
Zidan kebetulan datang bersama Leo ke restoran yang sama dengan yang ditempati Sandra dan Safa saat ini.
"Sayang, kamu di sini?" Tanya Zidan ketika menyapa calon istrinya.
Sesaat kemudian Zidan beralih ke arah Sandra. "Hai, apa kabar?" Sapa Zidan, Sandra merasa ragu menjawabnya. Ini pertama kalinya dia melihat wajah Zidan setelah dioperasi.
"Baik," jawab Sandra. Safa menangkap tatapan berbeda antara Zidan dan Sandra.
"Ehem," Leo berdehem untuk memberi tahu atasannya agar tidak melupakan Safa. "Kalian kok bisa makan berada di sini?" Tanya Zidan mengalihkan perhatian.
"Anakku sekarang bersekolah di tempat yang sama dengan Willa," jawab Sandra.
Zidan menoleh ke arah Safa. Safa membenarkan omongan Sandra.
"Ah kalian mau pesan apa? Leo silakan duduk!" Safa bersikap sopan meski Leo adalah bawahan Zidan.
"Saya duduk di meja lain saja," jawab Leo.
"Bukankah dulu Leo bekerja sebagai asisten om Julian?" Tanya Sandra.
"Ya. Ayahku menukar Astrid dengan Leo agar dia bisa mengawasiku. Tapi itu dulu. Sekarang Leo tidak bekerja lagi pada ayahku. Dia hanya menurut perintahku. Zavier kamu sudah besar ya." Zidan mengacak rambut anak laki-laki itu tapi Zavier menyingkirkan tangan Zidan.
"Kenapa kamu tidak sopan pada papaku?" Willa tidak terima melihat sikap Zavier. Namun, sebenarnya Willa iri ketika Zidan lebih perhatian pada orang lain dibandingkan dirinya.
"Sayang, tidak boleh berkata kasar pada orang lain." Safa mengingatkan anaknya.
"Aku tidak suka papamu mengacak rambutku," jawab Zavier. Sandra memberikan kode agar putranya bisa menahan diri.
Willa menjambak rambut Zavier. Keadaan di restoran itu jadi kacau ketika anak-anak itu bertengkar. Zavier membalas dengan manjambak rambut panjang Willa sampai dia menangis. Lalu Zidan membawa Willa keluar.
"Willa tenang dulu!" Bentak Zidan. Willa berhenti menangis.
"Mas, tidak bisakah kamu memberi tahu secara halus pada Willa? Dia masih kecil," protes Safa tak terima anaknya dibentak oleh Zidan.
"Bukan begitu, dia..." Belum selesai berbicara Safa menggendong Willa lalu memasuki mobil. Wanita itu menjalankan mobilnya tanpa berpamitan pada Zidan. Zidan mengejar mobil Safa tapi dia tidak dapat menjangkau. Laki-laki itu menunjuk udara karena kesal.
"Maafkan aku," ucap Sandra penuh penyesalan melihat Safa yang pergi begitu saja.
"Zavier minta maaf pada om Zidan!" Pinta Sandra pada putranya. Zavier malah bersidekap dan membuang muka.
"Tidak apa-apa. Apa perlu aku antar?" Tanya Zidan.
__ADS_1
"Aku bawa mobil sendiri. Sebaiknya kamu temui calon istrimu lalu minta maaflah padanya." Sandra memberikan saran pada Zidan. Laki-laki itu mengangguk paham.
Setelah Sandra pergi Zidan berpesan pada Leo agar kembali dulu ke kantor. Dia akan menemui Safa di rumahnya.
Sesampainya di rumah calon istrinya, Safa tidak mau menemui Zidan. "Maaf, Pak. Ibu sedang istirahat di kamarnya bersama non Willa," terang asisten rumah tangga Safa.
Zidan menghela nafasnya kasar. "Baiklah. Saya akan pulang saja," ucapnya dengan lemas. Meskipun kecewa karena Safa tak mau menemuinya, Zidan mencoba memberikan kesempatan pada Safa agar bisa menenangkan diri untuk sementara waktu.
Zidan memasuki mobil kemudian menjalankannya perlahan.
