
Safa terkejut ketika melihat pagi-pagi ada dua orang yang bertamu.
"Selamat pagi, nyonya. Saya Tarjo dan ini Tumini. Saya diperintahkan oleh Bu Astrid untuk bekerja di sini," kata Tarjo.
"Astrid?" Safa merasa asing dengan kata itu.
Tak lama kemudian Safa mendapatkan telepon dari Zidan. "Apa kamu sudah bertemu dengan orang yang akan bekerja di rumahmu?" Tanya Zidan sesaat setelah Safa mengangkat teleponnya.
"Aku hanya bertemu dengan dua orang yang mengaku disuruh Astrid datang ke sini, apa kau mengenal Astrid?" Tanya Safa yang bingung.
"Dia itu sekretarisku di kantor. Kapan-kapan akan aku kenalkan dia padamu. Ya sudah, apa kau sudah mandi?" Tanya Zidan iseng.
Safa tak menjawab. "Aku tahu kau pasti belum mandi." Tebak Zidan. "Seharusnya aku berada di sana pagi ini," godanya lalu tertawa terbahak.
Safa buru-buru menutup teleponnya. Setelah itu dia mempersilakan keduanya masuk.
"Mbak Tum bisa bantu menyiapkan makanan tidak?"
"Baik, Bu."
"Pak Tarjo sudah sarapan belum? Nanti boleh sarapan di sini kalau mbak Tum sudah selesai masak. Terus habis itu antar anak saya ke sekolahnya. Hari ini saya temani dulu besok baru saya biarkan berangkat sendiri."
"Mengerti Bu."
"Ya sudah saya tinggal dulu mau siap-siap."
Mereka pun mengerjakan pekerjaanya. Mbak Tum memasak nasi goreng karena tidak ada bahan makanan di kulkas Safa. Sedangkan pak Tarjo memanasi mesin mobil yang akan digunakan setelah Safa memberikan kunci.
Usai bersiap-siap Safa mengajak Willa turun untuk sarapan. "Siapa mereka Bun?" Tanya Willa pada ibunya.
__ADS_1
"Oh iya, ini mbak Tum dan ini pak Tarjo yang akan membantu kita sehari-hari di rumah sayang." Willa beroh-oh ria.
"Hari ini saya hanya bisa masak nasi goreng Bu, soalnya tidak ada bahan makanan," lapor Tumini.
"Oh iya nanti saya kasih uang buat belanja bahan makanan," jawab Safa.
"Masakannya enak, Willa suka Bund," puji Willa. Tumini merasa senang.
Usai sarapan, Safa dan anaknya memasuki mobil yang sama. "Setelah mengantarkan anak saya ke sekolah nanti bapak harus mengantar saya ke rumah sakit tempat saya bekerja." Perintah Safa pada sopir barunya.
"Baik, Bu," jawab Pak Tarjo.
*
*
*
"Apanya, Mas."
Nyess
Hati Zidan berdesir ketika mendengar Safa mengucapkan panggilannya.
"Pembantu dan sopir di rumahmu?" Tanya Zidan.
"Aku belum tahu, tapi pagi ini mereka menurut pada perintahku. Aku sudah sampai di rumah sakit, jadi aku kerja dulu."
"Tunggu!"
__ADS_1
"Apa lagi, Mas?"
"Ada yang lupa kamu ucapkan padaku?" Safa tidak mengerti maksud Zidan. Dia berharap Safa mengucapkan kata-kata manis sebelum menutup teleponnya.
"Apa sih? To the point saja!" Desak Safa.
"Ah sudahlah lupakan!" Stelah itu Zidan menutup teleponnya karena kecewa.
"Bilang I love you kek, I Miss you kek. Eh malah ditutup begitu saja," gerutu Zidan.
Lalu Zidan memanggil Astrid masuk ke dalam. "Ada apa pak?"
"Kamu belum menyerahkan CV orang yang menjadi sopir dan pembantu di rumah pacar saya?"
"Oh iya pak saya lupa. Tunggu sebentar pak saya ambil dulu di meja saya." Astrid keluar sejenak ke ruangannya.
Lalu dia masuk kembali ke ruangan Zidan. "Kamu dapat dari mana orang-orang itu?"
"Saya keliling komplek di sekitar perumahan saya pak. Mereka adalah sepasang suami istri yang menganggur karena suaminya kena PHK, pak," lapor Astrid pada atasannya.
"Mereka tidak ada catatan kriminal kan?"
"Setahu saya tidak pak. Tapi saya akan cari tahu."
"Nice, saya suka tindakan kamu yang tegas," puji Zidan.
...♥️♥️♥️...
Aku mau kasih tahu kalau aku nulis judul lain nih, kalian bisa baca ini juga ya
__ADS_1