
Bu Jihan kini sudah berada di kamar hotelnya. Dirinya tengah berganti pakaian selepas acara bersih-bersih. Besok pagi diperkirakan seluruh karyawannya sudah mulai berdatangan di hotel tempat dirinya menginap sekarang, Kuta Paradiso Hotel.
Dikarenakan acara family gathering akan dimulai besok malam bertepatan dengan ulang tahun Bu Jihan yang ke lima puluh satu tahun. Setelahnya adalah acara liburan ke beberapa tempat wisata ternama di Bali dan belanja ke pusat oleh-oleh yang sudah dijadwalkan oleh panitia.
Dan pada malam ketiga akan ditutup dengan acara makan malam di restoran seafood yang ternama di kawasan pantai Jimbaran, Bali. Menikmati makan malam di tepi pantai sambil melihat matahari tenggelam serta kaki yang beralaskan pasir pantai. Suasana makan malam romantis dengan tema keluarga diusung pada acara tersebut sebagai puncaknya.
Bu Jihan sudah bersiap untuk pergi menuju butiknya yang ada di komplek pertokoan Istana Kuta Galeria, yang tepatnya berada di Jl. Patih Jelantik, Kuta, Bali. Sebelumnya ia sudah menghubungi Kadek, salah satu orang kepercayaannya yang menjaga dan mengawasi butik tersebut.
Sedangkan di butik cabang Kuta tersebut, Kadek dan karyawan lainnya termasuk Aisha bersiap menyambut Bu Jihan selaku owner Ji's boutique. Setelah satu bulan ini Aisha bekerja di Ji's boutique, akhirnya Aisha tahu mengapa butik ini diberi nama tersebut.
Kadek mengatakan padanya bahwa owner butik bernama Bu Jihan. Dan nama Ji's boutique diambil dari panggilan sayang mendiang suami Bu Jihan pada istrinya. Ya, Rudy Artanegara biasa memanggil sang istri dengan panggilan Ji dari kata Jihan.
Aisha bahkan sangat memuji mendiang suami Bu Jihan yang sangat romantis. Namun sayang harus meninggal di usia muda. Kadek tak menceritakan secara detail mengenai kisah tragis meninggalnya Rudy Artanegara pada Aisha karena hal itu bersifat pribadi atasannya. Dan Aisha juga karyawan baru di butik tersebut.
Semua karyawan sudah berbaris rapi menyambut kedatangan owner Ji's boutique.
Ceklek...
Derit pintu utama Ji's boutique terbuka menampilkan sosok anggun berparas ayu nan lemah lembut tetapi ada ketegasan yang tersimpan dalam raut wajahnya.
"Selamat datang Bu Jihan," ucap seluruh karyawan outlet Ji's boutique cabang Kuta, Bali, dengan serempak.
"Terima kasih semua," balas Bu Jihan penuh senyum sumringah.
Senyum mengembang di wajah wanita paruh baya yang masih tampak awet muda ini. Derap langkah sepatu hak tinggi menggema memasuki butik yang sudah lama tak dikunjunginya. Namun sayang saat acara penyambutan itu, Aisha tengah berada di kamar mandi.
__ADS_1
Sebelumnya, dia minta ijin pada Kadek secara mendadak ingin buang air kecil yang sudah tak tahan. Padahal awalnya dia sudah berbaris seperti karyawan lainnya menyambut Bu Jihan.
Kadek bersama Bu Jihan pun memasuki ruangan owner. Dan para karyawan lainnya kembali pada pekerjaan masing-masing. Hari ini butik masih buka namun hanya setengah hari saja karena besok acara family gathering sudah dimulai.
Tak lama setelah keduanya berbincang, bunyi ketukan pintu terdengar dan Kadek menyuruh masuk sebab ia tahu siapa yang mengetuk.
"Masuk, Sha."
"Sha, siapa?" tanya Bu Jihan.
"Oh, itu office girl baru Bu. Sudah satu bulanan ini kerja. Orangnya sangat cekatan, bersih dan masakannya enak Bu. Anak-anak pada suka sama kerjanya. Apalagi pas saya sakit, dia membantu di bagian kasir. Dia benar-benar hebat. Padahal lulusan sarjana tapi bersedia jadi office girl," ucap Kadek.
