
"Aki," panggil Willa.
Julian mematung ketika mendengar suara anak kecil yang tak asing itu. Dia berusaha menajamkan pendengarannya barangkali dia salah dengar. "Mana mungkin dia ada di sini?" Batin Julian mengingkari pendengarannya.
Setelah menoleh ke sumber suara dia benar-benar terkejut. "Kamu? Kenapa bisa ada di sini?" Tanyanya. Sedangkan yang ditanya malah tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Mas, jangan galak-galak sama anak kecil. Dia ke sini sama aku. Aku yang membawanya kemari karena ibunya ke luar kota selama tiga hari," kata sang istri.
"Sayang, kenapa ajak dia menginap di sini? Bagaimana kalau dia membuat kerusuhan?" Protes Julian pada istrinya.
"Kerusuhan apa mas? Kamu tidak lihat dia semanis ini? Hanya beberapa hari saja, Mas. Boleh ya?" Bujuk Raina agar suaminya mengizinkan.
Willa tiba-tiba berlari ke belakang untuk mengambil segelas air. "Ini untuk aki, minumlah!"
Julian menatap mata Willa yang begitu bening. Ia merasa terharu mendapatkan segelas air dari anak kecil itu. Tapi dia tak lantas menerimanya.
"Ehem," Julian mencoba menetralkan perasaannya. "Dia boleh tinggal di sini, tapi ingat jangan nakal!" Laki-laki dewasa itu memperingatkan Willa. Anak kecil itu menurunkan tangannya. Ia mengangguk patuh.
Raina yang tak tega melihat wajah sendu Willa lalu mengambil gelas yang dia pegang. "Terima kasih minumannya sayang. Biar Oma yang kasihkan ke aki ya?" Ucapnya dengan lembut. Senyum pun terbit di wajah mungil nan cantik itu.
Raina menyuruh Willa kembali bermain. Lalu wanita itu menyusul suaminya. "Mas," panggilnya dengan lembut. Julian sedang melepas dasi tapi dia agak kesulitan. Lalu dengan sigap Raina membantu melepaskan dasinya.
"Terima kasih sudah mengizinkan Willa tinggal di sini."
"Kenapa mama senang sekali sama anak itu?" Tanya Julian tidak mengerti.
"Entahlah rasanya menyenangkan bisa mengurus anak kecil. Aku mengingat ketika Sofia dan Zidan masih kecil dulu," jawabnya.
Julian menarik pinggang istrinya. "Apa kau ingin membuatkan adik untuk Zidan? Aku masih mampi melakukannya."
Pok
Raina memukul dada suaminya. "Yang benar saja? Kamu sebentar lagi jadi kakek jadi jangan sembarangan kalau ngomong."
"Aku belum setua itu," elak Julian. "Bagaimana kalau kita coba saja!" Raina malas menanggapi otak mesum suaminya.
Sementara itu Safa baru saja menyelesaikan seminarnya di ballroom hotel yang ia tinggali saat ini. Ia merasa sangat capek. Saat berjalan menuju ke kamarnya tiba-tiba sebuah tangan meraih pinggangnya.
Safa merasa terkejut. "Mas Zidan." Keduanya tersenyum ketika saling bertatap muka.
"Hallo, sayang," sapa Zidan sambil memberikan kecupan singkat ke bibir Safa.
"Mas nanti kalau ada yang lihat bagiamana kan malu," ungkapnya.
__ADS_1
"Bilang aja kita suami istri," jawab Zidan sekenanya.
"Kamu ngikutin aku ya?" Tuduh Safa.
Zidan menyentil kening Safa pelan. "Jangan GR ya. Aku ke sini buat kerja. Ayah menyuruhku mengurus proyeknya di kota ini."
"Kok nggak ngabarin aku?" Protesnya.
"Kemaren aku nelepon kamu tapi handphone kamu nggak aktif. Terus aku ke rumahmu kamu belum pulang dari seminar. Tidak kusangka Tuhan menyatukan kita di sini," ucap Zidan dengan bahagia.
"Aku juga nggak nyangka, kita satu hotelkah? Kamar mas Zidan di nomor berapa?" Tanya Safa. Lalu Zidan menunjuk ke ruangan di belakangnya.
Safa membulatkan matanya. "Bagaimana bisa?"
"Kenapa sayang?" Tanya Zidan.
"Kamarku di samping kamarmu, mas."
Zidan tersenyum licik. "Bukankah lebih bagus? Apa kita pindahkan barang-barang kita jadi satu saja?" Usul Zidan.
