
Hari ini Zidan pulang kerja lebih awal. lalu dia mampir ke sebuah toko perhiasan. Setelah itu dia menuju ke rumah sakit tempat dokter Safa praktek.
Zidan sengaja menunggu dokter Safa di tempat parkir. "Mas Zidan," panggil Safa. Dia terkejut karena kekasihnya itu tiba-tiba berdiri hadapannya.
Zidan mengulas senyum seribu Watt miliknya. "Hari ini punya rencana ke mana?" Tanya Zidan. Safa menggeleng.
"Sebenarnya aku ingin mencari keberadaan anakku. Tapi aku tidak tahu harus ke mana mencarinya," ucapnya dengan wajah sendu.
Zidan menarik tangan kekasihnya itu kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobilnya. "Kamu mau ngajak aku ke mana Mas?" Tanya Safa yang bingung.
Zidan menoleh ke arah Safa dan kembali mengulas senyum. "Ikut saja pasti kamu akan suka."
Satu jam kemudian mereka tiba di sebuah pantai. Ketika Zidan menoleh, rupanya Safa tertidur. Zidan jadi tidak tega membangunkannya.
Zidan menunggu sampai kekasihnya itu terbangun. Laki-laki itu mengamati wajah cantik yang tak pernah bosan untuk dipandang itu. Sesaat kemudian Safa mengerjapkan mata. "Kita ada di mana, Mas?"
"Sudah bangun? Sepertinya enak sekali tidurmu." Tangan Zidan membelai kepala wanitanya.
"Maaf semalam aku tidak bisa tidur," ucap Safa tidak enak pada Zidan.
"Ayo kita turun. Sudah lama aku tidak ke sini," akunya.
Safa memiringkan kepalanya. "Memangnya siapa yang pernah kamu ajak ke sini? Apakah dia orang spesial?" Tanya Safa penasaran.
Zidan memutar ingatannya kembali. "Tidak ada, bahkan orang yang pernah menjadi orang spesial di hidup aku, tidak pernah aku ajak ke sini."
Safa mengerutkan keningnya. "Kenapa?" Tanya Safa singkat.
"Karena dia tidak mau," jawab Zidan dengan santai.
"Ke tempat sebagus ini tidak mau? Alasannya apa?"
"Cintaku bertepuk sebelah tangan." Sebenarnya Zidan tidak ingin mengingat kejadian di masa lalu tapi dia tidak mau kekasihnya yang sekarang salah paham atau curiga pada masa lalunya.
Tiba-tiba Safa tertawa terbahak-bahak. "Apakah wajahmu sebelum aku operasi benar-benar jelek sampai tidak ada wanita yang menginginkan kamu? Wah seharusnya kamu memberiku hadiah karena telah mengubah wajahmu yang jelek menjadi tampan," ledek Safa.
Lalu dia berlari meninggalkan Zidan. Zidan yang merasa tak terima lalu mengejarnya. "Dapat." Zidan menangkap Safa. Mereka sama-sama terjatuh di atas pasir.
"Aku tidak menyangka aku bisa tertawa terbahak-bahak seperti ini padahal hatiku sakit karena memikirkan anakku yang belum kembali." Tiba-tiba Safa teringat anaknya. Air matanya menetes tak terbendung.
Zidan menggenggam tangan Safa lalu mengusap air matanya. "Aku mohon jangan menangis aku tidak tega melihatmu bersedih seperti ini."
__ADS_1
Safa bangun. "Dia di mana sekarang? Sedang apa? Apakah dia sudah makan? Aku rindu dengan Willa." Hati ibu mana yang tidak sakit ketika tak tahu kabar buah hatinya.
Zidan ikut bangun dan memeluk kekasihnya. "Aku tahu ini waktunya tidak tepat tapi aku ingin sekali menjadi bagian hidupmu yang selalu bisa melindungimu dan berbagi kesedihan denganmu."
Safa mengurai pelukannya. "Apa maksud kamu?" Tanya Safa tidak mengerti. Zidan mengambil sebuah kotak dari dalam sakunya. "Will you marry me?"
Jantung Safa berdebar kencang ketika Zidan melamarnya. Meski dulu pernah dilamar oleh Willy tapi perasaannya kini lebih kuat dari pada cintanya pada mantan suaminya dulu.
