
Keesokan harinya Zidan datang ke rumah Safa untuk menjemputnya. Dia datang dengan membawa sebuah buket bunga. "Maafkan aku!" Zidan menyodorkan bunga yang dia pegang.
"Aku bukan wanita pendendam. Lagi pula seminggu lagi kita akan menikah. Tidak ada waktu bertengkar denganmu lama-lama." Meski dalam hati Safa masih kesal tapi perkataannya itu berdasarkan logika.
Zidan memeluk Safa secara tiba-tiba. "Aku janji tidak akan membentak Willa lagi."
Safa melepas pelukannya. "Aku mau berangkat kerja, Mas."
"Biar aku antar."
"Tidak usah," tolak Safa. Namun, Zidan tidak membiarkannya pergi. Zidan menggendong Safa lalu memasukkan ke dalam mobilnya.
"Mas, aku mau bawa mobilku sendiri," protes Safa.
"Kalau kamu menolakku itu berarti kamu belum memaafkan aku." Safa tidak menjawab.
Zidan menjalankan mobilnya kemudian mengantar Safa menuju ke rumah sakit. "Apa kamu sudah menyebarkan undangan?" Tanya Zidan.
"Belum," jawab Safa dengan singkat.
"Kenapa?" Tanya Zidan.
"Aku akan mengirim secara virtual saja."
"Owh, baiklah. Masih adakah persiapan pernikahan kita yang kurang?" Tanya Zidan lagi.
"Tidak ada. Bukankah semua sudah diatur oleh mamamu?" Tanya Safa memastikan.
"Baiklah, sepulang kerja nanti kita akan menemui mama. Sayang, aku tidak pernah mendengar kamu bercerita soal ibumu. Apa dia sudah meninggal?" Tanya Zidan. "Maaf."
"Dia masih hidup tapi bagiku dia sudah meninggal."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Zidan merasa ada sesuatu yang terjadi pada Safa dan ibunya di masa lalu.
"Tidak perlu kuceritakan. Kamu akan membuka lukaku yang tertutup. Yang penting ayahku nanti yang akan menjadi wali nikahku."
Zidan tidak berani lagi menyinggung soal ibunya. Sesampainya di halaman rumah sakit, Zidan turun lebih dulu. Dia membukakan pintu mobil untuk Safa.
"Jangan lupa nanti sepulang kerja kita menemui mama." Zidan mengingatkan. Safa hanya mengangguk.
Saat hendak berjalan meninggalkan Zidan, tangan Safa ditarik hingga badannya memutar. Zidan menangkap tubuh Safa. "Ada sesuatu yang belum kuberikan pagi ini." Perkataan Zidan membuat Safa berpikir keras.
Cup
__ADS_1
Safa terkejut ketika mendapatkan ciuman singkat di bibirnya. "Bibirmu akan selalu menjadi canduku."
Safa mendorong tubuh Zidan. "Bagaimana kalau ada yang melihat?" Protes Safa. Lalu berjalan cepat meninggalkan calon suaminya. Dia memegangi wajahnya yang merah seperti kepiting rebus.
Zidan hanya terkekeh melihat wajah Safa yang terlihat malu-malu. Setelah itu, dia menjalankan mobilnya menuju ke kantor.
"Leo aku ingin kamu menyelidiki seseorang!" Perintah Zidan pada asisten pribadinya melalui sambungan telepon.
Di saat Safa akan memasuki ruangannya, Dokter Sofia memanggil. "Dokter Safa." Safa pun menoleh.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya wanita yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu.
Safa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Boleh, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum saya buka praktek," jawab Safa. "Mari kita bicara di dalam?" Safa mengajak Sofia masuk ke dalam ruangannya.
"Apa anda masih bertengkar dengan adik saya?" Tanya Sofia.
"Tidak, pagi ini dia mengantar saya ke rumah sakit."
"Syukurlah. Saya cemas jika kalian masih bertengkar menjelang acara pernikahan kalian."
"Dari mana anda mengetahui kalau kemaren kami sempat bertengkar? Apa dia bercerita pada anda?" Tanya Safa penasaran.
