
"Kamu tadi tahu tidak siapa yang aku temui di sekolah barunya Zavier?" Sandra meminta suaminya menebak. Alex malas menjawab. Dia hanya menggedikkan bahu.
"Tebak dong! Nggak seru kalau nggak ditebak," desak Sandra.
Alex memutar bola matanya jengah. "Mantan pacar kamu? Eh lupa pacar kamu kan hanya aku satu-satunya." Sandra memukul bahu suaminya melihat tingkah narsisnya itu.
"Hampir benar." Jawaban Sandra membuat Alex berubah mimik.
"Siapa? Zidan?" Tanya Alex dengan nada bicara yang ditinggikan.
"Idih, marah-marah mulu. Bukan dia tapi ibunya sama calon anaknya," jawab Sandra.
"Calon anak?" Tanya Alex memastikan.
"Kenapa? Mas Alex nggak tahu kalau calon istrinya Zidan itu seorang janda?"
"Tahu, tapi tidak tahu kalau dia sudah memiliki anak."
"Jadi anaknya itu seumuran Zavier."
"Apa ibunya juga seumuran kita?" Tanya Alex lebih lanjut. Sandra menggedikkan bahunya.
"Aku belum pernah bertemu dengannya. Jadi mana aku tahu. Bagaimana kalau kita undang mereka makan malam di rumah kita?" Usul Sandra.
Alex memicingkan matanya. "Kamu tahu 'kan aku tidak seakrab itu dengan Zidan?"
"Justru itu, Mas. Kamu harus memperbaiki hubungan kalian. Sampai kapan mau musuhan sama dia terus?"
"Lihat saja nanti." Sandra menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, Safa menjemput anaknya di rumah Zidan usai pulang kerja. Sepulang sekolah tadi, Raina mengajak Willa jalan-jalan.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Safa pada putrinya.
"Minum teh dulu, yuk!" Raina mengajak calon menantunya itu untuk duduk.
__ADS_1
"Kita langsung pulang saja, Tante," tolak Safa secara halus.
"Aku antar?" Tanya Zidan pada Safa.
"Tidak usah, Mas. Aku kan bawa mobil sendiri. Tante kami pamit dulu." Safa meraih tangan Raina lalu menciumnya.
"Kalian hati-hati di jalan." Pesan Raina pada Safa.
"Tunggu, Bun. Aku belum berpamitan pada aki," kata Willa menahan sang ibu.
"Oh, mama panggilkan ayahmu dulu," kata Raina setelah itu berjalan menuju ke kamarnya.
Tak lama kemudian Julian turun bersama istrinya. "Aki, kami mau pulang," kata Willa berpamitan pada laki-laki yang tak lain adalah orang tua calon ayahnya itu. Julian hanya mengangguk.
"Aku sariawan ya?" Ledek Willa.
"Hush, Willa yang sopan." Safa mengingatkan putrinya.
"Habisnya tadi aki baik-baik saja. Kenapa sekarang irit bicara?" Tanya Willa dengan polosnya. Semua orang jadi menahan tawa.
"Sayang, pulangnya hati-hati ya." Pesan Julian pada Willa sambil berjongkok. Raina tak menduga Julian kini tak segan menunjukkan rasa kasih sayangnya pada Willa di depan Safa dan Zidan.
Safa menjadi terharu karena calon ayah mertuanya itu mau menyayangi anaknya. Zidan juga merasa senang karena sang ayah kini bersikap hangat di depan Willa.
Willa memeluk Julian. "Aku sayang aki," ucapnya pada Julian dengan tulus. Hati Julian meleleh mendengar kalimat yang keluar dari mulut anak kecil itu. Tanpa sadar dia membalasnya. "Aku juga sayang pada Willa."
Semua orang tercengang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Julian. Mereka bahagia karena laki-laki paruh baya itu tak lagi bersikap dingin.
Setelah itu Willa melepas pelukannya dan beralih menggandeng tangan ibunya. Safa mengajak anaknya memasuki mobil. Willa melambaikan tangan ketika Safa mulai menjalankan mobilnya.
Di saat yang bersamaan, Sofia pulang diantar oleh Leo. "Kalian dari mana jam segini?" Tanya Julian mengintrogasi ana gadisnya.
Leo menunduk. "Aku meminta Leo mengantarku ke rumah pasienku, Yah."
"Kenapa tidak meminta tolong pada ayah atau Zidan?" Protes sang ayah.
__ADS_1
"Apa ayah tidak sibuk? Zidan mana mungkin ada waktu buat kakaknya," balas Sofia.
"Biarkan mereka saling pendekatan, Yah," ledek Zidan.
"Mana ada." Sofia dan Leo sama-sama menyangkal.
"Aku hanya memanfaatkan Leo sebagai bodyguardku. Lagipula ayah sudah membayar Leo kenapa aku harus mengeluarkan uang untuk membayar orang lain." Sofia berlalu setelah mengatakan itu.
Entah kenapa dada Leo merasa sesak ketika Sofia hanya menganggapnya sebagai bodyguard. Ia berharap lebih pada Sofia. "Ah, siapa aku? Aku tidak pantas mengharap sesuatu yang tak mungkin aku raih," pikir Leo.
Zidan bisa menangkap kesedihan di mata Leo. "Yang sabar, bro. Kakak hanya malu mengakui perasaannya," bisik Zidan menghibur asistennya itu.
"Leo kamu boleh pulang," perintah Julian pada Leo. Laki-laki itu mengangguk patuh.
Sofia merasa bersalah pada Leo karena telah berkata kasar padanya. "Apa aku keterlaluan ya sama Leo. Aku jadi merasa tidak enak," gumam Sofia.
Sofia mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Leo. Beberapa kali Sofia mengetik kata-kata di layar handphonenya tapi lagi-lagi dia hapus. "Aduh, ngomong kaya gimana ya ke Leo?" Sofia malah bingung sendiri.
"Sebaiknya aku meminta maaf secara langsung pada Leo besok pagi."
Di tempat lain, Leo mampir ke sebuah mini market. Dia membeli kopi kaleng yang dijual di mini market tersebut. Tak sengaja di sana dia bertemu dengan David.
"Entah ini suatu kebetulan baik atau buruk," seloroh David.
Leo menyunggingkan senyum tipisnya. "Aku juga tidak berharap bertemu denganmu." Leo membalas tak kalah pahit.
"Jangan memperlihatkan kebencian itu dengan jelas padaku!"
"Kamu terlalu percaya diri," balas Leo.
David menggertakkan giginya. "Aku tidak yakin Dokter Sofia akan memilihmu," kata David penuh percaya diri.
Leo tidak menanggapi omongan David. Dia membayar minuman itu lalu pergi. David mengepalkan tangannya. Lalu dia mengejar Leo. "Aku ingin bersaing denganmu mulai sekarang," teriak David. Leo menghentikan langkahnya.
Leo menoleh. "Aku tidak ingin bersaing dengan siapa pun. Aku tidak ingin memaksa Sofia menerimaku. Dia bebas memilih siapa pun yang dia sukai." Setelah mengatakan itu, Leo memasuki mobilnya.
__ADS_1