Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Pulang


__ADS_3

Prank


Suara benda jatuh itu terdengar dari arah dapur. "Willa kamu sedang apa?" Tanya Raina.


Willa menangis sebelum menjawab pertanyaan Raina. "Tidak apa-apa sayang, biar nanti bibik yang bereskan," kata Raina sambil mengelus rambut panjang Willa.


Setelah tenang Willa baru menjawab. "Aku ingin minum, tapi saat meraih gelas tanganku tidak sampai," akunya sambil menunduk.


Julian menuruni tangga. "Ada apa, Ma?" Tanyanya pada sang istri.


Raina tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Yah," jawabnya sambil berjalan menggandeng Willa.


Sesaat kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Julian berjalan keluar. Dia melihat Zidan turun dari mobil. Lalu disusul oleh Safa. Julian mengerutkan keningnya. "Bagaimana kalian bisa bareng?" Tanya Julian curiga.


"Kami ketemu di bandara," jawab Safa dengan cepat. Dia takut Julian mengetahui kalau ternyata mereka tinggal di hotel yang sama.


Namun berbeda dengan Zidan, jika Safa ingin menutupi pertemuan mereka selama di luar kota, Zidan justru mengaku kalau mereka satu hotel.


"Lebih tepatnya tinggal di hotel yang sama," bisik Zidan pada ayahnya. Julian mengepalkan tangan sambil membulatkan matanya.


"Bagaimana bisa? Zidan," teriak Julian. Zidan malah terkekeh sambil berlalu meninggalkan ayahnya. Dia mengajak Safa masuk untuk menemui Willa.


"Zidan kamu hutang penjelasan padaku," sungut Julian tak terima kalau mereka ternyata tinggal di satu hotel. Kepala Julian seolah berasap mendengar omongan Zidan.


"Bunda," panggil Willa ketika melihat sang ibu. Anak kecil itu berhambur ke pelukan ibunya. Safa mengelus rambut panjang Willa. "Bunda kangen sama Willa," ucapnya sambil memeluk sang anak dengan erat.


"Willa juga, Willa nggak nakal kok selama di sini, bunda," adunya.


"Anak baik," panggil Zidan.


Safa melonggarkan pelukannya. Willa melompat dan Zidan menangkapnya. "Wah kamu tambah berat ya," ucap Zidan.

__ADS_1


Julian mengamati kedekatan antara Zidan dan Willa. Mereka sangat akrab. Julian sebenarnya iri melihat Zidan yang sedang menggendong Willa. Dia ingin sekali menggendong anak kecil itu dan tertawa bersama.


"Ayah." Suara panggilan sang istri membuyarkan lamunan Julian.


"Safa dan Willa mau pamit," sambung Raina. Julian hanya mengedipkan matanya. Namun, Willa dengan cepat meraih tangan Julian untuk disalami.


"Aki, terima kasih sudah nemenin Willa main selama beberapa hari ini," ucapnya dengan polos. Sontak Zidan dan Safa terkejut mendengarnya. Ada rasa senang di hati Zidan begitu juga dengan Safa. Julian mau menerima kehadiran Willa itu sudah merupakan kemajuan hubungan Safa dan Zidan.


Zidan berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Willa. "Jadi selama Willa tinggal di sini, aki ngajak Willa main ya?" Selidik Zidan. Julian berharap Willa tak menganggukkan kepala. Karena dia akan malu jika ternyata di belakang Zidan, dirinya mulai menyukai anak kecil itu.


"Mas kami pulang naik taksi saja," kata Safa pada kekasihnya.


"Tidak, sayang. Ini sudah malam sebaiknya aku antar saja," jawab Zidan.


"Benar nak, biarkan Zidan yang mengantarmu pulang," sahut Raina.


"Tapi bukankah mas Zidan capek karena baru sampai dari luar kota," sambung Safa.


"Ah apa kamu mau menginap di sini?" Tawar Raina.


"Mama," protes Julian. "Apa tidak cukup waktu mereka kemaren di hotel?" Gerutu Julian. Dia tidak mau istrinya mendengar perkataan itu. Julian takut jika istrinya syok mendengar keduanya bermalam di hotel yang sama.


"Tidak Tante terima kasih banyak. Beberapa hari ini saya merepotkan Anda untuk menjaga Willa."


"Tidak masalah, aku sudah menganggapnya seperti cucuku sendiri." Ucapan Raina membuat Safa merasa diterima di keluarga Zidan. Setelah berpamitan Zidan mengantarkan keduanya pulang ke rumah.


Ketika di perjalanan pulang, Zidan melihat Safa dan Willa tertidur. Dia membiarkan mereka karena keduanya pasti kecapekan. Ketika sampai di rumah Safa. Zidan baru membangunkannya.


Zidan mencium bibir Safa dengan lembut. "Mas ngapain sih?" Protes Safa. Dia menoleh ke belakang. Safa tidak mengetahui kalau Willa juga tertidur seperti dirinya.


"Biar aku yang gendong Willa," kata Zidan.

__ADS_1


Dari luar gerbang rumah Safa dua orang yang kebetulan lewat membicarakan keduanya. Saat itu timbul rumor kalau Safa adalah wanita yang tidak baik karena sering mengajak laki-laki ke rumahnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Bu. Masa malam-malam begini dia bertamu."


"Iya, mana lama lagi kalau sudah di dalam. Memangnya mereka ngapain aja sih di dalam rumah?" Yang lain menambahkan.


*


*


*


Zidan merebahkan Willa di tempat tidurnya. Setelah itu Safa


"Terima kasih banyak, Mas."


"Sayang kenapa kamu sungkan sekali padaku?" Tanya Zidan.


"Apa salahnya mengucapkan terima kasih pada seseorang yang telah menolong?" Safa balik bertanya.


Zidan mendekat lalu menarik pinggang kekasihnya. "Jadi kamu bilang terima kasih untuk membalas kebaikanku?" Goda Zidan.


Safa menjadi gugup. Dia mendorong tubuh Zidan agar menjauh darinya. Tapi saat berbalik badan Safa malah tersandung karpetnya sehingga dia pun terjatuh. Zidan menarik tangan Safa sayangnya tubuhnya tak seimbang hingga dia jatuh menimpa Safa.


Brak


Suara apakah itu?


Ikuti terus kelanjutannya ya


jangan lupa beri dukungan dengan komen atau like.

__ADS_1


__ADS_2