Di tempat lain, Sandra baru sampai di rumahnya. Dia tidak tahu kalau suaminya pulang cepat hari ini. Zavier berlari ke kamarnya.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Alex pada istrinya yang kelihatan cemberut.
"Anakmu bikin ulah di restoran," jawabnya.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Alex.
"Dia bertengkar dengan calon anaknya Zidan," jawab Sandra dengan jujur.
"Memangnya apa alasannya mereka bertengkar?" Tanya Alex penasaran. Dia tahu betul Zavier tidak akan marah kalau dia tidak diganggu terlebih dulu.
"Ah hanya pertengkaran anak kecil tidak perlu dipikirkan," jawab Sandra. Dia takut menyebutkan alasannya apalagi berhubungan dengan Zidan. Sandra takut suaminya akan berprasangka buruk padanya.
"Belum," jawab Alex.
"Kenapa tidak makan duluan?" Tanya Sandra.
"Aku ingin makan kamu," bisik Alex ke telinga Sandra. Wajah Sandra memerah.
"Dasar mesum," ledek Sandra.
Alex mengangkat tubuh istrinya dengan sekali hentakan. "Mesum pada istri sendiri itu wajib," jawab Alex dengan seringai licik. Dia berjalan sambil menggendong istrinya menaiki tangga.
"Kamu bertambah berat sayang," keluh Alex.
"Kamu mengataiku gendut? Turunkan aku!" Sandra mencebik kesal. Namun, Alex tak mengizinkannya.
Alex menidurkan istrinya perlahan. Dia ingin mencium Sandra tapi tangan Sandra tiba-tiba menutupi bagian bibirnya. "Aku belum mandi, apa tidak sebaiknya nanti saja?" Sandra memberikan saran.
"Baik, aku batu kamu melepaskan pakaianmu."
__ADS_1
"Tapi, Mas..."
Tangan Alex sangat cekatan melepas pakaian Sandra hingga wanita itu sudah te*Lanj*ang bulat di depan suaminya.
"Kamu gila, Mas," umpat Sandra sambil menutup bagian dadanya.
Alex tak menghiraukan. Dia langsung menyerang istrinya hingga terjatuh di atas ranjang. Kini Alex berada di atas tubuh sang istri.
"Bantu aku melepas bajuku!" Pinta Alex dengan wajah memerah. Saat ini ga*irahnya sedang memuncak. Dia sudah tidak sabar bermain dengan istrinya.
Sandra menjadi malu. Dia masih memegangi bagian dadanya. "Lepas sendiri!" Tolak Sandra. Alex pun tak tahan lagi dan melepas semua bajunya. Setelah itu pergumulan pun dimulai.
Di tempat lain, Zidan sedang lembur di kantor. "Pak apa tidak sebaiknya anda pulang? Tanya Leo.
Sejak kejadian tadi siang, Zidan tampak murung. Dia duduk melamun sambil melihat ke arah luar jendela. Leo merasa prihatin.
"Pak, apa tidak sebaiknya anda datang ke rumah Dokter Safa lagi?" Tanya Leo.
"Besok saja. Mungkin kalau malam ini aku ke rumahnya, dia akan menolakku lagi."
Zidan memilih pulang ke rumah dengan di antar Leo. Sesampainya di rumah, Zidan masuk tanpa memberi salam terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam," sindir Sofia. Zidan tak merespon.
"Kenapa dia?" Tanya Sofia pada Leo.
"Sedang bertengkar dengan Dokter Safa," jawab Leo dengan jujur.
Sofia kaget. "Hah, bertengkar kenapa?"
"Ceritanya panjang."
"Leo apa kamu mau duduk dulu?" Seru Raina yang baru datang.
"Tidak usah, Bu. Sudah malam saya langsung pulang saja," jawab Leo dengan sopan sambil tersenyum. Setelah itu Leo memasuki mobil. Raina memperhatikan Sofia. Dia melihat Sofia tidak rela dengan kepergian Leo.
"Ehem." Sofia tersadar mendengar suara deheman sang ibu kemudian berjalan duluan menuju ke kamarnya.
...♥️♥️♥️♥️...
Sambil nunggu aku update kalian bisa mampir ke novel teman aku juga ya
__ADS_1