Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 68 - Calon Papa Ngambek


__ADS_3

"Mas, ta_pi ini kita sedang di tempat umum. Enggak enak sama yang lainnya. Bisa lepas dulu pelukannya," pinta Aisha terbata-bata mendadak jantungnya berdegup kencang.


Lama tak jumpa dengan sang suami, rindu yang menumpuk kian membuncah seiring cinta yang makin tumbuh subur dan bergelora di hatinya. Namun dirinya juga tersipu malu saat Faizan melakukan hal intim di tempat terbuka seperti sekarang.


Sedangkan suami Aisha sudah jangan ditanya, urat malunya sudah putus hilang terbawa angin. Dikarenakan saking bahagianya melihat sang belahan jiwanya sudah ia temukan, maka terus digenggam dan peluk erat khawatir Aishanya akan kabur dari pandangannya.


"Enggak mau. Biarin! Toh kita suami istri juga. Mereka pasti paham dan ngerti. Lagipula kita juga enggak ngapa-ngapain. Cuma pelukan saja masak enggak boleh sih! Mas takut kamu kabur lagi," cicit Faizan manja seraya semakin menempelkan tubuhnya guna memeluk Aisha dari belakang.


"Aku enggak akan pergi lagi tanpa seijin Mas. Percaya kan sama aku?" cicit Aisha.


"Hem,"


"Mas sudah makan? Aku ambilkan makan ya?" tanya Aisha berusaha mengalihkan perhatian Faizan.


"Sudah tadi sedikit tapi sekarang pengin makan yang lain," bisik mesra Faizan di telinga Aisha yang seketika membuat bulu kuduk istrinya berdiri.


"Hah," respon Aisha mendadak linglung.


Tanpa aba-aba Faizan menarik tangan Aisha untuk pergi meninggalkan acara ulang tahun Bu Jihan. Faizan yakin Bu Jihan pasti paham kondisinya saat ini yang ingin berdua dengan sang istri. Tanpa berpamitan, keduanya berjalan meninggalkan venue acara untuk membuat pesta sendiri di dalam kamar.


Tanpa keduanya sadari, ada beberapa pasang mata yang menatap mereka dari kejauhan dan mengulum senyum bahagia. Bu Jihan, Benny dan Agung memandang sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan menuju lift dan yang sudah mereka tebak pasti kembali ke kamar.


"Dasar bos bucin," batin Agung tertawa dalam hati.


"Pasangan yang unik," batin Benny terkekeh.


"Semoga kalian berdua bahagia selalu hingga akhir hayat," batin Bu Jihan tersenyum bahagia.


Bu Jihan, Benny dan Agung memang sengaja tidak memberitahu Faizan maupun Aisha bahwa pasangan mereka ada di acara yang sama. Bu Jihan awalnya mengabarkan kepada Benny. Lalu sahabat Faizan itu mengabarkan berita penting ini pada Agung, asisten Faizan. Ketiganya kompak bekerja sama.

__ADS_1


Alhasil rencana ketiganya berhasil. Dan mereka tentu bahagia melihat Faizan bertemu kembali dengan istrinya. Terlebih Agung yang sangat paham bahwa hanya ada satu obat mujarab agar bosnya tidak bertingkah aneh adalah istrinya.


Otomatis penjajahan pada dirinya akan terbebas pula. Tentu ia merasa lega sebab pawang untuk bosnya sudah kembali ke habitatnya. Sehingga dirinya tak perlu menjadi korban lagi atas keanehan sikap bosnya yang seringkali membuatnya terkena tekanan darah tinggi mendadak.


Bu Jihan memang sengaja belum mengumumkan pada publik di pesta malam itu tentang jati diri Aisha sesungguhnya. Dirinya harus berbicara terlebih dahulu pada Faizan dan Aisha tentang hasil tes DNA tersebut. Sementara ini hanya Kadek, Benny dan Agung yang sudah mengetahui kabar hasil tes DNA tersebut.


Malam ini Bu Jihan ingin memberikan ruang dan waktu terlebih dahulu bagi sepasang insan manusia yang tengah dilanda rindu menggebu untuk saling bersua dan menghabiskan waktu dengan cinta mereka.


