Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Menjebak Willy


__ADS_3

Julian datang ke kantor Zidan. "Maksud kamu apa membatalkan kerjasama dengan perusahaan Pak Bram?" Tanya Julian dengan melempar berkas ke meja Zidan.


"Kita bisa cari investor lain," kata Zidan meremehkan.


"Kamu pikir gampang mencari investor? Apa karena kamu bertengkar dengan mantan suami janda itu sampai-sampai membatalkan kontrak kerjasama tanpa berpikir terlebih dulu?"


Zidan tak terima ayahnya selalu memanggil Safa dengan sebutan 'janda'. "Ayah tahu kenapa cinta itu buta? Mungkin aku terlalu cinta pada Safa sehingga aku tidak memikirkan berapa kerugian yang hilang. Bisakah ayah melihat mama menangis? Aku juga tidak bisa melihat Willy mempermainkan Safa. Dia memisahkan anak dengan ibunya. Bahkan sampai sekarang mereka sama sekali tidak bertemu. Apa bisa ayah melihat wanita yang ayah cintai itu tersakiti?" Zidan membalas ayahnya.


"Ingat Zidan, kamu tidak akan mendapatkan restu dariku. Sampai kapan pun aku tidak merestui hubungan kalian," ucap Julian dengan penuh penekanan.


Julian keluar bersama Leo. Setelah itu, Zidan berteriak dan membuang semua benda yang ada di mejanya. Astrid masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya ketika melihat kekacauan yang dibuat Zidan.


"Pak tangan anda berdarah." Cepat-cepat Astrid mengambil obat untuk mengobati tangan Zidan yang berdarah.


Astrid membalut tangan Zidan dengan telaten. Jantung Astrid berdebar kencang karena merasa takut berada di dekat Zidan. Zidan seperti memiliki kepribadian ganda. Kadang dia begitu lembut kadang dia sangat garang seperti harimau.


"Minta OB bereskan ruangan saya," perintah Zidan pada sekretarisnya.


"Baik, Pak," jawab Astrid dengan gugup.


Setelah itu Zidan keluar. Dia pergi ke rumah sakit. Ketika dia berjalan menuju ke ruangan dokter Safa, Zidan berpapasan dengan kakaknya.


"Zidan? Kamu ngapain ke sini?" Tanya Sofia heran. Seharusnya ini masih jam kantor.


"Menemui kekasihku," jawab Zidan.


Mata Sofia mengarah ke bawah lalu tak sengaja melihat tangan Zidan yang sedang diperban. "Kamu terluka?" tanya Sofia khawatir.


"Bukan apa-apa." Zidan menyembunyikan tangannya ke belakang punggung.


"Jadi mau apa kamu menemui dokter Sofia? Apa ada urusan yang penting?" Tanya Sofia kepo.


"Mau ngajak nikah," gurau Zidan sambil terkekeh.


"Memangnya kamu sudah dapat restu dari Ayah?" Ledek Sofia dirinya tawa mengejek.


"Walaupun tanpa restu ayah, asal sudah mendapatkan restu dari Mama itu sudah cukup. Tapi tentu saja aku tidak akan melangkahi kakakku yang cantik ini. Jadi kapan kakak mau menikah?"

__ADS_1


"Kenapa malah jadi aku? Nikah-nikah aja kalau kamu memang sudah dapat jodoh duluan kamu boleh kok melangkahi aku," ucap Sofia dengan yakin.


"Ah yang bener?" Keduanya menjadi terkekeh.


"Menurut kakak Leo bagaimana?" Sambung Zidan hingga membuat wajah Sofia memerah. Zidan suka sekali menggoda kakaknya.


Tak lama kemudian Zidan melihat dokter Safa dan dokter Selly sedang berjalan bersama. "Sayang," panggil Zidan dengan berteriak. Dia berlari meninggalkan kakaknya. Sofia menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu.


Safa menjadi malu hingga dia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Jangan teriak-teriak ini rumah sakit," ucapnya dengan penuh penekanan sambil mencubit lengan Zidan ketika dia sudah ada di dekatnya.


"Apa perlu saya diperiksa, Dok? Dia mencubit saya dengan keras," tanya Zidan pada dokter Selly.


"Kalau itu saya tidak mau melangkahi wewenang dokter Safa," jawab Selly bergurau menanggapi omongan Zidan. Setelah itu dokter Selly meninggalkan keduanya.


