Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 21 - Siapa Perempuan Itu?


__ADS_3

Pagi menjelang, sepasang insan pengantin baru sudah tampil rapi. Keduanya hari ini berencana pergi ke makam Handika dan Papa. Lalu ke rumah utama sejenak untuk berpamitan dengan Mama Ida.


Hal ini dikarenakan, besok Faizan ada meeting penting sejenak di kota Bandung. Lusa, keduanya akan bertolak ke Bali untuk menikmati honeymoon hadiah dari Bu Jihan.


Rencananya selama Faizan pergi ke Bandung, Aisha tetap tinggal di apartemennya. Meeting ini hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa jam saja. Sehingga dirinya tak akan menginap dan langsung kembali ke Jakarta setelah selesai urusannya.


Aisha pun mengikuti apapun perintah suaminya. Awalnya Aisha ingin ikut ke Bandung namun sang suami mengatakan lebih baik di apartemen saja atau pergi bersama Lala. Dikarenakan Faizan khawatir nanti istrinya itu bosan menunggu bila ditinggal pergi meeting dengan rekan bisnisnya.


Faktor lain dia tidak ingin istri cantiknya dilirik oleh rekan bisnisnya atau para pria di luar sana jika sedang sendirian. Sifat posesifnya sudah mulai menggeliat.


Faizan juga tidak akan meninggalkan istrinya dengan Mama Ida di rumah utama jika dirinya sedang bepergian keluar kota. Khawatir terjadi sesuatu dengan sang belahan jiwanya.


Sesampainya Faizan dan Aisha di makam Handika, keduanya berdoa secara khusyuk. Makam Handika bersebelahan dengan makam Papanya, Budi Atmajaya. Tak lupa taburan bunga keduanya berikan di atas pusara Handika dan juga makam sang Papa.


"Bang, amanahmu sudah aku lakukan. Terima kasih atas restu dan ridhomu. Semoga pernikahan kami langgeng hingga akhir hayat dan aku bisa memberikanmu banyak keponakan yang lucu-lucu," ucap Faizan seraya tersenyum.


Aisha yang mendengar ucapan Faizan begitu terharu namun di ujung kalimat suaminya sontak membuat pipinya merah padam. Anak? Suatu hal yang tentunya sangat ia dambakan sejak lama.

__ADS_1


Sejatinya setiap pernikahan seseorang pada umumnya tentu menginginkan penerus garis keturunan. Walaupun Faizan dalam hal ini tidak akan memaksakan keinginan itu pada Aisha, akan tetapi namanya manusia wajar jika memiliki sebuah harapan ingin mendapatkan momongan dalam pernikahannya.


Faizan pasrahkan pada Sang Pencipta mengenai jodoh, rejeki dan maut. Terlebih rejeki tentang anak. Ia sudah merasakan Tuhan telah berbaik hati padanya dengan mengabulkan doanya untuk berjodoh bersama Aisha itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Hal yang tak ia sangka maupun duga bahwa takdir berpihak padanya untuk hidup bersama sang belahan jiwanya dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci. Ia akan menjaga Aisha dan pernikahannya dengan segenap jiwa raga.


Di sisi lain, di kediaman Atmajaya. Mama Ida tengah menerima seorang tamu. Gadis berambut coklat dan bermata bulat dengan kulit kuning langsat. Berpakaian cukup sexy.


Hanya mengenakan kaos yang cukup ketat berlengan satu membuat lekuk tubuhnya sangat kentara jelas dari luar. Kaos yang berwarna putih dengan motif bunga di depannya dan rok mini yang berada di atas lututnya. Gadis itu tengah duduk bersama Mama Ida di ruang keluarga.


"Siapa perempuan itu? Dandanan dan pakaiannya seperti kurang bahan saja," batin Bik Wati menatap kurang suka pada gadis itu dari jauh.


"Ya ampun Tante Ida, Della turut berduka atas meninggalnya Mas Handika. Maaf kalau Della enggak tahu berita tersebut. Sebab Della juga baru saja pulang dari luar negeri," ucap Della dengan mimik kesedihan terpancar dari raut wajahnya.


"Iya Del, Tante mengerti kesibukanmu yang sekarang menjadi pengusaha muda. Tidak apa-apa kok. Oh ya sekarang kamu dan keluargamu tinggal di mana? Rumahmu yang di ujung jalan ini aku lihat sudah terjual sejak lama," tanya Mama Ida.


"Ah tante terlalu memuji. Saya juga masih belajar terus agar menjadi pengusaha sukses. Sekarang saya dan Mama tinggal di apartemen mewah di Jakarta Pusat yang tidak jauh dari Mall Grand Indonesia itu lho Tan. Oh ya kok rumah tante tampak sepi? Kak Faizan pergi ke mana? Bukankah sekarang hari minggu," tanya Della penasaran.

__ADS_1


"Faizan sedang keluar. Nanti juga dia ke sini kok. Kamu tunggu dia sampai datang ya," ucap Mama Ida dengan senyum smirknya.


"Beres tante. Kebetulan aku juga sangat rindu sama Kak Faizan. Pasti dia sekarang makin tampan dan sukses. Sudah lama aku tak bertemu dengannya," ucap Della seraya tersenyum riang membicarakan Faizan dengan Mama Ida.


"Akhirnya Tuhan memberikanku jalan melalui Della untuk menghancurkan pernikahan Faizan dengan Aisha si pembawa sial itu. Lebih baik Della jadi menantuku apalagi dia juga punya usaha berlian yang kabarnya laris manis pasti uangnya banyak. Bisa aku manfaatkan mengambil harta Atmajaya jika dia menjadi istrinya Faizan maupun dari kocek pribadi Della sendiri. Benar-benar beruntungnya diriku," batin Mama Ida tersenyum senang.


Saat keduanya asyik mengobrol, tiba-tiba ada suara seseorang yang sudah mereka tunggu kehadirannya sejak tadi.


"Mah," panggil Faizan.


Sontak keduanya pun menoleh ke sumber suara tersebut. Mama Ida hanya menatap Faizan dan Aisha dengan tatapan datar. Sedangkan wanita bernama Della yang sebelumnya terang-terangan bercerita pada Mama Ida bahwa ia mencintai Faizan, sontak melihat lelaki yang ia cintai tengah digandeng mesra oleh wanita yang tidak begitu familiar di matanya membuat hatinya begitu geram.


"Siapa perempuan itu? Berani-beraninya menggandeng tangan Kak Faizanku," batin Della dongkol dengan raut wajah berdecak sebal.


"Siapa perempuan itu ya? Tatapannya ke Mas Faizan begitu dalam dan sepertinya suamiku juga mengenalnya," batin Aisha penasaran melihat Della yang tengah menatap tajam padanya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2