
Aisha menempuh perjalanan sekitar delapan belas jam untuk tiba di Denpasar, Bali. Dia berangkat dari Jakarta ke Denpasar dengan menaiki bus. Aisha berencana tinggal di Bali. Terbersit ingin pergi ke luar negeri namun apa daya surat-surat penting bahkan ijazahnya berada di rumah ibu mertuanya.
Dia hanya bisa menghela nafas dalam ketika mengingat kepedihannya tersebut dengan ibu mertuanya yang tak pernah menghargai sedikitpun cinta tulusnya sebagai menantu di keluarga Atmajaya. Apalagi saat ini dalam kondisi hamil muda. Dirinya begitu merindukan sang suami.
Konon katanya trisemester pertama adalah fase kehamilan yang cukup sulit dilalui. Terlebih ini adalah kehamilan pertamanya yang otomatis belum memiliki pengalaman. Hormon kehamilan yang merecoki diri membuatnya mudah sedih dan sensitif. Tetapi ia dipaksa harus tegar dan mandiri dalam kondisi saat ini.
"Mama akan jaga kamu sayang sekuat tenaga. Kita berjuang sama-sama ya sayang. Maaf jika Mama pergi dari Papamu demi kebaikan bersama. Semoga kamu enggak marah sama Mama," batin Aisha sendu seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Langit di Pulau Dewata, Bali, sangatlah cerah hari ini secerah hati Aisha ingin menapaki lembaran barunya bersama jabang bayinya yang masih dalam kandungan. Ia berhasil menemukan rumah tinggal dengan harga sewa yang terbilang cukup murah yakni satu juta rupiah per bulan.
Hari ini selepas Aisha membereskan rumah kontrakannya, ia pergi ke pasar membeli beberapa perabotan rumah tangga dan beberapa potong baju. Ketika ia melewati jalan yang tak jauh dari pantai Kuta, dirinya melihat informasi lowongan di sebuah butik bernama Ji's boutique.
Tetapi karena sekarang penampilannya masih acak-acakan sehabis dari pasar, ia memutuskan pulang terlebih dahulu guna mengganti pakaian. Aisha berencana melamar di butik tadi apapun pekerjaannya.
Aisha telah rapi mengenakan kemeja putih dan rok selutut berwarna hitam. Lalu ia menambahkan syal kecil motif bunga pada bagian kerah kemejanya dengan posisi terikat namun tidak erat dan sedikit menjuntai.
Rambut hitamnya ia biarkan tergerai dan wajahnya hanya terpoles make up tipis berupa bedak dan lip tint berwarna nude. Sehingga kesan natural begitu melekat pada diri Aisha yang notabene memang tidak suka memakai make up atau riasan tebal.
__ADS_1
Aisha berdoa dalam hatinya semoga dia diterima bekerja walaupun hanya membawa surat lamaran tak ada ijazah dan sebagainya guna sebagai informasi pendukung dirinya. Pagi ini Ji's boutique cukup lengang sebab baru saja buka. Butik cabang yang hanya ada satu di Pulau Dewata ini memiliki delapan karyawan saja.
Dua orang sebagai kasir, satu bagian keamanan dan sisanya SPG. Aisha pun memasuki butik tersebut dan langsung menemui kasir yang tengah bertugas saat itu.
"Permisi, Mbak. Apa betul ada lowongan kerja di sini seperti yang tertera di pintu butik ini?" tanya Aisha dengan sopan.
"Betul. Mbaknya mau melamar?" tanya Kadek, salah satu kasir Ji's boutique.
"Iya Mbak. Perkenalkan nama saya Aisha," ucap Aisha seraya mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan yang disambut oleh Kadek dengan baik.
Kemudian Kadek membawa Aisha masuk ke sebuah ruangan. Dia langsung meminta data pendukung serta mewawancarai Aisha. Kurang lebih sekitar dua puluh menit sesi wawancara tersebut.
"Iya Mbak Kadek, saya sanggup. Apapun pekerjaannya selagi halal saya siap," ucap Aisha meyakinkan.
"Dari informasi yang mbak berikan tadi walaupun tanpa lembaran pendukung saya yakin Mbak dapat dipercaya. Hanya saja apa tidak sayang seorang sarjana seperti Mbak, harus kerja sebagai OG?" tanya Kadek lirih.
"Enggak apa-apa Mbak. Sudah diterima bekerja di sini saja saya sudah bersyukur sekali. Tidak semua hal berjalan mulus sesuai harapan kita. Tetapi yang penting niat dan doa pasti tidak akan pernah mengkhianati hasilnya kelak. Silahkan nanti Mbak lihat kinerja saya di sini dahulu dan semoga cocok," ucap Aisha antusias.
__ADS_1
Setelah penuh pertimbangan, akhirnya Kadek menerima Aisha untuk bekerja sebagai OG di Ji's boutique mulai besok. Kadek membawa Aisha berkeliling Ji's boutique sejenak sekalian memperkenalkan pada karyawan lainnya.
Kadek bekerja sebagai kasir sekaligus penanggung jawab utama di Ji's boutique cabang Bali. Kantor utama Ji's boutique sendiri berada di Jakarta. Total ada sepuluh outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Owner kami sangat jarang mengunjungi outlet sebab beliau memiliki banyak kesibukan menangani bisnis peninggalan almarhum suaminya. Sehingga untuk bisnis butik ini diserahkan pada orang kepercayaannya. Sebab sayang katanya jika ditutup. Nanti karyawan butiknya akan menjadi pengangguran," tutur Kadek seraya berjalan bersama Aisha saat berkeliling butik.
"Baik sekali owner Ji's boutique. Semoga beliau sehat selalu dan diberikan keberkahan. Beliau pasti orang yang sangat baik. Walaupun sudah berlebih tetapi ia tetap mempertahankan Ji's boutique sehingga mata pencaharian karyawan maupun para reseller tetap mengalir dengan baik," tutur Aisha penuh kagum.
"Amin... " jawab Kadek.
Aisha pun berpamitan pulang pada semua karyawan Ji's butik dengan menenteng sebuah paper bag yang berisi seragam kerjanya sebagai OG.
"Terima kasih Tuhan engkau mengabulkan doaku. Semangat Nak, sehat selalu dalam perut Mama ya sayang. Terima kasih doanya akhirnya Mama diterima bekerja," ucap Aisha yang tengah berbicara pada jabang bayinya saat dirinya tiba di rumah kontrakannya kembali seraya mengelus-elus perutnya.
Senja telah tiba, langit sore yang indah menghiasi hamparan gugusan awan dan matahari akan tenggelam di ufuk barat yang menandakan hari akan berganti menjadi malam nan gelap. Aisha menatap senja dari dalam rumahnya melalui jendela kaca dengan hati yang pilu terbalut cinta dan rindu yang mendalam pada belahan jiwanya.
"Mas Faizan, aku rindu kamu. Semoga kamu di sana sehat selalu."
__ADS_1
🍁🍁🍁