
Maaf pembacaku jika akhir-akhir ini pendek sekali babnya karena author sedang kurang fit 🙏
Buat yang menunggu kelanjutannya othor ucapkan banyak terima kasih sudah mengikuti dari awal
...♥️♥️♥️...
"Dokter Safa ada di ruangannya?" Tanya Zidan pada asisten Safa yang baru keluar dari ruang kerja Safa.
"Hari ini dokter Safa tidak hadir."
"Kenapa?" Tanya Zidan heran.
"Kata salah seorang perawat yang bertemu dengannya pagi ini, beliau sedang sakit."
"Baiklah, terima kasih."
Setelah mendengar kabar tunjangannya sakit, Zidan langsung menuju ke rumah Safa. Sesampainya di sana, Zidan langsung mengecek Safa di kamarnya.
Tok tok tok
Zidan mengetuk pintu karena Safa mengunci pintu kamarnya dari dalam. "Siapa?" Tanya Safa dengan nada yang lemah.
"Sayang, ini aku," teriak Zidan dari luar.
Lalu Safa mengumpulkan tenaganya untuk bangun dari tempat tidurnya meski kepalanya sangat pening.
Ketika Safa membuka pintu dia mendadak pingsan. Zidan dengan sigap menangkapnya lalu membaringkan Safa di atas ranjangnya. "Kamu demam," ucap Zidan saat menyentuh keningnya. Lalu Zidan turun guna mengambil baskom yang berisi air hangat untuk mengompres kepala Safa.
__ADS_1
Zidan merawat tunangannya sendiri dengan telaten. Safa dibiarkan tertidur lalu Zidan turun ketika mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Safa. Saat ia melihat ke luar, Willa telah pulang sekolah.
"Papa," teriak Willa girang ketika melihat Zidan. Dia melompat ingin digendong oleh Zidan.
"Kamu baru pulang sekolah ya?" Tanya Zidan.
"Papa kok ada di sini?" Tanya Willa heran karena ini masih jam kantor.
"Papa lihat bunda yang sedang sakit," jawabnya.
"Bunda sakit apa?" Tanya Willa khawatir.
"Hanya demam."
"Bunda sih lupa bawa payung jadinya sakit kan sekarang gara-gara kehujanan."
"Kemaren sepulang kerja. Tapi bunda tidak bawa mobil, kata pak Tarjo mobilnya rusak." Zidan jadi meras menyesal tidak bisa menolong calon istrinya itu ketika dalam kesulitan.
"Willa ganti baju dulu ya sama mbak Tum." Willa turun dari gendongan Zidan dan menurut pada perintahnya.
Stelah itu Zidan kembali naik ke kamar Safa. Ia mengganti kompres yang menempel di kepala wanita yang sedang terbaring karena sakit itu. Sesaat kemudian Safa sadar.
"Mas Zidan di sini?" Tanya Safa sambil berusaha bangun. Zidan membantu tunangannya itu dengan menata bantal agar Safa dapat bersandar dengan nyaman.
"Kata Willa kemaren kamu habis kehujanan ya?" Tanya Zidan sambil mengusap pipi wanita yang dicintainya itu.
"Iya, kemaren aku lupa bawa payung," jawab Safa singkat.
__ADS_1
"Apa perlu ku panggilkan dokter?" Tanya Zidan menunjukkan perhatian.
"Tidak usah, aku hanya perlu beristirahat saja."
"Baiklah, aku tinggal biar kamu bisa istirahat." Zidan mencium kening Safa sebelum keluar kamar.
Setelah itu Zidan pamit untuk kembali ke kantor. "Papa jangan pulang," rengek Willa.
"Nanti malam papa ke sini lagi." Zidan berusaha membujuk agar Willa merelakannya pergi bekerja. Willa mengangguk patuh. Zidan mengacak rambut Willa dengan sayang.
Sehari kemudian, Safa masih terasa lesu. Akhirnya dia meminta David untuk mengizinkan pada pihak rumah sakit. "Kak apa tidak sebaiknya kamu dirawat saja?" David terdengar cemas.
"Tidak, aku ingin di sini saja. Lagipula aku hanya terkena flu dan batuk besok juga sembuh," tolaknya.
"Kakak ini jangan suka menyepelekan penyakit."
"Tidak, bukan begitu. Aku tidak ingin jauh dar Willa saja. Lagipula hanya flu dan batuk masak harus dirawat di rumah sakit."
"Baiklah, baiklah." David memilih mengalah daripada berdebat dengan kakaknya.
Setelah itu Safa mendapatkan telepon dari Selly. "Kamu sakit apa?" Teriak Selly dari balik telepon.
David pun keluar dan membiarkan kakaknya mengangkat telepon. Lalu dia pergi ke rumah sakit.
"Aku sakit flu biasa," jawab Safa.
"Beneran? Kamu nggak lagi hamil kan?" Pertanyaan Selly membuat Safa terkejut.
__ADS_1