
"Kenapa sayang?" tanya Faizan hati-hati.
"Aku... aku... A_ku enggak mau ditinggal sendirian, Mas. Sepi kalau enggak sama Mas Faizan," jawab Aisha sedikit tersipu malu.
Kalimat tersebut tanpa sengaja keluar dari bibirnya. Tanpa ia rencanakan. Sebab pikirannya tengah buntu entah alasan apa yang cocok agar Faizan percaya padanya.
Justru karena kalimat tersebut meluncur dari bibir istrinya mendadak Faizan yang berada di belakang punggung Aisha, lelaki itu mengulum senyum semakin mempererat pelukannya pada tubuh sang istri.
"Kalau sayang ikut, aku takut nanti di sana sayang kesepian karena aku tinggal meeting. Dan yang pasti aku takut kamu nanti dilirik sama lelaki lain yang lebih dewasa daripada aku. Bisa mati cemburu nanti aku," ucap Faizan dengan nada sedikit posesif dan merajuk.
Aisha yang mendengar penuturan suaminya malah terkekeh dan hatinya berbunga-bunga indah. Seakan kupu-kupu cinta tengah beterbangan di relung hatinya saat ini membawa sebongkah besar cinta seorang Faizan Atmajaya untuknya.
Lalu ia membalikkan tubuhnya. Setelah sebelumnya ia seka air mata di wajahnya. Kemudian dengan berani, Aisha menciumi seluruh wajah suaminya mulai dari kening perlahan turun ke mata, pipi, hidung dan terakhir mengecup sekilas bibir Faizan. Kedua tangan Aisha mengelus lembut pipi dan rambut sang suami.
Faizan pun merasa terharu sebab ia diperlakukan lembut dan merasakan Aisha mulai membuka hati untuk dirinya. Namun sudah ada cinta atau belum di hati istrinya itu, dirinya belum tahu.
"Mas adalah pria segalanya untukku saat ini dan hingga menutup mata. Aku sudah sangat bersyukur, Mas mau menerima diriku yang tak sempurna ini secara apa adanya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengkhianati pernikahan kita. Terlebih cinta yang begitu tulus untukku tercurah datang dari pria luar biasa sepertimu. Hal itu merupakan anugerah terbaik dan terindah dalam hidupku. Mas cemburu jika ada pria yang mendekatiku, maka begitu juga sama halnya denganku yang akan sangat cemburu melihat wanita yang lebih cantik dan lebih muda dariku yang menyukai suamiku ini," ucap Aisha serius dan tulus.
__ADS_1
"Benarkah istriku ini mulai cemburu?" tanya Faizan sengaja menggoda yang langsung membuat Aisha mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja. Apalagi sama si Della itu, huh!" ucap Aisha dengan nada kesal sangat kentara cemburunya membuat Faizan terkekeh penuh bahagia sebab dirinya merasa mulai dicintai oleh Aisha.
"Ini bibirnya kenapa maju sampai panjang begini seperti tol Jakarta-Surabaya saja. Sini aku redakan cemburunya," ucap Faizan dengan senyum terselubung.
"Dengan cara apa Mas?" tanya Aisha polosnya.
Tanpa basa basi Faizan pun melabuhkan kecupan singkat di bibir istrinya yang sebelumnya mengerucut panjang mirip bibir iteuk tengah merajuk.
"Sudah reda belum cemburunya Nyonya Faizan?" tanya Faizan seraya tersenyum bahagia.
"Ehm, sedikit. Pokoknya Mas enggak boleh deket-deket sama wanita yang bernama Della itu atau Della-Della yang lain," ucap Aisha tanpa sadar bahwa jiwa posesifnya muncul seiring cinta yang tumbuh di relung sanubarinya.
"Siap grak, Nyonya Faizan. Kalau ada Della atau wanita semacam itu mendekatiku tolong segera disapu yang bersih agar jauh-jauh dari aku ya," pinta Faizan penuh cinta dan pengharapan.
Aisha berucap, "Siap suamiku cintaku, laksanakan."
__ADS_1
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Faizan yang sedikit terkejut.
"Eh, yang mana Mas?" tanya Aisha yang belum paham maksud suaminya.
"Itu tadi kamu jawab ke aku siap terus apa kata terakhirnya?" tanya Faizan kembali.
"Suamiku," jawab Aisha pura-pura tak tahu.
Aisha sengaja menggoda Faizan setelah ia paham dengan apa yang ditanyakan suaminya itu.
"Bukan itu. Yang kata terakhir setelah suamiku," ucap Faizan sedikit gemas.
Tanpa ba-bi-bu Aisha langsung memeluk suaminya dan berbisik mesra di telinga Faizan.
"Cintaku, I love you."
🍁🍁🍁
__ADS_1