Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 24 - Trauma


__ADS_3

"Halo," ucap Faizan.


Akhirnya Faizan terpaksa mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya dan Aisha setia di samping suaminya. Sesekali mendengar samar-samar pembicaraan suaminya yang entah dengan siapa masih belum ia ketahui.


Faizan tengah fokus dengan apa yang disampaikan orang yang meneleponnya di seberang sana. Sebuah helaan nafas meluncur seiring teleponnya terputus tanda selesainya pembicaraan.


Raut wajah Faizan sedikit berubah membuat Aisha mengerutkan keningnya.


"Ada apa Mas?" tanya Aisha lembut seraya menyentuh pundak suaminya.


"Oh enggak apa-apa sayang. Cuma lagi kesal saja ganggu acara kita. Mereka enggak paham bener kalau kita lagi pengantin baruan. Maaf ya sayang," ujar Faizan tulus meminta maaf pada sang istri.


"Enggak apa-apa Mas. Mereka siapa Mas? Emangnya ada apa?" tanya Aisha penasaran.


"Sekretarisku si Agung yang telepon. Kan besok aku ke Bandung sama dia. Katanya Pak Ronald, rekan bisnisku yang akan kita temui besok di Bandung, mendadak memajukan jadwal meetingnya nanti malam jam delapan. Dikarenakan besok jam enam pagi Pak Ronald mendadak harus terbang ke Singapura ada urusan keluarga yang sangat penting di sana tidak bisa diganggu gugat," jelas Faizan secara jujur pada Aisha.


Deg...


Rasa itu...


Rasa itu kembali menghantui Aisha. Kejadian yang hampir sama persis kini seakan mendatanginya kembali.


Trauma mendalam kini tengah menggerogoti jiwa Aisha. Mimik wajahnya langsung berubah menjadi pucat pasi seiring genggaman tangannya pada sang suami semakin erat tanpa disadarinya.

__ADS_1


Membuat Faizan mengerutkan dahinya. Ia melihat istrinya mendadak dilanda kecemasan hebat.


"Sha, kenapa sayang? Kok pucat begitu muka kamu?" tanya Faizan penuh perhatian.


Tanpa basa basi sebuah pelukan yang cukup kencang dan erat menerjang tubuh Faizan. Hampir saja dirinya terhuyung ke belakang. Namun beruntung ia masih bisa menahan serangan mendadak dari istrinya itu.


"Hiks... hiks... Mas enggak boleh pergi. Enggak!" pekik Aisha cukup kencang seiring air matanya mengalir deras hingga membuat kaos yang dikenakan Faizan basah.


"Sayang, kamu kenapa? Kok nangis begini? Kan aku sudah janji akan buat kamu bahagia dengan pernikahan kita bukan malah membuatmu menangis," tanya Faizan ikut cemas seraya membalas dengan pelukan hangat pada tubuh sang istri.


Hening tak ada kata dan hanya tangisan Aisha yang masih menggema di kamar utama. Bibirnya kelu ingin menjawab pertanyaan suaminya itu. Akan tetapi dalam kondisi yang serba dilema.


Kecelakaan Handika di malam pengantin saat pernikahan pertamanya yang lalu meninggalkan sebuah trauma mendalam bagi seorang Aisha. Setelah Faizan menerima telepon dan menjelaskan, ia merasa deja vu.


Hatinya gamang berada di persimpangan jalan antara mengatakannya atau tidak. Ia tak tega membuka aib mendiang suaminya. Sebab ia teringat akan pesan Handika ketika masih berada di rumah sakit di Bogor saat malam pengantin mereka, bahwa rahasia tersebut harus Aisha jaga.


Jika pun akhirnya harus terbongkar biarlah karena kuasa Tuhan bukan lah dari bibirnya secara langsung.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan pada Mas Faizan? Tetapi aku juga tak ingin Mas Faizan pergi ke Bandung," batin Aisha tengah berkecamuk resah.


Akhirnya Aisha melepas pelukannya pada sang suami dan saat ia akan menghapus air matanya, Faizan lebih dahulu menyekanya.


"Sayang, kamu kenapa menangis begini? Apa aku punya salah? Katakanlah jangan dipendam sendirian karena aku bukan cenayang apalagi Tuhan yang tahu isi hati dan pikiran kamu," tutur Faizan lembut.

__ADS_1


"Maaf Mas, enggak apa-apa. Aku mau tidur dulu. Aku ngantuk," ucap Aisha lirih seraya dirinya langsung berbaring membelakangi sang suami dan air matanya masih setia menetes membuat bantalnya basah.


Faizan menghela nafas berat begitu sesak di dada melihat belahan jiwanya menangis tiba-tiba. Penyebabnya apa juga dirinya tidak tahu. Ia didera rasa bersalah pada istrinya.


Bahkan ia berpikir Aisha marah atau tengah merajuk sebab gagal pendakian cinta akibat gangguan telepon si Agung tadi. Namun ia merasakan kembali sepertinya bukan itu alasan yang sebenarnya.


Akhirnya Faizan menyusul berbaring dan memeluk istrinya dari belakang. Bahkan ia mengusap lembut rambut Aisha dan mengecup di beberapa bagian leher dan pundak sang istri.


Aisha semakin terisak kecil merasakan disayang dan dicintai serta diperlakukan lembut nan tulus oleh Faizan. Ia berusaha menggigit bibirnya agar tangisannya tidak mengeluarkan suara.


Namun karena Faizan sangat dekat mendekap erat pada tubuhnya tentu saja suaminya itu tahu bahwa sang istri tengah menangis kembali.


"Sayang," ucap Faizan sendu.


Hatinya teriris bak sembilu melihat istrinya begitu dilanda kesedihan mendalam yang tak kasat mata. Dirinya masih meraba penyebabnya namun ia tak mau memaksa istrinya untuk buka suara.


Ia hanya ingin memberikan pelukan hangat dan sandaran yang dibutuhkan istrinya saat ini. Berharap sang istri kembali ceria seperti sedia kala dan melepas segala beban yang bercokol di hatinya.


"Mas, jika aku melarangmu pergi Ke Bandung apa boleh?" tanya Aisha lirih.


Deg...


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2