Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Berbadan dua


__ADS_3

Hari-hari Safa begitu menyenangkan setelah menikah dengan Zidan. Kini mereka tinggal di rumah Safa. Usia pernikahan mereka sudah jalan dua bulan. David yang awalnya menumpang di rumah kakaknya sekarang tinggal bersama ayahnya.


Setiap pagi Safa mencoba melayani suaminya dengan baik. Meskipun Safa tidak pandai memasak, Zidan memaklumi karena selama ini mereka bergantung pada asisten rumah tangga. Namun, Safa tidak malu belajar memasak bersama ibu mertuanya di saat dia sedang memiliki waktu luang.


Hari ini Safa datang ke rumah Raina untuk belajar memasak.


"Sudah siap memasak hari ini?" Tanya Raina pada Safa. Dia begitu antusias mengajari menantunya itu.


"Sudah, Ma." Safa menunjukkan barang belanjaannya.


"Kamu potong bawang ya, itu ambil di sana!" Tunjuk wanita yang berusia kurang lebih lima puluh tahunan itu.


Lalu Safa mulai memotong bawang. Namun, perutnya tiba-tiba mual ketika mencium bau bawang merah itu. Ia pun berlari ke toilet. Ibu mertuanya menjadi panik.


"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya wanita itu yang melihat menantunya lemas setelah memuntahkan isi perutnya.


"Mual Ma, kepalaku juga pusing," kata Safa. Raina pun memapah Safa sampai di sofa.


"Mama ambilkan teh hangat dulu ya buat kamu." Safa mengangguk lemah sambil memegangi perutnya.


"Coba makan camilan dulu barang kali perut kamu kosong." Sang ibu menyodori makanan.


"Huek huek." Safa berlari secepat mungkin ke toilet.


Melihat penyakit Safa yang semakin parah, Raina menghubungi Zidan. Zidan bergegas pulang ke rumah. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?" Tanya Zidan pada istrinya yang sedang berbaring di kamar. Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya sambil sesekali mencium punggung tangannya.


"Aku nggak apa-apa cuma mual muntah aja, paling masuk angin," jawab Safa sambil mengulas senyum yang dipaksakan.


"Kita periksa ke dokter ya, Sayang," bujuk Zidan.


"Nggak usah beli obat apotek saja. Nyium bau kamu udah bikin mualku reda." Sang ibu yang mendengar ucapan menantunya itu jadi curiga.


"Tunggu tunggu jangan-jangan menantuku...." Raina tak meneruskan kata-katanya. Ia malah terlihat girang.


"Aku mau punya cucu," teriak sang ibu kegirangan sambil berjalan keluar.


Zidan dan Safa terkejut mendengar suara ibunya. Mereka saling pandang. "Memang bener kamu hamil?" Tanya Zidan pada Safa.


"Aku nggak tahu, tapi sudah beberapa minggu ini aku telat," jawab Safa.


"Kita periksa ya ke dokter," bujuk Zidan untuk kesekian kalinya.


Safa mengangguk setuju. "Ya sudah ayo." Safa bersiap bangun. Tapi kepalanya terlalu pusing. Zidan yang tak tega pun menggendong istrinya sambil menuruni tangga.

__ADS_1


Alan membawa istrinya hingga masuk ke dalam mobil. "Ma aku antar istriku periksa ke dokter dulu ya." Zidan meminta izin pada orang tuanya.


"Hati-hati bawa mobilnya ya, Nak," pesan ibu kandungnya itu. Zidan mengangguk paham.


Safa menghubungi David yang tak lain adalah dokter kandungan. Kebetulan saat itu pasien yang mengantri hanya sedikit sehingga sampai di sana dia langsung diperiksa.


"Seperti dugaanku, selamat kak kamu akan melahirkan anak kedua," kata David. Safa dan Zidan tampak bahagia mendengarnya.


"Aku saranin supaya kakak periksa rutin tiap bulannya. Hindari makanan-makanan yang menyebabkan mual. Jangan makan sembarangan! Ngemil yang sehat supaya pertumbuhan janin dalam perutmu bagus," saran dokter muda itu.


"Sementara ini aku kasih vitamin ya untuk meredakan mual muntahnya," imbuhnya lagi.


"Iya, bawel."


"Kakak ipar, ingat pesanku tadi. Jangan biarkan kakakku bekerja berat. Kalau bisa biar kau saja yang bekerja."


"David." Safa memberikan kode agar David mengontrol mulutnya itu.