Safa mendorong tangan Zidan. Zidan jadi sedikit kecewa. "Kamu menolakku?" Tanya Zidan.
"Orang tuamu tidak merestui hubungan kita. Mana mungkin kita bisa melanjutkan hubungan ini." Dia ingat betul ketika Julian memintanya menjauhi Zidan.
"Abaikan ayahku. Yang penting mama dan kak Sofia menyukaimu sudah cukup. Lambat laun ayah juga akan luluh jika kita berusaha. Aku mohon terima lamaranku. Aku akan memilih tenggelam di laut ini dari pada tidak bisa hidup dengan wanita yang aku cintai."
Safa malah tertawa. "Ya sudah tenggelam saja sana!" Ucapnya tak serius sambil berlalu meninggalkan Zidan.
"Kalau kamu tenggelem, siapa yang mau menikah denganku," teriaknya.
Zidan mencerna omongan kekasihnya itu. Secara tidak langsung Safa telah menerima lamaran Zidan. Lalu Zidan berlari mengejar kekasihnya.
Usai dari pantai, Zidan mengantarkan Safa sampai ke rumah. "Besok pagi aku akan menjemputmu. Mobilmu akan kutitipkan pada satpam yang berjaga di sana." Safa mengangguk.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Safa sambil tersenyum pada Zidan.
"Sama-sama calon istriku." Mendengar Zidan menyebut kata 'calon istri' membuat wajah Safa memerah.
Setelah itu Zidan memasuki mobil lalu pergi meninggalkan halaman rumah Safa. Safa melambaikan tangan pada Zidan.
*
*
*
Di lain hari, Zidan akan meeting dengan kliennya. Tanpa diduga orang yang mewakili adalah Willy.
"Astrid kamu sudah pastikan siapa klien kita bukan?" Tanya Zidan.
"Iya, pak. Seharusnya anda hari ini akan meeting dengan pak Bram tapi beliau berhalangan hadir jadi digantikan oleh Pak Willy."
Zidan mengeratkan giginya. Lalu dia berjalan cepat ke arah Willy. "Breng*sek kamu dimana kamu sembunyikan Willa?"
__ADS_1
Willy tersenyum sinis. "Memangnya siapa kamu?" Tanya Willy.
Bug
Zidan memberikan bogem mentah pada Willy. Willy pun jatuh tersungkur. Seorang asistennya membantu dia bangun. Willy menyeka darah segar yang keluar dari ujung bibirnya.
"Tega kamu bikin Safa nangis tiap malam. Tidak usah jadi pengecut yang selalu bersembunyi kamu Wil," ejek Zidan.
"Aku akan merebut hak asuh Willa terlebih dulu. Setelah itu aku baru bisa kembali pada Safa. Dia tidak akan bisa berpisah lagi dengan anaknya."
Zidan tertawa lepas. "Kamu tidak tahu hukumnya jika ingin menikahi mantan istri? Dia harus menikah dengan orang lain dulu baru bisa menikah denganmu. Tapi aku tidak akan membiarkan Safa kembali kepadamu."
Bug
Willy membalas pukulan Zidan di wajahnya. Astrid berteriak lalu membantu Zidan bangun. "Pak, anda tidak apa-apa?" Tanya Astrid.
"Ada apa ini? Jika kalian ingin berkelahi sebaiknya di luar saja," bentak seorang security.
Zidan merapikan jasnya lalu keluar dari restoran tersebut. "Pak bagaimana dengan meetingnya?" Tanya Astrid sambil berjalan terseok-seok karena mengikuti langkah Zidan.
"Batalkan semua kontrak kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan mereka."
"Tapi pak...."
Zidan memberikan tatapan tajam pada Astrid. Astrid jadi bergidik ngeri melihatnya. "Akan saya lakukan pak." Astrid berkata sambil menunduk.
*
*
*
Brak
Julian menggebrak meja ketika mengetahui Zidan membatalkan kerjasama dengan perusahaan yang dianggap berpengaruh.
"Apa yang dipikirkan oleh Zidan? Dengan mudahnya dia membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaan besar itu." Julian merasa geram. Ia tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.
"Leo segera cari tahu lalu laporkan hasilnya padaku," perintah Julian pada asisten pribadinya.
"Baik, Pak." Leo mengangguk paham.
__ADS_1