"Hah," respon Bu Jihan cukup terkejut mendengar penuturan singkat Kadek.
"Permisi, Bu."
"Letakkan saja di meja itu, Sha. Terima kasih ya," ucap Kadek seraya menunjuk meja dekat sofa.
"Baik, Mbak Kadek."
Setelah Aisha meletakkan wedang jahe, kemudian ia menunduk dengan hormat hendak berpamitan keluar. Namun Kadek menahannya.
"Sha, ke sini dulu. Aku mau kenalin kamu sama Bu Jihan. Oh ya Bu, ini Aisha yang tadi saya ceritakan."
"Sha, ini Bu Jihan. Owner kita yang besok akan berulang tahun," ucap Kadek memperkenalkan Bu Jihan pada Aisha.
__ADS_1
Aisha langsung menunduk dengan hormat seraya memperkenalkan diri. Bu Jihan menatap Aisha dengan tatapan yang entah seperti apa. Lalu Bu Jihan tiba-tiba menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Aisha.
Sontak Aisha terkejut. Sekelas pemilik butik ternama dan dikenal konglomerat dari informasi yang ia dengar dari karyawan lainnya, mendadak ingin berjabat tangan dengannya. Ia sungguh merasa terharu.
Sebab jarang sekali pemilik suatu usaha ternama mau berjabat tangan dengan orang rendah seperti dirinya yang hanya office girl. Jabatan paling rendah di butik tersebut.
Selepas keduanya berjabat tangan dan saling berkenalan sejenak. Aisha undur diri karena dirinya tak enak jika lama-lama di ruangan pemilik butik tempatnya bekerja. Terlebih pekerjaannya masih cukup banyak di belakang. Bu Jihan pun mempersilahkan Aisha untuk kembali ke pantry.
Selepas Aisha pergi, Bu Jihan langsung bertanya sesuatu hal yang penting pada Kadek. Dan menyodorkan foto Aisha pada orang kepercayaannya itu. Bu Jihan menceritakan singkat tentang feelingnya bahwa Aisha yang bekerja sebagai office girl di butiknya adalah putri kandungnya yang selama ini hilang.
Kadek pun menyarankan untuk melakukan tes DNA agar jelas. Namun Bu Jihan tidak mau Aisha kabur jika ia tahu dirinya melakukan tes DNA itu. Akhirnya Kadek memberi ide brilian. Bu Jihan tersenyum sumringah dan menyetujuinya.
Kadek pun segera mengumpulkan seluruh karyawan Ji's boutique cabang Kuta. Lalu meminta mereka memotong rambutnya sedikit saja dan dimasukkan ke dalam plastik kecil semacam plastik obat. Tak lupa diberi nama masing-masing.
Kadek beralasan karena Bu Jihan akan berulang tahun, maka acara potong rambut ini bertujuan untuk membuang sial dari tahun sebelumnya. Dan supaya para karyawannya semakin kompak. Nanti rambut tersebut akan dilarung atau dibuang ke laut lepas oleh Bu Jihan seraya berdoa.
Mereka semua pun percaya termasuk Aisha. Padahal faktanya tidak. Itu hanya sebuah alasan Kadek agar tes DNA tersebut bisa dilakukan tanpa kecurigaan dari Aisha maupun karyawan lainnya.
Rambut pun sudah ada di tangan Kadek. Saat ini dirinya tengah menemani Bu Jihan bertandang ke rumah sakit ternama di Denpasar, Bali, guna melakukan tes DNA.
Dokter mengatakan untuk menunggu satu hari maka hasil tes DNA sudah bisa dilihat bersama. Hati Bu Jihan sungguh bahagia dan berharap hasilnya positif. Dirinya ingin sekali memeluk Aisha namun ia berusaha tahan sebelum mendapatkan hasil yang jelas.
"Semoga kamu memanglah putriku," batin Bu Jihan tersenyum sumringah saat keluar dari rumah sakit bersama Kadek.
🍁🍁🍁
__ADS_1