"Dengarkan saran adikmu sayang. Bagaimana kalau kau berhenti bekerja selama kamu hamil?" Zidan meminta pendapat istrinya.


"Aku ini hamil mas bukan sakit menahun. Aku akan lakukan aktivitasku seperti biasanya, mengerti?"


Setelah itu zidan menuntun safa saat akan menuju parkiran. "Aku bisa jalan sendiri kok Yang."


"Kamu berlebihan," kata safa sambil terkekeh. Meskipun begitu ia sangat menyukai perhatian dari suaminya itu.


Sesampainya di rumah Zidan mengabari orang tuanya. "Kamu tahu sayang mereka sangat excited lho dengan kehamilan kamu," kata Zidan sambil membungkuk mencium perut istrinya yang masih rata.


"Aku akan punya adek ya, Bun?" Tanya Willa. Safa mengangguk. Willa begitu antusias.


"Ayah jadi nggak sabar buat main sama kamu sayang," bisiknya di depan perut Safa.


"Ayah juga senang mendengar kabar kehamilanku?" Tanya Safa.


"Maksudku, aku pengen dipanggil ayah sama anakku," jawab Zidan.


"Baiklah, ayah apakah kau mau memenuhi keinginanku?" Safa bertingkah manja.


"Aku ingin makan rujak mangga muda," pinta Safa.


"Ya ampun cari penjual buah malam-malam gini dimana sayang, besok saja ya," Zidan memohon pada istrinya.


"Hiks," Safa mulai terisak. "Iya, tapi besok harus nemu ya," pinta Safa dengan manja.

__ADS_1


Keesokan harinya Raina datang bersama sang suami. "Ma, kebetulan sekali mama datang ke sini, istriku ingin makan rujak mangga muda," kata Zidan.


"Ya ampun, Mas minta tolong dong kamu cariin buah mangga muda," Raina mendorong suaminya.


"Nyarinya di mana Ma, kalau tidak musim begini," jawab Julian dengan ragu-ragu.


"Ada-ada saja calon cucuku ini. Belum lahir saja merepotkan apalagi setelah lahir," batin Julian kesal.


"Mas, kok ayah lama sekali sih?" Rengek Safa.


"Kamu udah pengen makan buah itu banget ya?" Tanya Zidan yang menatap iba pada istrinya. Safa mengangguk.


Tak lama kemudian ayah Zidan datang dengan membawa buah yang dimaksud. "Nih buahnya," Julian menyodorkan sekilo buah mangga muda tadi.


"Kamu nyarinya di mana sih Mas kok lama banget," protes sang istri.


"Jauh banget ya dari sini," kata suaminya.


"Yang, aku kupasin ya?" Tanya Zidan.


"Aku udah nggak mau makan itu Mas, aku mau makan yang lain," kata Safa. Semua orang jadi menepuk jidatnya masing-masing.


...***...


Kini kehamilan Safa memasuki trimester tiga. Fase mual muntah sudah terlewati bahkan sebentar lagi dia akan melahirkan. Tubuh Safa menjadi lebih berisi karena perutnya sudah membuncit.


"Mas, hari ini ada banyak kerjaan ya?" Tanya Safa. Zidan mengangguk.


"Iya semoga bulan depan aku sudah bisa cuti untuk menemani kamu lahiran, kamu doain ayah ya supaya ayah urusan ayah lancar," ucapnya pada bayi yang ada di dalam perut Safa.


"Iya, Ayah." Safa mewakili anaknya menjawab omongan sang suami.


"Oh ya, nanti malam jadi nyari baju buat dipakai ke acara nikahnya Selly sama Willy?" Tanya Safa.


"Iya aku usahakan pulang cepat. Setelah dari kantor aku akan membawamu belanja," kata Zidan sambil mengelus pipi istrinya. Lalu ia mencondongkan tubuhnya dan meraih bibir istrinya yang membuatnya candu.


"Mas..." nafas Safa tersengal-sengal saat Zidan melepas pagutannya.


"Aku jadi malas bekerja" kata Zidan sambil mengusap bibir istrinya yang basah.


"Jangan begitu."


"Habisnya kamu selalu menggodaku. Apalagi setelah kamu hamil, kamu terlihat semakin seksi," bisik Zidan di telinga istrinya hingga wanita hamil itu meremang.

__ADS_1


"Sudah sana!" Safa mendorong tubuh Zidan sambil terkekeh.


__ADS_2