Dirinya pernah muda tentu sangat paham akan kondisi Faizan dan Aisha yang ingin berdua. Terlebih Faizan yang tengah ingin bersama sang istri yang sudah sebulan lebih menghilang dan selalu ia rindukan.


Potongan pertama kue ulang tahun Bu Jihan pada acara malam ini, ia berikan pada Benny. Dikarenakan keponakannya itu sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Tepuk tangan meriah dari seluruh peserta family gathering mengiringi acara pemotongan kue tersebut.


Ceklek...


Pintu kamar Faizan pun terbuka. Keduanya bergegas masuk ke dalam kamar dan Faizan segera menutup pintunya rapat-rapat. Bahkan ia sudah memasang tulisan Don't Disturb alias jangan ganggu depan pintu kamarnya.


Deg...


Terlebih lampu-lampu hias unik di area dinding kamar maupun meja dan beberapa sudut penting yang semakin membuat nuansa di dalamnya sangat romantis.


"Ma_s.. apa kamu ingin memberi aku kejutan?" tanya Aisha menoleh pada Faizan.


"Bu_ bukan sayang," jawab Faizan sedikit terbata-bata tak menyangka kamarnya berubah total seperti kamar pengantin baru yang mewah dan romantis.


"Terus kalau bukan kamu, lantas siapa?" tanya Aisha heran.


"Ehm, Benny apa Bu Jihan ya?" cicit Faizan lirih namun dapat didengar oleh Aisha.


"Apa? Bu Jihan? Mas kenal sama beliau?" tanya Aisha.

__ADS_1


"Iya kenal. Beliau tantenya Benny sekaligus mantan atasan Mas sewaktu kerja di Batam yang dulu pernah Mas ceritakan ke kamu," ucap Faizan yang diangguki oleh Aisha.


Ternyata dunia tak selebar daun kelor. Dulu Faizan bekerja di kantor Bu Jihan yang ada di Batam. Kini Aisha bekerja di butik Bu Jihan di Bali. Bahkan nanti Aisha pun tak akan menyangka bila sesungguhnya dirinya adalah putri kandung Bu Jihan.


"Kamu jahat! Tega ninggalin Mas. Salah Mas apa coba?" cicit Faizan merajuk.


Saat ini Faizan sudah berbaring di atas tempat tidur yang berhiaskan banyak taburan bunga mawar tersebut dan ia menatap ke arah lain dengan membelakangi istrinya. Aisha sungguh tak enak hati dan sedih melihat kekecewaan dalam diri suaminya. Bahkan kini Faizan tak mau menatapnya.


Sebuah helaan nafas berat dari Aisha akhirnya memberanikan dirinya untuk naik ke atas peraduan lalu memeluk tubuh suaminya dari arah belakang.


Grep...


Sepasang lengan mungil membelit tubuh kekar Faizan dari belakang.


"Maafkan aku Mas. A_ku enggak pantas buatmu. A_ku enggak bisa menjaga diri dengan baik hing_ga ada lela_" ucapan Aisha yang terbata-bata terpotong saat Faizan langsung membalikkan tubuhnya dan mencium bibir merah delima yang tengah berbicara itu.


Cup...


Ciuman pun yang awalnya sekilas namun membuat keduanya tanpa sadar larut dalam rindu yang membuncah hingga berubah menjadi panas. Seiring cinta yang makin bergelora dalam relung hati masing-masing.


Drett... drett... drett...


Tiba-tiba bunyi dering ponsel Faizan yang ada di saku jasnya terdengar sehingga membuat keduanya yang awalnya memejamkan mata menikmati cumbuan rindu, berujung membuka matanya dan mengakhiri apa yang mereka lakukan.


Jangan ditanya bagaimana raut wajah keduanya saat ini. Jika wajah Aisha tengah merah padam bak kepiting rebus tersipu malu karena membalas ciuman sang suami yang tak kalah menggebu akibat rasa kangen yang sudah menumpuk. Entah ibunya atau jabang bayinya yang rindu. Hanya pembaca yang lebih paham.^^


Sedangkan Faizan langsung mendengus sebal bak seperti banteng yang bersiap mengeluarkan tanduknya pada orang yang menggangu pestanya malam ini.


"Astaga, dosa apa hamba ya Tuhan? Ada saja gangguannya. Sudah hampir dua bulan puasa masih saja gangguan datang," batin Faizan tengah mengomel.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2