
Sampai pulang ke rumah, Julian masih tidak terima seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan aki.
"Berasa sesepuh dipanggil aki, memangnya aku ini ada tampang pemain film kolosal ya Ma? Yang jenggotan putih gitu?" Tanya Julian sewot.
Raina terkekeh terus menerus sampai perutnya mulas. "Papa ini dipanggil gitu aja tersinggung, apalagi kalau engkong?" Gurau Raina.
Julian membulatkan matanya. Bukannya memperbaiki panggilan istrinya justru semakin membuatnya geram. "Mama," teriak Julian.
"Ada apa ini, Ma? Kenapa papa teriak-teriak segala sih?" Tanya Sofia yang baru pulang.
"Sof, kamu kok baru pulang kemana aja?" Tanya Julian mengalihkan pembicaraan.
"Sofia diminta datang ke rumah pasien Sofia yang mengidap depresi Ma. Mama inget nggak sewaktu Sofia cerita dokter Safa nolongin Sofia dari pasien yang mau bunuh diri? Yaitu orangnya."
"Mama jadi ngeri kalau ngebayangin dia pegang pisau. Kamu nggak usah datang kalau diminta lagi. Bahaya! gimana kalau dia kembali nekad?" Raina memperingatkan.
"Justru itu Ma, dia nggak mau datang ke rumah sakit sebab wajahnya lebam karena kekerasan yang dilakukan suaminya jadi dia malu. Kalau Sofia nggak datang Sofia takut dia nekad lagi."
"Ah pekerjaanmu itu banyak resikonya," protes ibunya. Sudah cari suami saja biar kamu nggak perlu kerja."
"Emm mama modus. Ujung-ujungnya mengarah ke situ lagi." Kini giliran Sofia yang protes.
"Habis kamu ini anak gadis nggak nikah-nikah. Mau sampai kapan kamu melajang? Adik kamu saja sudah mau nikah," ucap Raina kesal.
"Doain ya mamaku sayang supaya Sofia cepet dapet jodoh yang baik." Sofia mencoba merayu ibunya.
Seketika Raina berdoa di depan Sofia. "Ya Allah pertemukan anakku dengan jodohnya."
"Ehem." Suara deheman itu membuat kedua wanita beda generasi itu menoleh.
"Ada apa Leo?" Tanya Raina.
"Saya mengantarkan berkas yang harus ditandatangani oleh Bapak," jawab Leo gugup.
"Tidak bisa besok saja ya? Di rumah kok masih kerja saja. Kamu juga Leo kenapa belum menikah? Usiamu kan sepantaran dengan Zidan. Jangan terlalu sibuk bekerja, pikirkan juga masa depan kamu. Pikirkan cara meneruskan keturunan!"
"Ma, apaan sih? Leo jadi malu tuh diomelin sama mama. Yang anak mama kan aku, bukan Leo."
"Habis mama gregetan sama kalian berdua."
*
*
*
Keesokan harinya Raina kembali mengunjungi calon cucunya. Kali ini dia menjemput Willa ke sekolah. Entah kenapa sejak pertemuan kemaren Raina sangat merindukan Willa. Lalu Raina meminta alamat sekolah Willa dari Zidan.
Raina memanggil nama Willa ketika melihat dia keluar. "Oma," Willa berlari ke arah wanita yang dikenalinya itu.
__ADS_1
"Oma ngapain di sini?" Tanya Willa.
"Oma mau jemput Willa," jawabnya sambil berjongkok.
"Tapi Willa belum izin sama Bunda."
"Baiklah, kita izin dulu ya." Raina meminta pak Tarjo untuk menelepon majikannya.
"Ada apa pak Tarjo?" Tanya Safa melalui sambungan telepon.
"Ini Bu ada yang ingin bicara sama ibu." Lalu Pak Tarjo memberikan ponselnya pada Raina.
"Hallo, nak. Ini mamanya Zidan. Mama mau ajak Willa jalan-jalan apakah boleh? Mama janji akan membawanya pulang nanti sore."
"Iya boleh." Safa masih bingung ingin memanggil apa pada ibunya Zidan.
Setelah mendapatkan izin dari Safa, Raina mengembalikan ponsel milik Pak Tarjo.
"Pak, Raina pulang bareng saya saja. Saya sudah izin sama ibunya."
"Baik, Bu." Pak Tarjo mengangguk patuh.
Setelah itu Raina mengajak Willa masuk ke dalam mobil. "Kita mau ke mana Oma?" Tanya Willa.