"Bukan, saya hanya menebak dari ekspresi wajahnya ketika pulang ke rumah," jawab Sofia.
"Maaf, Dok." Sofia mempersilakan Safa berdiri.
"Hallo."
"Bisakah anda datang ke sekolah sekarang? Willa berkelahi dengan temannya."
"Apa?" Safa berdiri. "Maaf, Dok. Saya harus pergi sekarang," pamit Safa pada Sofia.
"Haduh bagaimana ini, sudah waktunya melayani pasien?" Asisten Safa bingung melihat kepergiannya.
"Kamu tunda sejam lagi," perintah Sofia pada asisten Safa. Wanita itu mengangguk paham.
Lalu Sofia menghubungi Zidan melalui ponselnya. "Zidan, apa kamu sibuk?" Tanya Sofia melalui sambungan telepon.
"Ada apa, Kak?" Tanya Zidan.
"Dokter Safa tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa setelah mendapat telepon. Tapi aku tidak tahu dia pergi ke mana."
"Baiklah, aku akan perintahkan Leo untuk mencari tahu. Sebentar lagi aku ada meeting jadi tidak bisa kutinggalkan."
__ADS_1
"Kau ini kapan tidak merepotkan Leo," protes Sofia.
"Kenapa? Apa karena Leo akan menjadi kakak iparku?" Ledek Zidan sambil diiringi tawa mengejek. Sofia menutup panggilan teleponnya secara sepihak.
"Dasar laki-laki menyebalkan," umpat Sofia. David mendengar Sofia yang sedang kesal.
"Laki-laki? Siapa yang dia maksud?" Tanya David pada dirinya sendiri. Sebenarnya dia sangat penasaran. Namun, tak mungkin dia menanyakan langsung pada Dokter Sofia.
Sementara itu, Safa melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai ke sekolahan Willa. Ketika dia akan berbelok sebuah mobil datang dari arah yang berlawanan. Dia pun menekan rem dalam-dalam. Jantungnya berdebar amat kencang karena kejadian itu. Beruntung tidak terjadi kecelakaan.
Tok tok tok
Safa mendengar seseorang mengetuk kaca jendelanya. Lalu dia membuka matanya perlahan. Setelah itu, Safa membuka kaca mobilnya itu.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Willy." Safa turun dari mobilnya. "Maaf, aku terburu-buru."
"Kamu mau ke mana?" Tanya Willy.
"Willa berkelahi dengan temannya," jawab Safa.
"Kalau begitu aku ikut denganmu." Safa mengangguk. Tidak ada ada waktu menolak Willy. Lagi pula Willy sudah berubah.
Sesampainya di sekolahan Willa, Safa langsung menuju ke kelasnya. "Willa," panggil Safa. Dia melihat anaknya itu tampak berantakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu?" Tanya Willy.
"Saya tidak tahu ketika saya masuk Willa dan Zavier sudah berkelahi. Saya tanya pada mereka tapi tidak ada yang menjawab."
"Dia tu Bun mulai duluan," adu Willa.
"Tidak, kamu yang mulai." Zavier membela diri.
"Sudah Wil, kamu mengalah. Ayo minta maaf pada temanmu!" Perintah Safa pada anaknya.
"Tidak mau," tolak Willa sambil bersidekap.
"Sebaiknya saya dia bawa pulang dulu, Bu." Safa meminta izin pada Guru Willa.
Setelah itu, Safa beserta Willa dan mantan suaminya keluar dari sekolahan itu. Di saat yang bersamaan Leo melihat ketiganya keluar. Leo memotret kebersamaan mereka karena Zidan meminta laporan dari Leo.
Zidan membuka pesan yang dikirimkan oleh Leo. Dia kaget saat calon istrinya berjalan bersama mantan suaminya. "Sedang apa mereka? Mengapa mereka bisa bersama-sama?" Geram Zidan sambil mengepalkan tangan.
__ADS_1
Zidan merasa cemburu melihat calon istrinya berjalan dengan laki-laki lain. "Aku tidak akan biarkan siapa pun merebutnya dariku."