Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 53 - Duka di Masa Lalu


__ADS_3

Ceklek...


Pintu kamar mandi pribadi CEO terbuka, menampilkan Faizan dengan senyum khasnya. Tampaknya lelaki ini sudah bisa meredam segala rindu dan amarah yang tengah bergejolak di hatinya akibat ulah tikus kecil yang berusaha memporak-porandakan rumah tangganya.


Derap langkah sol sepatu Faizan menuju kursinya terdengar cukup nyaring namun tak membuat pandangan seorang wanita berusia hampir lima puluh satu tahun ini beranjak dari pandangannya pada sebuah foto yang kini ia genggam.


Foto yang ia yakini bahwa kemungkinan wanita yang ada dalam gambar tersebut adalah putri kandungnya yang selama hampir tiga puluh tahun ia cari. Faizan yang semakin mendekat dibuat terkejut. Sebab kini foto sang istri tengah berada di genggaman Bu Jihan, mantan atasannya.


Beruntung foto-foto istrinya yang bersama lelaki lain sudah ia simpan rapi pada laci kerjanya yang terkunci rapat.


"Ehem, Bu Jihan."


"Bu Jihan," panggil Faizan sekali lagi.


"Eh, maaf Zan. Maaf sebelumnya jika saya lancang melihat foto yang ada di atas meja kerjamu. Kalau boleh Ibu tahu, wanita dalam foto ini siapa?" tanya Bu Jihan sedikit gugup sebab baru tersadar dari lamunannya dan kini Faizan tengah memergokinya memegang barang pribadinya.


Ia berusaha menetralkan nafasnya sejenak dan duduk kembali setelah Faizan menyuruhnya duduk.


"Oh, itu foto istri saya Bu. Namanya Aisha. Kenapa ya Bu?" tanya Faizan tetap sopan seraya memandang Bu Jihan cukup aneh.


"Apa dia punya orang tua atau yatim piatu sejak lahir, Zan?" tanya Bu Jihan kembali.


"Kedua orang tua istri saya sudah meninggal beberapa bulan lalu karena kecelakaan. Ada apa ya Bu kalau boleh saya tahu? Tumben Ibu bertanya seperti ini?" tanya Faizan kembali yang didera rasa penasaran.


Jihan menghela nafasnya sejenak jika harus mengungkit kisah masa lalu yang membuatnya menjadi janda di usia muda sekaligus kehilangan putri semata wayangnya.


Hatinya sedikit gamang untuk menceritakan duka dan kepedihannya di masa lalu. Namun mau tak mau dia harus menceritakan apa adanya pada Faizan. Ia berharap dengan berbagi cerita masa lalunya, bisa membuka jalan pencariannya menuju putri kandungnya semakin terbuka lebar.


Sejak menatap foto wanita yang ternyata istri Faizan, hatinya didera rasa yang membuncah dan rindu mendalam layaknya seorang ibu pada putrinya. Rasa yang telah lama mati kini tumbuh kembali dengan semangat hidup yang baru.


"Ceritakanlah Bu, saya siap mendengarnya. Bukankah Ibu sudah menganggap saya sebagai putra kandung Ibu sendiri," tutur Faizan dengan lembut.


Akhirnya cerita itu mengalir apa adanya dari bibir wanita yang memasuki usia senjanya namun kecantikannya tak lekang oleh waktu.


Flashback On,

__ADS_1


Jihan Sasmita menikah muda usai dirinya lulus sekolah menengah atas dengan Rudy Artanegara yang berbeda usia di atasnya lima tahun. Keduanya menikah atas dasar perjodohan kedua orang tua masing-masing yang telah bersahabat sejak lama.


Walaupun pernikahan yang berawal dari perjodohan, namun cinta pada pandangan pertama menimpa Rudy pada sosok Jihan yang disambut dengan baik dan dibalas cinta juga oleh Jihan Sasmita.