"Mas Zidan ada apa kemari?" Tanya Safa.


Wajah Zidan berubah serius. "Bisakah kita bicara di kantin?" Safa mengangguk.


"Mau bicara apa Mas?" Tanya Safa setelah berada di kantin. Namun dia terkejut ketika melihat tangan kekasihnya terluka.


"Tangan kamu kenapa Mas? Apa lukanya serius?" Safa membolak-balikkan tangan kekasihnya.


"Apa dia mengatakan sesuatu tentang Willa? Bagaimana kabarnya? Apa kamu bertanya begitu padanya?" Tanya Safa dengan mata berkaca-kaca.


"Dia tidak mau menjawab. Kami berkelahi."


"Jadi tangan ini luka karena kamu berkelahi dengan Willy?"


"Bukan. Apa kamu mau mendatanginya di kantor? Mungkin itu satu-satunya cara kamu bisa menemuinya?" Zidan memberikan usul.


"Kudengar dia pindah kerja setelah kami bercerai," jawab Safa.


"Aku tahu di mana tempat kerjanya," jawab Zidan.


"Aku setuju bagaimana kalau besok kita mengikuti dia? Dengan begitu aku tahu di mana dia menyembunyikan anakku." Safa juga memberikan usul kepada Zidan.


"Baiklah besok kita ikuti dia. Aku akan minta sekretarisku untuk menyelidiki jadwal Willy besok." Safa mengangguk setuju.

__ADS_1


Usai menemui Safa, Zidan menghubungi Astrid. "Tolong lakukan apa yang aku suruh. Cari tahu apa saja yang akan dikerjakan oleh Willy besok? Kamu ingat kan laki-laki yang aku temui kemarin."


"Maksud bapak orang yang menggantikan Pak Bram di restoran kemarin?" Tanya Astrid memastikan.


"Iya kamu benar. Laporkan pada saya segera, saya akan mengintai dia besok kamu jangan sampai tidak melaksanakan apa yang aku suruh atau kamu akan mendapat hukuman dari saya," ancam Zidan.


Setelah itu Zidan menutup teleponnya. "Dih Pak Zidan bisanya mengancam mululu," gerutu Astrid.


Untungnya Astrid mengenal salah seorang pegawai yang bekerja di bawah pimpinan Willy. Gadis itu pun tak menunggu waktu, dia menghubungi temannya. "Martha, elo ada waktu nggak?" Tanya Astrid.


"Iya, Trid ada apa?" Tanya Martha pada temannya. Astrid adalah teman kuliahnya tapi mereka bekerja di perusahaan yang berbeda.


"Gue mau ngajak elo makan."


"Wah kebetulan banget, gue lagi pengen keluar, jenuh."


"Oke kita janjian di coffe shop biasa ya?" Kata Astrid. Setelah itu dia menutup panggilan teleponnya.


Astrid pun keluar dari apartemennya dengan memakai pakaian casual karena tempat mereka janjian tak jauh dari gedung apartemen miliknya.


"Jadi mau ngomongin apa?" Tanya Martha.


"Enggak, gue cuma mau traktir elo kopi aja malam ini," elak Astrid.


"Bohong banget, keliatan elo tuh kalau lagi bohong."


Astrid nyengir kuda. "Sebenarnya gue diperintahkan sama si bos buat cari tahu jadwal atasan lo."


"Maksud lo pak Bram?" Tanya Martha memastikan.


"Bukan, pak Willy."


"Gue denger dia kemaren berantem di restoran sama atasan lo?" Tanya Martha mengenai isu yang tersebar di kantornya. Astrid mengangguk.


"Jadi buat apa tanya jadwal pak Willy segala?" Tanya Martha curiga.


Astrid berfikir cepat. "Atasan gue dapat teguran dari bos besar jadi dia mau ketemu sama bos lo secara pribadi buat minta maaf secara langsung." Astrid berbohong. Sesungguhnya dia tidak tahu rencana Zidan mencari tahu jadwal Willy besok.

__ADS_1


"Gue sih nggak tahu pasti, pak Willy suka seenaknya. Besok aja gue kabarin langsung pas dia keluar."


"Oke." Astrid tersenyum lebar. Martha sama sekali tidak curiga padanya. Astrid pun bernafas lega karena dia sudah mengerjakan perintah yang Zidan berikan padanya.


__ADS_2