyembunyikan perasaan kamu pada kakakku? Apa kamu mau orang lain mendahuluiku? Ungkapkan sebelum terlambat." Zidan memberikan nasehat.


Leo merasa malu mendengar ucapan Zidan. Dia merasa dirinya belum layak berdampingan dengan anak atasannya itu.


Sementara itu di rumah sakit, David mendekati Dokter Sofia yang sedang berjalan sendirian. "Assalamualaikum ukhti," godanya pada wanita berhijab itu.


Sofia mengulas senyum. "Waalaikumsalam, Dok."


"Apa siang ini sibuk? Aku ingin mengajak dokter makan siang bersama." Tanya David.


Sofia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah masih ada waktu sebelum aku bertemu dengan mama."


"Anda akan pergi?" Sofia mengangguk menjawab pertanyaan David.


"Bagaimana kalau kita makan di kafe depan rumah sakit itu?"


"David," panggil Safa. David memicingkan matanya ke arah sang kakak.


"Dokter David." Safa mengulangi panggilannya.


"Hari ini kamu ikut aku temui papa di rumah," bisik Safa ke telinga sang adik. David memutar bola matanya malas.


"Kakak pergi saja sendiri."

__ADS_1


"Mana boleh menentang papa. Apa kamu mau dipecat jadi anaknya?" Ancam Safa.


"Kalau Dokter David ada rencana lain kita bisa makan siang bersama lain waktu," kata Sofia ketika melihat kakak adik itu bertengkar.


"Terima kasih, Dok," kata Safa. Lalu Safa menarik tangan David berjalan menjauhi wanita berhijab itu.


"Apa benar papa ingin menemui kita?" Tanya David memastikan.


"Tentu saja. Dia merindukanmu yang tidak pernah pulang ke rumah."


"Kakak aku serius."


"David, kamu bisa jaga jarak kan dengan Dokter Sofia."


"Kenapa harus menjaga jarak?" Tanya David tidak mengerti.


"Bukankah kamu tahu aku akan menikah dengan Mas Zidan. Apa kamu mau menjadi kakak iparku? Tidak lucu 'kan?"


"Bukankah itu bagus. Kita tidak terpisahkan sebagai saudara kandung?"


"Jangan konyol kamu." Safa menoyor kepala David dengan satu jarinya. "Jangan berharap aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak." Safa berjalan meninggalkan David.


"Hei, itu ide yang bagus, Kak," teriak David menggoda kakaknya.


"Dasar somplak," umpat Safa kesal.


"Ah tidak. Hei bagaimana denganmu apa kamu sudah memiliki pasangan untuk diajak ke acara pernikahanku nanti?" Senggol Safa sambil menaik turunkan alisnya.


"Su-sudah dong," jawab Selly dengan gugup. Dia terpaksa berbohong agar tidak mendapatkan olok-olokan dari sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, nanti jangan lupa kenalkan aku padanya."


"Iya," jawab Selly dengan malas.


"By the way orangnya tampan tidak? Apa aku mengenalnya?" Tanya Safa penasaran.


"Emm, jawab nggak ya?" Selly ganti menggoda Safa.


"Jawab dong! Ngapain sih disembunyikan? Pacar mesti dipublish kalau nggak nanti orang lain yang mengakuinya."


"Omongan Safa bener juga. Eh tapi aku kan sama Willy belum jadian," pikir Selly.


"Ah entahlah, hubungan kami rumit lebih rumit dari benang kusut."


"Kenapa? Kamu pacaran sama suami orang?" Tuduh Safa. Selly mengerutkan keningnya. "Enak aja kalau ngomong."

__ADS_1


Safa tergelak. "Habis mukanya serius amat. Pokonya kamu harus datang bawa pasangan oke."


"CK, berisik."


Ketika pulang kerja Willy menjemput Selly. "Kenapa kamu nekad parkir di dalam rumah sakit, sih?" Protes Selly. Dia buru-buru masuk ke dalam mobil Willy. Setelah itu Willy juga masuk ke dalam mobil kemudian menjalankan mobil hingga keluar dari area parkir rumah sakit.


Safa yang berjalan menuju ke mobilnya tak sengaja melihat Selly masuk ke sebuah mobil yang dikenalinya. "Bukannya itu mobil Willy? Terus ngapain Selly masuk ke dalam mobilnya? Apa Willy meminta bantuan Selly untuk mendekati aku lagi?" Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Safa.


Namun, saat ini dia harus menjemput Willa di sekolahnya. Hari ini putrinya pulang agak telat karena ada kegiatan outbound di luar kelas.


"Bunda." Willa berlari ke arah ibunya. Safa merentangkan tangan menyambut putrinya.


"Apa kamu capek?" Tanya Safa sambil menyibak rambut panjang Willa yang berantakan. Willa mengangguk.


"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Safa.


"Tunggu!" Seseorang memanggil Safa.


Safa tersenyum ke arah wanita cantik yang sedang menggandeng tangan anak laki-laki seusia Willa.


"Aku Sandra, sepupunya Zidan." Sandra mengulurkan tangan pada Safa. "Anakku baru pindah ke sekolah ini."


Safa membalas uluran tangan Sandra dengan ragu. Ini pertama kalinya mereka bertemu.


"Maukah kita minum teh bersama? Kita ajak anak-anak makan di luar selain," usul Sandra.


Safa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Boleh, apa kalian mau menumpang di mobilku?" Tanya Safa memberikan tawaran.


"Aku bawa mobil sendiri. Aku atau kamu yang tentukan tempatnya?" Tanya Sandra meminta pendapat.


"Kamu saja." Safa memilih mengikuti ke mana Sandra akan mengajaknya makan.


Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Sandra mengajak Safa dan anaknya serta Zavier untuk makan di sebuah restoran yang tak jauh dari sana.


"Tempatnya bagus," puji Safa.


"Benar 'kan? Kamu suka ke sini di saat senggang," balas Sandra.


Ketika Sandra dan Safa sedang asyik mengobrol tiba-tiba seseorang menyapa salah seorang di antaranya.


"Sayang, kamu di sini?"


...***...


Kira-kira siapa ya yang menyapa? Buat yang penasaran yuk ikuti kisah selanjutnya. jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca ya. 🙏

__ADS_1


salam manis


authornya 😍🤣


__ADS_2