
Jika dirunut lebih dalam, Faizan juga meyakini apa yang disampaikan oleh Lala, sahabat dekat Aisha, benar adanya. Sebab sejak Aisha menikah dengannya, dia sebagai suami belum pernah mengalami kosong absen menjamah tubuh istrinya akibat kedatangan tamu bulanan.
Dikarenakan sejak malam pertamanya dengan Aisha dan akhirnya segel itu terbuka untuk pertama kalinya hingga saat terakhir sebelum dirinya pergi ke Taiwan, Aisha memang belum pernah mendapatkan tamu bulanan. Lala pun menyampaikan pada Faizan tentang nama rumah sakit di mana dirinya bertemu dengan Aisha dan tanggal perkiraan mereka berjumpa.
Faizan pun akhirnya bercerita pada Lala bahwa Aisha pergi dari rumah. Namun ia belum menemukan istrinya itu dan jawaban tentang kebenaran alasan kepergiaan sang istri dari rumah. Bahkan berita kehamilan Aisha baru ia dengar dari Lala sendiri barusan.
Lala begitu terkejut mendengar bahwa sahabatnya pergi dari rumah. Padahal sebelumnya, ia tidak merasakan ada tanda-tanda Aisha akan pergi. Bahkan saat itu Aisha tampak sumringah dengan kehamilannya walaupun di dera rasa tak enak hati pada Faizan. Akibat kasus pemerkosaan dirinya yang diculik orang tak dikenal beberapa waktu lalu.
"Apa Mas Faizan tahu tentang Aisha yang diculik dan diperkosa?" tanya Lala sedikit gugup.
Sesungguhnya Lala tak ingin membuka hal ini pada Faizan tetapi ia yakin Faizan belum mengetahui dari Aisha. Sebagai sahabat ia tak ingin pernikahan Aisha dengan Faizan kandas hanya karena masalah pemerkosaan ini yang jelas-jelas bukan salah Aisha. Sehingga ia berniat membantu meluruskan agar tidak ada kesalahpahaman antara Faizan terhadap Aisha.
"Kamu tahu dari mana La?" tanya Faizan seraya menatap tajam Lala.
Faizan tak menduga bahwa Lala tahu akan kejadian asusila yang menimpa istrinya. Akhirnya mau tak mau Lala pun menceritakan bahwa Aisha curhat padanya tentang kejadian aneh sepulang dirinya dari rumah sakit yang berujung penculikan disertai pemerkosaan.
Lala mengatakan bahwa Aisha merasa dirinya sudah ternoda oleh lelaki lain disaat hamil buah hati suaminya. Bahkan Aisha sempat terpuruk dan menangis karena hal ini. Ia merasa malu pada sang suami. Hingga ponsel dan rekam medis kehamilannya raib entah ke mana.
__ADS_1
Yang berujung Lala pergi membelikan Aisha ponsel baru. Bahkan Lala berusaha menenangkan Aisha dan memberi nasehat pada sahabatnya itu untuk berkata jujur pada Faizan. Namun Lala juga tak ada firasat apapun jika setelah pertemuannya itu tak lama ternyata Aisha pergi dari rumah.
"Aku yakin Aisha enggak mungkin pergi meninggalkan Mas Faizan begitu saja hanya karena hal ini. Sebab saat aku menasehatinya, ia sudah ikhlas dengan apa yang terjadi. Dan akan berkata jujur saat nanti Mas Faizan pulang dari Taiwan. Pasti ada penyebab lain yang sangat krusial yang terjadi sehingga Aisha pergi dari rumah. Aku sahabatan dengan dia sudah lama Mas. Jadi aku sangat tahu watak Aisha. Rasanya kok aneh ya Mas," tutur Lala panjang lebar dan merasa janggal dengan kepergian sang sahabat dari rumah yang sangat mendadak.
"Sementara ini terima kasih sekali atas informasi yang kamu sampaikan hari ini, La. Jika kamu bertemu Aisha segera hubungi Mas ya La," pinta Faizan tulus.
"Baik, Mas. Kalau begitu aku mau pamit. Toh rujaknya sudah aku dapatkan. Aku mau pulang takut dicari ibuku," ucap Lala tersenyum seraya membawa dua bungkus rujak bebeg di tangannya.
"Iya La makasih banyak. Rujaknya biar Mas yang bayar. Hati-hati di jalan," ucap Faizan.
"Amin..." ucap Faizan seraya dalam hatinya memohon pada Tuhan agar dirinya segera dipertemukan dengan sang istri yang tengah mengandung jabang bayinya.
Selepas Faizan membayar rujak bebeg pada si bapak penjual, ia pun segera meluncur menuju gudang tua tempat si tikus kecil yang berada dalam genggaman anak buahnya.
"Lihat saja, jangan panggil aku Faizan jika tak berhasil membuatmu mati segan hidup pun tak mau. Dasar tikus kecil brengsek!" batin Faizan bergemuruh penuh amarah.
Saat Faizan dalam perjalanan menuju tempat si tikus kecil berada, di tempat lain yakni di kediaman utama keluarga Atmajaya seorang wanita paruh baya tengah mondar mandir gelisah. Ya, Mama Ida tengah resah dan cemas sebab lelaki yang biasa mengancam dan memeras dirinya kini seolah hilang bak ditelan bumi.
__ADS_1
"Aduh, Jordan ke mana sih? Sejak kemarin susah dihubungi. Katanya minta uang tutup mulut. Uangnya baru bisa cair hari ini. Eh, dia malah enggak jelas. Mana mobilku terpaksa aku jual karena dia. Awas saja kalau sampai mulutnya ember. Bisa runyam semua rencanaku," cicit Mama Ida dengan nada kesal dan hati dongkol.
Tidak tahu saja Mama Ida saat ini, bahwa Jordan tengah terikat dan mulutnya dibekap. Lelaki itu diletakkan di salah satu ruangan khusus di gudang kosong tersebut tepatnya di ruang bawah tanah akibat dibekuk oleh anak buah Faizan saat berusaha akan kabur.
Ceklek...
Pintu ruang bawah tanah pun terbuka. Derap langkah sol sepatu Faizan dan Agung yang berada di belakangnya bergema menuruni anak tangga menuju tempat si tikus kecil yang tengah duduk di kursi pesakitan. Ruangan tersebut lampu dari segala penjuru sudah dinyalakan oleh anak buahnya.
Sehingga ruangan yang tadi awalnya gelap gulita maka sekarang menjadi terang benderang. Namun aura kemarahan yang tengah membumbung tinggi di hati Faizan membuat suasana di area tersebut menjadi mencekam.
Saat langkah kaki Faizan makin dekat dengan lelaki yang berani mengusik kehidupan keluarganya itu, tiba-tiba ia berhenti. Membuat Agung yang ada di belakangnya berjengit kaget dan juga ikut berhenti secara otomatis.
Deg...
"Lelaki ini? Sepertinya aku familiar dengan wajahnya. Tapi di mana ya?" batin Faizan terkejut saat melihat wajah lelaki yang ia beri julukan si tikus kecil pengganggu.
🍁🍁🍁
__ADS_1