Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 54 - Keyakinan Bu Jihan


__ADS_3

"Hingga kini aku tak tahu putriku ada di mana? Apakah masih hidup atau sudah meninggal dunia. Setelah aku sembuh dan hidup normal kembali, aku membayar detektif untuk mencari keberadaan putriku. Namun hingga sekarang masih nihil."


"Terakhir informasi yang diberikan oleh mereka, ada sepasang suami istri yang bekerja sebagai buruh serabutan di perkebunan tersebut yang diduga membawa bayiku. Dari cerita yang aku dengar, aku yakin mereka bukan golongan penjahat tersebut. Karena jika mereka jahat pasti bayiku sudah tewas di tempat atau meminta tebusan padaku. Mungkin saja mereka kasihan melihat putriku jadinya membawa anakku dan mengasuhnya seperti anak kandung mereka sendiri. Dugaanku sementara seperti itu," tutur Bu Jihan dengan sendu.


"Apa Ibu mengetahui siapa nama sepasang suami istri yang diduga membawa bayi Ibu tadi?" tanya Faizan.


"Sayangnya orang suruhanku tidak berhasil menemukan identitas mereka. Terlebih keduanya hanya pegawai serabutan yang baru satu minggu bekerja di sana. Pihak perkebunan memang tak mewajibkan identitas untuk karyawan serabutan yang kerjanya memang tidak menentu dan penghasilan yang sangat minim. Kami hanya mendapat informasi bahwa mereka pergi dan menetap ke Jawa," ucap Bu Jihan.


"Lalu apa Ibu menemukan petunjuk baru di Jawa mengenai mereka atau putri Ibu?" tanya Faizan kembali yang didera penasaran.


"Hingga kini belum ada. Seakan semua buntu. Aku terlambat memulai pencarian karena koma dan kondisiku yang belum pulih saat itu. Aku hanya berharap bisa menemukan putriku kembali walaupun hanya bisa menatap batu nisannya jika memang Tuhan tak mentakdirkan kita untuk saling berpelukan dan mencurahkan kasih sayangku padanya," cicit Bu Jihan sendu seraya menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa Ibu mengira Aisha adalah putri kandung Ibu?" tanya Faizan.


"Gelang emas putih betahtakan berlian dengan logo huruf "A" yang ada pada mata berlian tersebut dimana gelang ini digunakan oleh istrimu. Coba kamu lihat foto ini dengan seksama," ucap Bu Jihan seraya menyodorkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar gelang yang dikenakan oleh bayi Almira sama persis dengan yang dipakai Aisha.


Bu Jihan menjelaskan bahwa gelang tersebut di rancang sendiri olehnya lalu ia berikan pada mendiang suaminya. Sahabat mendiang suaminya yang memiliki usaha perhiasan di Singapura yang membuat gelang tersebut hingga selesai.


Saat bayi Almira lahir ke dunia, mendiang suaminya langsung memakaikan gelang tersebut pada putrinya setelah diadzani.


Sejak menikah dengan Aisha ia memang mengetahui sang istri memakai gelang emas putih dan dirinya pernah bertanya "Apa gelang tersebut pemberian Handika?"


Namun Aisha mengatakan bahwa gelang itu bukan pemberian Handika tetapi dari mendiang ibunya yaitu Bu Lestari. Diberikan oleh ibunya saat menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit setelah kecelakaan terjadi.

__ADS_1


"Gelang ini sangat mirip. Apa benar Aisha adalah putri kandung Bu Jihan? Jika benar, jadi Ayah Surya dan Bu Lestari bukan orang tua kandung Aisha. Tapi saat ini Aisha ada di mana juga aku belum tahu," batin Faizan sendu.


"Saya mohon Zan, bantu Ibu bertemu dengan istrimu. Jika memang dia bukan putri kandungku, tidak apa-apa. Kalian tetap selamanya menjadi putra dan putriku yang hidup dalam hatiku. Tetapi jika memang dia terbukti putri kandungku yang selama ini aku cari, aku mohon ijinkan Ibu membahagiakannya dengan memberi kasih sayangku padanya."


"Tapi Bu, ehm..."


"Kenapa Zan? Apa kalian berdua ada masalah rumah tangga?" cecar Bu Jihan.


"Bukan begitu Bu. Tetapi saat ini Aisha pergi dari rumah dan saya belum menemukannya serta alasan kepergiannya," ucap Faizan lirih dan menunduk.


"Apa?" pekik Bu Jihan terkejut.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2