Safa mengeglengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau kita berbuat aneh-aneh sebelum menikah," tolaknya.
"Padahal ini rencanaku supaya ayah mau merestui hubungan kita," ucap Zidan sedikit kecewa karena idenya di tolak oleh Safa.
Zidan menatap manik mata kekasihnya itu. "Maafkan aku, aku tidak berpikir sampai sana," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Mau masuk?" Ajak Safa ke kamarnya. "Kamu jangan berpikiran macam-macam, aku hanya tidak mau mengobrol di depan pintu seperti ini." Zidan mengangguk.
Safa pun membuka pintu kamarnya. "Aku ingin menghubungi Willa dia ada di rumahmu saat ini."
"Apa? Bagaimana bisa sayang?" Tanya Zidan tidak mengerti.
"Ibumu yang membawa Willa ke sana katanya dia akan menginap selama aku di luar kota."
"See, mamaku baik kan?" Tanya Zidan.
"Iya, Mas. Kamu beruntung punya ibu seperti beliau," puji Safa.
Zidan berdiri lalu memeluk kekasihnya. "Sayang, sebentar lagi mamaku juga akan menjadi orang tuamu. Kamu berapa hari di sini?" Tanya Zidan.
"Lusa aku balik ke rumah," jawab Safa.
Ia
__ADS_1
"Oh ya, nanti kalau aku lagi video call mas Zidan jangan muncul ya. Nanti dikira kita ngapa-ngapain lagi." Safa memperingatkan kekasihnya itu.
"Iya, sayang."
Safa menghubungi nomor telepon mamanya Zidan. "Kok nggak diangkat ya Mas?" Tanyanya pada Zidan. Zidan hanya menggedikkan bahu.
"Mungkin mereka sudah beristirahat sayang," jawab Zidan.
Safa mengecek jam yang ada di ponselnya. "ini kan baru jam tujuh Mas."
"Ya mungkin lagi pada makan. Oh ya kamu sudah makan belum? Apa kita cari makan di luar? Sekalian pacaran." Zidan menaik turunkan alisnya.
"Terserah kamu. Tapi aku mau mandi dan bersiap-siap mas Zidan keluar dulu kalau gitu." Safa mengusir Zidan dari kamarnya.
"Apa mau kutemani?"Goda Zidan. Safa membelalakkan matanya. "Mas Zidan." Safa mendorong tubuh Zidan.
"Biarkan aku di sini," rengeknya.
"Ayolah Mas."
"Baiklah,baiklah." Akhirnya Zidan mengalah. Dia pun keluar dari kamar Safa.
Namun, ketika dia keluar Zidan tak sengaja menabrak bahu seseorang. "Maafkan saya, nona," ucapnya pada wanita yang ia tabrak.
"Tidak apa-apa." Jalannya sedikit sempoyongan. Ketika berdiri dia hampir saja terjatuh untung saja Zidan menangkapnya.
Zidan mencium bau alkohol dari badannya. "Anda bisa berjalan sendiri bukan?" Tanya Zidan. Wanita itu mengangguk. Tapi baru beberapa langkah dia terjatuh. Zidan lalu membantunya.
"Di mana kamar anda? Biar saya bantu." Wanita itu menunjuk kamarnya. Lalu Zidan membantunya bangun dan dia pun memapah wanita asing itu.
Safa selesai mandi dan berdandan. "Sudah siap," ucapnya sambil bercermin. Kemudian dia keluar dari kamar dan mengunci pintu. Tapi Safa malah melihat Zidan baru saja keluar dari kamar lain. Safa pun berjalan mendekat.
"Mas Zidan."
Zidan kaget ketikay mendengar kekasihnya tengah memanggil. Ia menoleh dengan gugup.
"Mas ini kamar siapa?" Tanya Safa curiga. Padahal kekasihnya itu telah memberi tahu kalau kamarnya terletak persis di sebelah kamar Safa. Safa menatap Zidan penuh tanda tanya. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di otaknya saat ini. Tapi dia masih bersabar menunggu jawaban sang kekasih.
"Mas kok diam saja?" Desak Safa agar Zidan segera menjawab pertanyaannya.
Bagaimana Zidan menjawab pertanyaan kekasihnya itu agar tidak menimbulkan curiga? Ikuti kisah selanjutnya ya. Jangan lupa klik favorit dan rate bintang lima ya.
sambil nunggu mampir ke cerita kak Weny Hida
__ADS_1