Setelah menikah, Jihan menyandang nama belakang keluarga suaminya yaitu keluarga Artanegara yang memang dikenal publik sebagai keluarga konglomerat. Rudy pun melanjutkan usaha keluarganya yang memiliki beberapa bisnis yang tengah melesat naik.


Sejak dipegang Rudy, bisnis keluarga Artanegara semakin maju hingga menduduki nomor satu di Asia maupun kawasan Eropa. Namun sebagai suami, Rudy tak membatasi kegiatan Jihan di luar rumah.


Akhirnya dengan ijin dari sang suami, Jihan tetap melanjutkan ke jenjang perkuliahan sambil merintis usaha butiknya. Sebab Jihan memang sudah lama bercita-cita sebagai seorang perancang busana.


Gayung bersambut dan dukungan penuh dari sang suami membuat usaha butik Jihan makin merangkak naik sehingga banyak dikenal publik. Beragam penghargaan yang diraihnya atas rancangan terbaiknya. Banyak pejabat teras maupun orang penting di negeri ini serta kalangan artis yang menjadi langganan tetap butik milik Jihan tersebut.


Kebahagiaan keluarga Rudy dan Jihan makin bertambah. Selain bisnis keduanya yang semakin maju, hadirnya malaikat kecil di tengah mereka menjadi pelengkap kebahagiaan keduanya. Kelahiran putri mereka yang bernama Almira Cahaya Artanegara sungguh membawa rona bahagia.


Namun tak lama setelah kelahiran Almira, terjadi sebuah musibah yang telah direncanakan oleh lawan bisnis Rudy Artanegara. Celaka yang merenggut semua kebahagiaan keluarganya hingga tak bersisa.


Saat itu usia Almira telah menginjak satu bulan. Mereka semua berlibur ke Danau Toba, Sumatera Utara. Sebab Rudy ingin mengabulkan permintaan sang istri yang ingin sekali berlibur ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Dikarenakan kesibukan keduanya sehingga jarang melakukan liburan bersama keluarga.


Kedua orang tua Jihan dan Rudy juga ikut dalam rombongan. Ada dua buah mobil yang membawa keluarga mereka. Satu mobil berisi Rudy, Jihan dan Almira. Sedangkan satu mobil lainnya yaitu kedua orang tua mereka. Setiap mobil ada supir dan satu anak buah Rudy untuk mengawal.


Karena jarak mobil pertama yang membawa kedua orang tua mereka dengan mobil kedua yang berisi keluarga inti Rudy cukup jauh, namun masih bisa terlihat. Rudy dan Jihan begitu syok saat melihat dari kejauhan truk tersebut mendorong mobil kedua orang tua mereka sehingga langsung masuk ke dalam jurang yang sangat dalam.


Rudy langsung memerintahkan supir dan anak buahnya yang berada di mobilnya untuk putar balik dan berusaha menerjang truk yang ada di belakang mobil mereka. Sebab Rudy berpikir jika mobil miliknya maju maka akan menerima nasib yang sama untuk didorong ke jurang.


Sebab di depan memang area jurang di tepi kanan dan kiri jalan. Sedangkan posisi mobil Rudy saat ini kanan dan kiri masih belum keluar dari area perkebunan dan hutan kecil. Supir Rudy langsung sigap melakukan apa yang diperintahkan sang atasan.


Sempat terjadi pergesekan cukup keras dengan truk tersebut untuk melakukan manuver penyerangan. Namun mobil Rudy akhirnya lolos juga walaupun sang supir dan anak buahnya yang duduk di bagian depan mengalami cidera yang cukup lumayan. Hal ini dikarenakan benturan keras dari truk tersebut yang berusaha menghalangi laju mobil Rudy.


Dari kejadian ini, Rudy sudah berpikir dengan cepat bahwa keluarganya tengah diincar oleh seseorang. Ia langsung menelepon pihak kepolisian untuk meminta bantuan dan sudah mengirim lokasinya berada. Sebelum telepon terputus sempat terdengar teriakan Jihan dan bayinya Almira yang menangis terus.