"Bagaimana kalau beli baju?" Raina memberikan tawaran.
"Mau Oma, bunda sudah lama tidak membelikan aku baju baru Oma." Wajahnya terlihat sendu.
"Bunda sibuk bekerja," akunya.
"Lalu bagaimana dengan ayah?" Raina sengaja membahas soal ayahnya.
"Dia tidak tinggal bersama kami. Ayah pergi meninggalkan bunda." Entah siapa yang meninggalkan siapa, yang jelas bagi Willa Willy telah pergi meninggalkan ibunya.
*
*
*
Sementara itu, di hotel miliknya Julian tak sengaja melihat seseorang yang seumuran dengannya sedang menggendong anak kecil dengan kedua tangannya. Ia membayangkan dirinya yang sedang menggendong Willa saat ini.
"Pak, anda tidak masuk?" Tanya Leo mengingatkan ketika pintu lift terbuka. Suara Leo membuyarkan lamunan Julian. Julian menjadi kesal.
"Pak, apa saya mengganggu anda?" Tanya Leo pada atasannya.
"Sangat, kau tidak lihat aku sedang membayangkan sesuatu yang indah saat ini." Leo bingung dengan perkataan atasannya.
"Setelah ini apa jadwalku?" Tanya Julian.
__ADS_1
"Tidak ada pak," jawab Leo.
"Baiklah, aku ingin pulang sendiri." Julian meminta kunci mobilnya. Setelah menerima kunci mobilnya dia menuju ke parkiran. Leo merasa aneh tak biasanya atasannya itu pulang sendiri. Oleh karena itu diam-diam dia mengikuti mobil Julian.
Sebelum pulang ke rumah, Julian mampir ke sebuah toko mainan. Dia sudah lama tidak menginjakkan kaki di toko semacam itu.
Leo mengerutkan kening ketika melihat atasannya masuk ke dalam toko mainan anak-anak. "Untuk apa masuk ke dalam sana?" Gumam Leo di dalam mobil sambil memperhatikan Julian dari kejauhan. Namun sesaat kemudian dia pergi.
Julian bingung apa yang ingin dia beli. "Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya salah seorang pelayan toko tersebut.
"Ah saya sedang mencari kado untuk anak kecil," jawabnya.
"Laki-laki atau perempuan? Sekitar usia berapa?" Tanya pelayan tersebut.
"Perempuan sekitar lima tahunan."
"Mari saya tunjukkan, Pak." Pelayan itu berjalan lebih dulu. Julian mengikutinya.
"Anda bisa pilih mainan anak perempuan di sini." Lalu Julian mengambil satu set mainan.
"Tolong bungkus ini." Julian memberikan kartu kreditnya pada pelayan tersebut.
Usai mendapatkan apa yang ia inginkan, Julian kembali ke mobilnya. Lalu tak butuh waktu lama dia sampai di rumahnya. Julian masuk tanpa membawa sesuatu yang dia beli dari toko mainan tersebut.
"Papa dari mama saja? Kok pulang telat." Tanya sang istri.
"Dari kantor," jawabnya singkat.
"Mau aku buatin kopi atau teh?" Tanya Raina.
"Teh hangat saja, tiba-tiba kepalaku pusing, aku akan naik ke atas dulu."
"Baiklah, nanti akan kuantarkan tehnya ke atas," kata Raina.
"Ayah kenapa Ma?" Tanya Zidan.
"Sepertinya kurang enak badan," jawab sang ibu.
"Apakah tadi mama jadi pergi bersama Willa?" Tanya Zidan.
"Iya, kami puas berbelanja baju tadi. Menyenangkan sekali bisa pergi berjalan-jalan dengannya. Bolehkah lain kali mengajaknya lagi?" Tanya Raina.
Zidan mengulas senyum. "Minta izin sama ibunya, Ma." Zidan mengambil kue yang ada di meja dan memakannya.
"Kamu kan calon ayahnya." Ucapan Raina membuat Zidan menghentikan kegiatannya mengunyah.
Dia mendekat pada ibunya. "Jadi kapan mama mau melamar Safa untukku?" Tanyanya manja.
"Minta restu sama ayahmu dulu," goda Raina. Zidan mencebik kesal.
__ADS_1
"Ayolah ma, aku sudah sangat ingin tinggal bersamanya. Apa mama mau aku melajang terus?" Rengeknya.
"Kita cari cara nanti supaya ayahmu mau merestui kalian."