Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
I love you


__ADS_3

Berkali-kali Zidan meminta kesempatan untuk bertemu dengan Safa tapi Safa selalu menghindarinya. Zidan jadi merasa kesal. Akhirnya dia memiliki ide untuk menjebak Safa.


"Leo kamu sudah atur kan semuanya?" Tanya Zidan.


Hari ini Leo memberi tahu bahwa Willa sedang bersama dengan Zidan. Cara satu-satunya bertemu dengan Safa adalah dengan melibatkan Willa.


"Willa," panggil Zidan ketika berada di depan gerbang sekolahnya.


"Papa." Willa begitu senang ketika melihat Zidan berada di sana.


Hari ini Baik David maupun Willy tidak bisa menjemput Willa karena mereka ada urusan masing-masing. Selain itu, Pak Tarjo sedang sakit jadi Safa memutuskan untuk menjemput anaknya sendiri. Namun sebelum Safa sampai di sekolah Zidan lebih dulu.


Safa kaget ketika melihat Zidan sedang menggendong Willa. "Long time no see," sapa Zidan pada Safa.


Safa tidak merespon. Dia ingin mengambil alih gendongan dari Zidan tapi Zidan menghindar. "Kita pulang sama-sama," ucap Zidan.


"Kamu kan bawa mobil sendiri," protes Safa.


"Mobilku mogok," bohong Zidan. Lalu dia membisikkan sesuatu ke telinga Willa


"Bunda, kasian sama papa!" Protes Willa. Safa mendesis. "Bisanya jadi provokator," gumam Safa mengomentari kelakuan Zidan.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Zidan membawa Willa masuk ke dalam mobil Safa. Dia langsung menuju ke kursi kendali mobil. Sedangkan Safa masih berdiri mematung padahal hujan turun dengan deras. Dia menolak satu mobil dengan Zidan. Lalu Zidan melepas jas yang ia kenakan untuk melindungi Safa dari hujan.


"Ayo masuk, nanti kamu sakit," kata Zidan di tengah derasnya hujan. Laki-laki itu membawa masuk kekasihnya ke dalam mobil. Dia mengajak Safa duduk di kursi penumpang sedangkan Zidan duduk di depan kendali setir.


Zidan menyalakan mesin mobil milik Safa. Kebetulan kunci mobilnya masih menempel.

__ADS_1


"Bunda, tidak apa-apa? Badan bunda basah," kata Willa.


Safa tak menjawab. Dia terus memandang Zidan dengan tatapan kesalnya. "Berani-beraninya dia mengambil mobilku," umpat Safa dalam hati.


"Kamu jangan mengumpat di belakangku ya!" Ucap Zidan sambil melirik sekilas ke arah wanita yang dia cintai.


"Cih, kepedean," umpat Safa secara terang-terangan.


Zidan tiba-tiba menggenggam erat tangan Safa. Safa ingin memberontak tapi dia tidak mampu. Zidan menggenggam tangannya makin erat.


"Kamu tidak mau kan bertengkar di depan Willa?" Ancam Zidan. Dia menoleh sekilas ke arah Willa sambil tersenyum. Safa juga melakukan hal yang sama. Willa merasa terharu melihat kedua orang yang dia sayangi sedang sayang-sayangan. Hehe


Zidan menyadari jari tangan Safa yang tidak lagi memakai cincin. "Ke mana cincinmu?" Tanya Zidan.


"Cincin apa?" Tanya Safa pura-pura tidak ingat.


"Cincin yang aku berikan saat aku melamar kamu dulu?" Tanya Zidan.


Cit...


Zidan mengerem secara mendadak. Safa dan Willa sama-sama kepentok. "Mas, kamu gila ya," protes Safa sambil mengusap keningnya.


"Kenapa kamu buang?" Tanya Zidan pada kekasihnya.


"Untuk apa aku pakai jika yang memberinya tidak menginginkan hubungan yang jelas denganku," jawab Safa.


"Jadi kamu ingin kejelasan? Kamu ingin aku menikahi kamu?" Tanya Zidan.

__ADS_1


"Willa tutup telinga!" Perintah Safa agar Willa tidak mendengar perdebatan antara dirinya dengan Zidan.


"Jangan ngomong yang enggak-enggak deh, Mas. Ada Willa di belakang," protes Safa.


Zidan mengulas senyum tipis ketika mendengar Safa kembali memanggilnya dengan sebutan Mas. Lalu Zidan mendekat ke arah Safa. Zidan akan mencium bibirnya. Namun, Safa dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan. Lalu Zidan mencium kening Safa.


Wajah wanita itu jadi memerah karena malu. Willa yang melihat interaksi keduanya malah senyum-senyum sendiri. Karena malu dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Akan tetapi dia mengintip dari sela jari-jarinya.


Safa mencebik kesal. "Pulang!" Perintahnya pada Zidan. Zidan terkekeh melihat tingkat lucu Safa. Laki-laki itu mulai melajukan mobil menuju ke rumah Safa.


Sesampainya di sana, Zidan turun lebih dulu guna membukakan pintu untuk Willa. Safa terlihat kecewa. "Sialan, kirain mau bukain pintu buat aku," gerutunya dalam hati. Safa menghentakkan kakinya lalu berjalan mendahului Zidan.


Zidan menarik tangan Safa hingga Safa berbalik dan jatuh ke pelukannya. "I love you," ucap Zidan tiba-tiba.


Wajah Safa memerah karena malu. Dia ingin melepas tangan Zidan. Tapi Zidan tak mengizinkannya. "Ayo menikah," ucap Zidan dengan yakin.


Safa menatap ke dalam mata laki-laki yang sedang memeluk dirinya. "Aku masih belum yakin," jawab Safa.


"Apa yang membuatmu ragu?" Tanya Zidan dengan wajah serius.


"Kamu lupa atau amnesia? Kamu pergi begitu saja tanpa pamit padaku? Kamu tahu tidak selama ini aku menunggumu tapi kamu tidak pernah menghubungiku," ucap Safa dengan nada bergetar.


"Maafkan aku, aku memang salah. Berkali-kali aku ingin menjelaskan hal ini padamu tapi kamu tidak pernah memberiku kesempatan. Ayah mengabariku secara mendadak, lalu ketika akan berangkat aku ingin mengabarimu tapi handphone-ku lowbat. Saat berada di sana aku kehilangan handphone ku jadi aku tidak bisa menghubungimu."


"Alasan." Safa tidak bisa menerima omongan Zidan.


"Sayang tolong percaya padaku. Aku berangkat ke luar negeri semata-mata ingin mengalahkan ayahku. Aku telah berhasil membuktikan bahwa aku bisa mandiri. Sekarang dia merestui hubungan kita." Ucapan Zidan membuat hati Safa melembut.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Safa memastikan. Dia mengulas senyum ketika Zidan mengangguk. Refleks Safa memeluk Zidan.


"Temui orang tua ku!"


__ADS_2