Keduanya terkejut mendengar suara tembakan cukup keras. Ternyata tiga ban mobil mereka ditembak sehingga otomatis mobil sudah tak dapat di jalankan.


Rudy pun mengkomando pada supir, anak buahnya dan juga Jihan untuk keluar mobil bersama-sama dalam hitungan ketiga. Akhirnya mereka semua keluar dan berlari menuju area perkebunan cokelat yang kondisinya sangat sepi. Sepertinya pegawai atau penjaga perkebunan sedang libur bekerja.


Tak lama terdengar suara dua tembakan terarah membuat supir dan anak buahnya yang memang berada di belakang seketika meregang nyawa. Suasana semakin mencekam membuat Jihan syok dan menangis pilu.

__ADS_1


"Awas sayang!" teriak Rudy membuat Jihan yang berada di depan sang suami pun menoleh.


"Dor... Dor... "


Dua tembakan melesat mengenai tubuh Rudy saat melindungi sang istri yang tengah menggendong Almira. Seketika tubuh kekar itu pun limbung dan terjatuh di tanah.


"Mas Rudy!" teriak Jihan.


Wanita muda ini begitu syok melihat sang suami bersimbah darah. Ia merayap menuju tempat sang suami dan membawanya ke belakang semak belukar.


"Mas ba_ngun, jangan tinggalin aku. Huhu..." tangis Jihan dengan suara terbata-bata begitu syok dengan seluruh kejadian yang menimpa keluarganya.


"Per_gi sejauh mungkin sayang. Selamatkan putri kita. Maaf_kan diriku yang tak bisa menjaga dan membahagiakan kalian. A_ku mencintaimu selalu Ji," ucap Rudy terbata-bata setelah itu nafas dan jantungnya berhenti berdetak.


Rudy Artanegara meninggal dunia untuk selama-lamanya menyisakan duka mendalam bagi seorang Jihan Sasmita.


"Mas... Mas Rudy. Hiks... hiks..." tangisan Jihan lirih dan sendu menyayat hati.


Jihan meletakkan jenazah suaminya di semak belukar dan menciumnya untuk terakhir kalinya. Lalu ia bergegas pergi memasuki lebih dalam area perkebunan untuk menghindari para penjahat tersebut.


Akhirnya Jihan memutuskan meninggalkan Almira di sebuah tong sampah yang berisi daun-daun kering di dalamnya lalu ia tutup bagian atasnya dengan beberapa daun dan ranting besar yang juga telah mengering.


Ia berlari ke arah lain untuk mengalihkan perhatian para penjahat tersebut dan tak lama terdengar suara sirine polisi. Hingga akhirnya dirinya berhasil diselamatkan dalam kondisi yang masih syok dan acak-acakan.


Ia pun teringat akan bayinya dan saat kembali ke area tong sampah untuk mengambilnya, ia begitu terkejut karena tak menemukan bayinya. Jihan menangis histeris berlarian ke sana kemari didampingi beberapa polisi wanita untuk mencari bayinya namun tidak dapat ditemukan juga.


Akibat syok bertubi-tubi yang diterima Jihan atas musibah yang menimpa keluarganya, ia pingsan di area perkebunan tersebut dan segera di larikan ke rumah sakit.


Dokter menyatakan Jihan koma. Tiga bulan akhirnya Jihan bangun dari komanya. Lawan bisnis suaminya yang melakukan rencana pembunuhan terhadap seluruh keluarganya berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.


Satu tahun lebih yang dibutuhan seorang Jihan untuk mampu bangkit menata hidupnya kembali setelah duka mendalam yang ia alami. Suami, putrinya, mertua dan kedua orang tuanya. Ia kehilangan semua orang yang ia cintai dalam sekejap mata.


"Binar bahagia itu meredup seiring kepergian orang-orang tercintanya."


Flashback Off

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2